Jilid.10
Berulang-ulang Lui-lotoa
mengiakan sambil menerima penyerahan pedang
tadi, girangnya tidak
kepalang seperti orang putus lotre.
“Trang”, lelaki itu
menjatuhkan sepotong perak di atas meja dan berseru
kepada pelayan, “Ini rekening
para sahabat ini semuanya diperhitungkan
padaku, sisanya buat kau!”
Lalu tanpa menoleh lagi ia terus meninggalkan
kedai arak itu.
Hanya si pemuda berwajah
pucat tadi senantiasa mengikuti gerak-gerik lelaki
rudin itu, ia tertawa
memandangi Lui-lotoa dan kawan-kawannya, lalu ikut
meninggalkan kedai itu.
Tampaknya Lui-lotoa
kegirangan hingga lupa daratan karena menganggap
berhasil membeli benda pusaka
dengan harga murah. Kawannya, yaitu Ciloji,
dengan tertawa mengumpaknya.
“Wah, dengan pedang pusaka,
selanjutnya Lui-lotoa
benar-benar seperti harimau tumbuh sayap dan dapat
malang melintang di dunia
Kangouw.”
“Haha, Ci-loji memang suka
memuji,” ujar Lui-lotoa sambil mengakak senang.
“Kukira ini pun berkat doa
restu saudara-saudara …. Haha, mungkin ini sudah
saatnya bintangku mulai
terang, kalau tidak masakah secara kebetulan begini
aku mendapatkan benda pusaka
ini.”
“Dengan pedang pusaka ini,
mungkin Yan Lam-thian juga akan keder
terhadap Lui-lotoa kita,
bahkan Congpiauthau kita juga pasti akan memberi
penghargaan lain,” ujar
Ci-loji.
Muka Lui-lotoa yang berseri-seri
membuat lubang buriknya seakan-akan
tambah mekar. Sambil memegang
“pedang pusaka” yang baru dibelinya itu
dia mondar-mandir kian
kemari, duduk tidak tenang, berdiri pun tidak
tenteram.
Pada saat itulah tiba-tiba
terdengar seorang menegur, “He, urusan apa yang
membuat kalian bergembira ria
begini?”
Tertampak seorang pendek
kecil dengan jubah bersulam melangkah masuk
kedai arak itu. Meski
tubuhnya kecil, tapi sorot matanya tajam, gerak-geriknya
tangkas dan berwibawa
sehingga sekali pandang orang akan segera
merasakan bahwa orang itu
sehari-harinya pasti biasa memimpin dan
memberi perintah.
“Congpiauthau ….” demikian
beramai-ramai Ci-loji dan lain-lain memberi
hormat kepada orang pendek
kecil itu, lalu mereka pun menceritakan apa
yang baru saja terjadi
tentang jual beli pedang pusaka itu.
“Hah! Betulkah terjadi
begitu?” ujar Congpiauthau itu dengan tertawa, “Wah,
jika begitu Lui-lotoa harus
diberi selamat!”
Dengan tertawa bangga
Lui-lotoa menjawab, “O, terima kasih Cong … Simheng,
ini hanya kejadian secara
kebetulan saja,” Dasar manusia rendah, baru
sedikit mendapat “angin”
lantas kepala besar, sebutan “Congpiauthau”
kepada pemimpinnya mendadak
berganti jadi sebutan “Sim-heng” (saudara
Sim) saja.
Namun Sim-congpiauthau itu
agaknya tidak menaruh perhatian atas
perubahan sikap Lui-lotoa
itu, dengan tertawa dia berkata pula, “Terus terang
senjata pusaka setajam itu
aku pun belum pernah melihatnya. Kalau tidak
keberatan, apakah boleh
Lui-heng mendemonstrasikannya untuk menambah
pengalamanku.”
“Haha, boleh saja,” Lui-lotoa
bergelak tertawa. “Boleh saja Sim-heng
mencobanya dan segera akan
terbukti.”
“Coba pinjam pedangmu,
Ci-heng,” kata Sim-congpiauthau kepada Ci-loji dan
setelah menyingsing lengan
baju, dengan tersenyum ia berkata, “Awas Luiheng!”
Habis itu pedang pinjamannya
terus menabas.
Agaknya Lui-lotoa sengaja
berlagak menirukan lelaki miskin tadi, dengan
tangan kiri memegang cawan
arak dan tangan kanan memegang “pedang
pusaka” untuk menangkis
secara acuh.
Maka terdengarlah suara
“trang, krek, trang, bluk”, benar juga kutungan
pedang telah jatuh ke lantai,
tapi bukan pedang Sim-congpiauthau yang patah
melainkan “pedang pusaka”
Lui-lotoa.
Suara-suara
“trang-krek-trang-bluk” yang terjadi dimulai dengan beradunya
kedua pedang, lalu jatuhnya
kutungan pedang, suara ketiga karena pecah
berantakannya cawan arak
Lui-lotoa dan suara gedebukan terakhir itu adalah
karena Lui-lotoa jatuh
terduduk saking kagetnya.
Keruan muka Lui-lotoa pucat
pasi seperti mayat, bahkan kawan-kawannya
juga melongo kesima seperti
patung.
“Hm, masakah begini macamnya
pedang pusaka?” dengus Sim-congpiauthau
sambil melemparkan pedangnya
kepada Ci-loji.
“Tapi … tapi tadi jelas …
jelas ….” demikian dengan menyengir Lui-lotoa
berusaha menerangkan.
“Yang jelas kau telah
tertipu,” jengek pula Sim-congpiauthau.
Mendadak Lui-lotoa sadar,
serentak ia melompat bangun dan mengumpat,
“Maknya dirodok! Mana orang
tadi? Kurang ajar ….”
“Hus! Jangan sembrono!” cepat
Sim-congpiauthau membentaknya.
Karena itu Lui-lotoa tidak
jadi mengumpat lebih lanjut, jawabnya dengan sikap
kikuk, “Ada … ada pesan apa,
Congpiauthau.”
Kini dia telah menyebut
Congpiauthau lagi kepada pimpinannya, namun Simcongpiauthau
tetap anggap tidak tahu saja,
ia bertanya dengan dingin,
“Bagaimana macamnya orang
tadi?”
“Seorang lelaki rudin, mungkin
orang gelandangan, cuma perawakannya
tinggi besar,” tutur
Lui-lotoa.
Sim-congpiauthau termenung
sejenak, mendadak air mukanya berubah dan
bertanya pula, “Apakah kedua
alis orang itu sangat tebal dan tulang pipinya
menonjol, matanya setengah
terpejam seperti orang selalu mengantuk saja.”
“Ha, betul. Congpiauthau
kenal dia?”
Sim-congpiauthau memandang
sekejap kepada Lui-lotoa, lalu memandang
Ci-loji pula, tiba-tiba ia
menengadah dan menghela napas panjang, lalu
berkata, “Sungguh sayang,
kalian sudah sekian lama ikut padaku, kalian
ternyata bermata tapi tidak
bisa melihat alias buta melek.”
Lui-lotoa hanya munduk-munduk
saja, sekarang dia tidak berani membantah
sepatah kata pun.
“Memangnya apakah kalian tahu
siapa gerangan lelaki tadi?” tanya Simcongpiauthau
pula.
Semua terdiam dan saling
pandang dengan bingung. Akhirnya mereka tanya
berbareng, “Siapa dia?”
Dengan sekata demi sekata
Sim-congpiauthau menjawab, “Dia tak lain tak
bukan ialah si pedang sakti
Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Yaitu orang yang
khusus ingin kutemui di sini
sekarang.”
Belum habis sang Congpiauthau
menjelaskan, “bluk”, kembali Lui-lotoa jatuh
terduduk dengan mulut
ternganga.
*****
Setelah meninggalkan kedai
arak tadi dengan diikuti si pemuda muka pucat,
lelaki rudin tadi terus
menyusuri jalan batu satu-satunya itu. Setiba di ujung
jalan sana, si pemuda cepat
menyusulnya dan menyapa dengan suara
tertahan, “Yan-toaya, bukan?”
Lelaki itu memang betul Yan
Lam-thian adanya. Tanpa menoleh ia menjawab,
“Apakah kau ini suruhan
Kang-jite?”
“Benar,” jawab pemuda pucat
itu, “hamba Kang Khim, kacung pribadi Kangjiya.”
“Mengapa baru sekarang kau
tiba di sini?” mendadak Yan Lam-thian menoleh
dan menegur dengan bengis.
Sorot matanya yang tajam bagai berkelebatnya
kilat di malam gelap itu
membuat pemuda yang bernama Kang Khim itu
bergidik.
“Hamba … hamba khawatir
dikuntit musuh, terpaksa … terpaksa menempuh
perjalanan waktu malam,”
tutur Kang Khim dengan munduk-munduk. “Apalagi
… apalagi kepandaian hamba
teramat rendah sehingga tidak mampu berjalan
cepat.”
Sikap Yan Lam-thian berubah
rada tenang, sorot matanya berubah guram
pula, katanya, “Kongcu kalian
mengirim berita padaku dan minta kutunggu dia
di sini tanpa menjelaskan
sebab musababnya. Tapi kuyakin pasti menyangkut
satu urusan mahapenting dan
gawat, sebenarnya apa persoalannya?”
“Entah sebab apa mendadak
Kongcu memulangkan semua kawan hamba,
hanya hamba seorang yang
disuruh tinggal, kemudian hamba diperintahkan
ke sini menemui Yan-toaya
untuk memohon Yan-toaya memapak Kongcu
kami di jalan lama itu, konon
ada urusan penting akan dibicarakan
berhadapan nanti. Melihat
gelagatnya, agaknya Kongcu kami ingin … ingin
menghindari pencarian musuh
dan sebagainya.”
“O, masakah benar begitu?”
Yan Lam-thian tampak tergerak perasaannya.
“Mengapa tidak dia katakan padaku
sebelumnya? Ai, tindak-tanduk Kang-jite
selalu ceroboh, padahal
biarpun musuh tangguh bagaimana pun juga
masakah kami bersaudara perlu
takut padanya?!”
“Ucapan Yan-toaya memang
tepat,” ujar Kang Khim.
“Sudah berapa lama Kongcu
kalian berangkat dari rumah?” tanya Yan Lamthian.
“Jika tiada halangan apa-apa,
saat ini seyogianya sudah berada di tengah
perjalanan kemari.”
“Ai, mengapa tidak lebih dini
kau datang ke sini” ujar Yan Lam-thian dengan
membanting kaki. “Apabila
terjadi ….”
Pada saat itulah tiba-tiba
ada seorang berseru, “Yan-tayhiap … Yan-tayhiap
….” tertampaklah beberapa
orang berlari datang, seorang paling depan
tampak gesit dan tangkas,
itulah dia Sim-congpiauthau yang kecil-kecil cabai
rawit itu.
Yan Lam-thian berkerut
kening, katanya dengan tak acuh, “Apakah kau ini
Sim Gin-hong Congpiauthau
(pemimpin umum) dari Wi-wan, Tin-wan dan
Leng-wan-piaukiok?”
“Benar, itulah hamba adanya,”
jawab Sim Gin-hong sambil memberi hormat.
“Maaf, Yan-tayhiap, tadi para
kawan kami ternyata buta semua dan tidak
mengenali Yan-tayhiap ….”
“Hahaha!” Yan Lam-thian
tertawa, “Tadi kudengar mereka bicara tentang
penyair Li Thay-pek dan ilmu
pedang segala, aku menjadi geli dan dongkol
pula. Karena itu aku sengaja
mengakali beberapa peser duit mereka agar
mereka kapok dan kelak tidak
sembarangan membual.”
“Ya, ya, mereka itu memang
pantas mampus,” berulang-ulang Sim Gin-hong
mengiakan.
Mendadak Yan Lam-thian
berhenti tertawa dan bertanya dengan sikap
kereng, “Apakah kedatanganmu
ingin menemui aku?”
“Benar, kedatangan Wanpwe
(hamba yang lebih muda) khusus ingin
menemui Yan-tayhiap,” jawab
Sim Gin-hong.
“Dari mana kau tahu aku
berada di sini?” tanya Yan Lam-thian bengis.
“Sebenarnya Wanpwe sedang
menghadapi jalan buntu, syukur mendapat
petunjuk seorang Locianpwe
(tokoh angkatan tua), katanya dalam dua hari ini
Yan-tayhiap pasti akan
menunggu seseorang di sini, makanya Wanpwe cepat
menyusul ke sini.”
“O, rupanya gara-gara si
setan pemabukan itu,” ujar Yan Lam-thian dengan
tersenyum. Waktu ia
berpaling, ia menjadi geli ketika dilihatnya Lui-lotoa
berdiri di sana dengan lesu
sambil menjinjing sepotong pedang kutung
karatan tadi, dengan tertawa
ia lantas menegurnya, “Kukira kau pasti
penasaran atas kejadian tadi,
bukan?”
“Sesungguhnya Wanpwe … pedang
itu kubeli ….”
Belum habis Lui-lotoa
menyatakan rasa penyesalannya, segera Sim Gin-hong
membentaknya, “Lebih baik
tutup mulutmu dan jangan bikin malu. Masakah
kau tidak tahu bahwa tanpa
memegang pedang juga Yan-tayhiap lebih lihai
daripada menggunakan pedang
karatan itu. Biarpun besi tua atau benda apa
pun, asalkan dipegang
Yan-tayhiap pasti juga berubah menjadi senjata yang
ampuh dan mahatajam.”
“Haha, sedemikian tinggi kau
mengumpak diriku, tentu kau ingin minta tolong
sesuatu padaku,” ucap Yan
Lam-thian dengan tertawa.
“Harap Yan-tayhiap maklum,”
jawab Sim Gin-hong dengan hormat, “apa pun
juga Yan-tayhiap pasti tahu.
Soalnya Wanpwe baru menerima tawaran suatu
partai barang yang sukar
dinilai harganya, sebenarnya transaksi ini sangat
dirahasiakan dan akan kami
kawal secara diam-diam. Tapi entah mengapa,
tahu-tahu berita ini dapat
didengar oleh kawanan Cap-ji-she-shio. Secara
blak-blakan mereka mengirim
kartu nama dan menyatakan akan merampas
barang kawalan kami itu.
Tentu saja kami menjadi khawatir, sebab kami
cukup tahu diri dan merasa bukan
tandingan kawanan bandit Cap-ji-she-shio
itu dan dengan sendirinya
pula kami tidak berani melanjutkan pengawalan
tersebut ….”
“Jadi maksudmu hendak minta
kubantu Piaukiok (perusahaan pengawalan)
kalian, begitu?” tanya Yan
Lam-thian.
“Ah, mana kuberani,” jawab
Sin Gin-hong takut-takut “Hanya saja Wanpwe
mendapat tahu bahwa
Yan-tayhiap bakal berada di sini, maka sengaja kujanji
bertemu dengan kawanan
Cap-ji-she-shio di sekitar sini, asalkan Locianpwe
sudi tampil sejenak dan
memberi pesan beberapa patah kata, maka Wanpwe
yakin biarpun Cap-ji-she-shio
mempunyai nyali sebesar gajah juga takkan
berani mengusik barang
kawalan kami itu.”
“Jika kau tidak mampu
mengawal barang orang, mengapa kau terima saja
tawaran orang?” tanya Yan
Lam-thian.
“Ya, Wanpwe memang pantas
mampus,” jawab Sim Gin-hong dengan
menunduk, “mohon Yan-tayhiap
suka ….”
“Kawanan Cap-ji-she-shio
sudah lama terkenal jahat, jika jejak mereka tidak
tersembunyi tentu sudah lama
kutumpas mereka, sebenarnya urusan ini aku
tidak ingin ikut campur ….“
“Terima kasih lebih dulu,”
tukas Sim Gin-hong.
“Jangan terburu berterima
kasih dulu,” ujar Yan Lam-thian. “walaupun aku
ingin membantumu, namun saat
ini aku sendiri ada urusan penting yang perlu
kuselesaikan dan waktu sudah
mendesak.” Habis berkata segera ia hendak
melangkah pergi.
“Mohon Yan-tayhiap tunggu
sejenak,” cepat Sim Gin-hong berseru sambil
memberi tanda, segera Ci-loji
mengaturkan sebuah peti, ketika peti itu dibuka,
isinya ternyata emas murni
yang berkemilauan. Dengan hormat Sim Gin-hong
lantas menambahkan pula,
“Sudah lama Yan-tayhiap terkenal bertangan
terbuka, sebab itu kami
mengaturkan ….”
“Hahahaha!” Yan Lam-thian
terbahak-bahak. Mendadak ia berkata dengan
ketus, “Sim Gin-hong, biarpun
sekarang kau menumpuk emas murni setinggi
gunung di depanku juga takkan
menghalangi waktu pertemuanku dengan
Kang-jiteku.” Habis ini ia
menepuk bahu Kang Khim dan membentak, “Nah,
aku berangkat lebih dulu, kau
harus segera menyusul ke sana.”
Lenyap suara ucapannya itu,
tahu-tahu orangnya juga sudah melayang jauh
ke sana. Seketika wajah Sim
Gin-hong menjadi pucat karena usahanya
gagal.
Ci-loji mengomel sendirian,
“Orang ini sungguh aneh, beberapa tahil perak
dia sengaja menipu, tapi
ketika disodorkan emas murni satu peti penuh dia
justru menolak …
*****
Cuaca remang-remang. Di
tengah cuaca senja sunyi itu, berkelebatnya
bayangan Yan Lam-thian,
hampir sukar diikuti oleh pandangan orang awam.
Di jalanan lama yang penuh
semak rumput belaka itu sunyi senyap, bulan
sabit sudah menongol di ufuk
timur, cahaya remang-remang ini semakin
menambah suramnya suasana
yang lelap ini.
Bayangan Yan Lam-thian masih
terus meluncur ke depan dan tiada sesuatu
yang dilihatnya, ia bergumam
sendiri, “Aneh, Kang-jite sudah dalam
perjalanan, mengapa tak
terdengar ….”
Pada saat itulah mendadak dua
titik hitam berkelebat melayang ke sana,
remang-remang kelihatan
seekor burung walet sedang dikejar seekor alapalap.
Tampaknya burung walet itu
sudah kepayahan, terbangnya rendah dan
jelas sukar lolos dari
cengkeraman alap-alap itu.
Yan Lam-thian merasa
penasaran, bentaknya, “Kurang ajar, kau pun tiada
ubahnya seperti manusia jahat
yang suka menindas yang kecil ….” serentak
tubuhnya terus meleset ke
depan laksana anak panah cepatnya dan
menyampuk alap-alap ganas
itu. Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yan Lamthian
menubruk tempat kosong,
sebaliknya lantas terdengar suara mencuit si
burung walet, nyata walet itu
telah tercengkeram oleh cakar alap-alap.
“Kurang ajar! Masakah kau
mampu lolos dari tanganku lagi!” bentak Yan
Lam-thian dengan gusar sambil
menubruk maju pula, sekali hantam dari jauh,
kontan burung alap-alap yang
sudah mulai melayang ke udara itu terjungkal
ke bawah oleh angin pukulan
yang dahsyat.
Sekali meraup Yan Lam-thian
tangkap tubuh alap-alap yang terjungkal ke
bawah itu, ia berhasil menyelamatkan
burung walet yang kecil itu dari
cengkeraman elang alap-alap.
Namun walet itu kecil lagi lemah dan sudah
terluka parah sehingga tidak
sanggup terbang lagi.
“Walet sayang, kau takkan
mati, jangan khawatir,” gumam Yan Lam-thian
sambil duduk di tanah rumput,
ia memberi obat luka pada burung walet itu.
Obat luka dari pendekar besar
itu sudah tentu sangat mujarab. Dengan
perlahan Yan Lam-thian
mengelus-elus walet itu, sejenak kemudian barulah
ia lepaskan burung itu dan
terbanglah pergi dengan bebas. Sementara itu
burung alap-alap tadi sudah
diremas mati oleh Yan Lam-thian.
“Hahaha!” Yan Lam-thian
tertawa puas. “Beribu tahil emas murni tak dapat
menunda waktuku, tapi untuk
menolong jiwa seekor walet kecil ternyata dapat
menahan perjalananku.”
Setelah tertawa puas, kembali
ia melayang ke depan dengan Ginkangnya
yang tinggi.
Tidak lama kemudian,
sekonyong-konyong terdengar berkumandangnya
suara tangisan bayi dari
kejauhan.
“He, jangan-jangan Kang-jite
sudah mempunyai anak?” gumam Yan Lamthian
dengan girang. Dia melesat
terlebih kencang menuju ke arah suara
tangisan bayi itu.
Maka tidak lama kemudian
dapatlah dia melihat keadaan yang mengerikan,
mayat yang bergelimpangan
serta jenazah Kang Hong yang berlumuran
darah.
Yan Lam-thian menjerit terus
menubruk ke sana, ia mendekap mayat Kang
Hong dengan perasaan remuk
redam.
*****
Seperginya Yan Lam-thian tadi
disusul oleh berangkatnya Kang Khim, Sim
Gin-hong ternyata, masih
berdiri mematung di tempatnya.
Dengan rasa khawatir Ci-loji
coba bertanya kepada pemimpinnya itu,
“Menurut kartu kawanan
Cap-ji-she-shio, bilakah mereka akan menemui
Congpiauthau?”
“Senja hari ini,” jawab Sim
Gin-hong.
“Jadi petang nanti?” Ci-loji
menegas dengan gentar. “Di … di mana?”
“Di jalan depan sana!”
“Berapa … berapa orang di
antara mereka yang akan datang?”
“Yang menandatangani kartu
mereka adalah Hek-bian, Su-sin, Hian-ko dan
Ging-khek.”
“Jadi … jadi si ayam, babi,
kera dan anjing akan tampil sekaligus?”
“Wah, Congpiauthau, kukira …
kukira lebih baik kita pergi saja, kita hanya
beberapa orang ini, mungkin …
mungkin ….”
“Hm, jika perlu kalian boleh
saja pergi,” dengus Sim Gin-hong.
“Tapi engkau, Congpiauthau
….”
“Pemilik barang telah
mempercayakan harta bendanya padaku, mana boleh
aku mengelakkan kewajiban,
kalian ….” Sim Gin-hong tidak melanjutkan,
tanpa menoleh ia terus
melangkah ke depan sana.
“Congpiauthau ….” seru
Ci-loji sambil memburu, tapi baru dua tiga langkah
sudah lantas berhenti.
“Bagaimana? Kau tidak ikut?”
tanya Lui-lotoa.
“Lui-lotoa,” jawab Ci-loji
dengan suara tertahan. “Biarkan dia berjuang sendiri
sesuai tugasnya, buat apa
kita ikut mengantarkan nyawa?”
Lui-lotoa menjadi gusar,
dampratnya, “Keparat, binatang kau … dasar
pengecut, tidak nanti aku Lui
Siau-hou juga penakut seperti dirimu!”
“Baik, baik aku memang
pengecut, silakan engkau menjadi pahlawan,” ujar
Ci-loji sambil menyeringai.
“Keparat, baru sekarang
kukenal benar-benar kalian ….” damprat Lui-lotoa
atau Lui Siau-hou, sambil
memaki ia pun menyusul ke arah sang
Congpiauthau, Sim Gin-hong.
Sim Gin-hong sedang melangkah
ke depan dengan perlahan, menuju ke
ladang belukar yang sunyi di
tengah remang maghrib. Langkahnya yang gesit
enteng kini berubah menjadi
berat seakan-akan kakinya diganduli benda
beratus-ratus kati.
Ketika mendengar suara
tindakan orang dari belakang, tanpa menoleh ia
lantas bertanya, “Apakah ini
Lui Siau-hou?”
“Benar, Congpiauthau,” jawab
Lui-lotoa.
“Memang sudah kuduga hanya
kau seorang saja yang akan menyusul
kemari.”
“Dengan ucapan Congpiauthau
ini, biarpun mati aku pun rela. Meski Lui-Siauhou
adalah orang bodoh, tapi
sekali-kali bukan manusia pengecut dan
binatang yang tidak tahu
budi. Cuma Congpiauthau engkau … engkau sekali
ini ….”
.jpg)






0 komentar:
Posting Komentar