Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.10


Jilid.10
Berulang-ulang Lui-lotoa mengiakan sambil menerima penyerahan pedang
tadi, girangnya tidak kepalang seperti orang putus lotre.
“Trang”, lelaki itu menjatuhkan sepotong perak di atas meja dan berseru
kepada pelayan, “Ini rekening para sahabat ini semuanya diperhitungkan
padaku, sisanya buat kau!” Lalu tanpa menoleh lagi ia terus meninggalkan
kedai arak itu.
Hanya si pemuda berwajah pucat tadi senantiasa mengikuti gerak-gerik lelaki
rudin itu, ia tertawa memandangi Lui-lotoa dan kawan-kawannya, lalu ikut
meninggalkan kedai itu.
Tampaknya Lui-lotoa kegirangan hingga lupa daratan karena menganggap
berhasil membeli benda pusaka dengan harga murah. Kawannya, yaitu Ciloji,
dengan tertawa mengumpaknya. “Wah, dengan pedang pusaka,
selanjutnya Lui-lotoa benar-benar seperti harimau tumbuh sayap dan dapat
malang melintang di dunia Kangouw.”
“Haha, Ci-loji memang suka memuji,” ujar Lui-lotoa sambil mengakak senang.
“Kukira ini pun berkat doa restu saudara-saudara …. Haha, mungkin ini sudah
saatnya bintangku mulai terang, kalau tidak masakah secara kebetulan begini
aku mendapatkan benda pusaka ini.”
“Dengan pedang pusaka ini, mungkin Yan Lam-thian juga akan keder
terhadap Lui-lotoa kita, bahkan Congpiauthau kita juga pasti akan memberi
penghargaan lain,” ujar Ci-loji.
Muka Lui-lotoa yang berseri-seri membuat lubang buriknya seakan-akan
tambah mekar. Sambil memegang “pedang pusaka” yang baru dibelinya itu
dia mondar-mandir kian kemari, duduk tidak tenang, berdiri pun tidak
tenteram.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang menegur, “He, urusan apa yang
membuat kalian bergembira ria begini?”
Tertampak seorang pendek kecil dengan jubah bersulam melangkah masuk
kedai arak itu. Meski tubuhnya kecil, tapi sorot matanya tajam, gerak-geriknya
tangkas dan berwibawa sehingga sekali pandang orang akan segera
merasakan bahwa orang itu sehari-harinya pasti biasa memimpin dan
memberi perintah.
“Congpiauthau ….” demikian beramai-ramai Ci-loji dan lain-lain memberi
hormat kepada orang pendek kecil itu, lalu mereka pun menceritakan apa
yang baru saja terjadi tentang jual beli pedang pusaka itu.
“Hah! Betulkah terjadi begitu?” ujar Congpiauthau itu dengan tertawa, “Wah,
jika begitu Lui-lotoa harus diberi selamat!”
Dengan tertawa bangga Lui-lotoa menjawab, “O, terima kasih Cong … Simheng,
ini hanya kejadian secara kebetulan saja,” Dasar manusia rendah, baru
sedikit mendapat “angin” lantas kepala besar, sebutan “Congpiauthau”
kepada pemimpinnya mendadak berganti jadi sebutan “Sim-heng” (saudara
Sim) saja.
Namun Sim-congpiauthau itu agaknya tidak menaruh perhatian atas
perubahan sikap Lui-lotoa itu, dengan tertawa dia berkata pula, “Terus terang
senjata pusaka setajam itu aku pun belum pernah melihatnya. Kalau tidak
keberatan, apakah boleh Lui-heng mendemonstrasikannya untuk menambah
pengalamanku.”
“Haha, boleh saja,” Lui-lotoa bergelak tertawa. “Boleh saja Sim-heng
mencobanya dan segera akan terbukti.”
“Coba pinjam pedangmu, Ci-heng,” kata Sim-congpiauthau kepada Ci-loji dan
setelah menyingsing lengan baju, dengan tersenyum ia berkata, “Awas Luiheng!”
Habis itu pedang pinjamannya terus menabas.
Agaknya Lui-lotoa sengaja berlagak menirukan lelaki miskin tadi, dengan
tangan kiri memegang cawan arak dan tangan kanan memegang “pedang
pusaka” untuk menangkis secara acuh.
Maka terdengarlah suara “trang, krek, trang, bluk”, benar juga kutungan
pedang telah jatuh ke lantai, tapi bukan pedang Sim-congpiauthau yang patah
melainkan “pedang pusaka” Lui-lotoa.
Suara-suara “trang-krek-trang-bluk” yang terjadi dimulai dengan beradunya
kedua pedang, lalu jatuhnya kutungan pedang, suara ketiga karena pecah
berantakannya cawan arak Lui-lotoa dan suara gedebukan terakhir itu adalah
karena Lui-lotoa jatuh terduduk saking kagetnya.
Keruan muka Lui-lotoa pucat pasi seperti mayat, bahkan kawan-kawannya
juga melongo kesima seperti patung.
“Hm, masakah begini macamnya pedang pusaka?” dengus Sim-congpiauthau
sambil melemparkan pedangnya kepada Ci-loji.
“Tapi … tapi tadi jelas … jelas ….” demikian dengan menyengir Lui-lotoa
berusaha menerangkan.
“Yang jelas kau telah tertipu,” jengek pula Sim-congpiauthau.
Mendadak Lui-lotoa sadar, serentak ia melompat bangun dan mengumpat,
“Maknya dirodok! Mana orang tadi? Kurang ajar ….”
“Hus! Jangan sembrono!” cepat Sim-congpiauthau membentaknya.
Karena itu Lui-lotoa tidak jadi mengumpat lebih lanjut, jawabnya dengan sikap
kikuk, “Ada … ada pesan apa, Congpiauthau.”
Kini dia telah menyebut Congpiauthau lagi kepada pimpinannya, namun Simcongpiauthau
tetap anggap tidak tahu saja, ia bertanya dengan dingin,
“Bagaimana macamnya orang tadi?”
“Seorang lelaki rudin, mungkin orang gelandangan, cuma perawakannya
tinggi besar,” tutur Lui-lotoa.
Sim-congpiauthau termenung sejenak, mendadak air mukanya berubah dan
bertanya pula, “Apakah kedua alis orang itu sangat tebal dan tulang pipinya
menonjol, matanya setengah terpejam seperti orang selalu mengantuk saja.”
“Ha, betul. Congpiauthau kenal dia?”
Sim-congpiauthau memandang sekejap kepada Lui-lotoa, lalu memandang
Ci-loji pula, tiba-tiba ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu
berkata, “Sungguh sayang, kalian sudah sekian lama ikut padaku, kalian
ternyata bermata tapi tidak bisa melihat alias buta melek.”
Lui-lotoa hanya munduk-munduk saja, sekarang dia tidak berani membantah
sepatah kata pun.
“Memangnya apakah kalian tahu siapa gerangan lelaki tadi?” tanya Simcongpiauthau
pula.
Semua terdiam dan saling pandang dengan bingung. Akhirnya mereka tanya
berbareng, “Siapa dia?”
Dengan sekata demi sekata Sim-congpiauthau menjawab, “Dia tak lain tak
bukan ialah si pedang sakti Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Yaitu orang yang
khusus ingin kutemui di sini sekarang.”
Belum habis sang Congpiauthau menjelaskan, “bluk”, kembali Lui-lotoa jatuh
terduduk dengan mulut ternganga.
*****
Setelah meninggalkan kedai arak tadi dengan diikuti si pemuda muka pucat,
lelaki rudin tadi terus menyusuri jalan batu satu-satunya itu. Setiba di ujung
jalan sana, si pemuda cepat menyusulnya dan menyapa dengan suara
tertahan, “Yan-toaya, bukan?”
Lelaki itu memang betul Yan Lam-thian adanya. Tanpa menoleh ia menjawab,
“Apakah kau ini suruhan Kang-jite?”
“Benar,” jawab pemuda pucat itu, “hamba Kang Khim, kacung pribadi Kangjiya.”
“Mengapa baru sekarang kau tiba di sini?” mendadak Yan Lam-thian menoleh
dan menegur dengan bengis. Sorot matanya yang tajam bagai berkelebatnya
kilat di malam gelap itu membuat pemuda yang bernama Kang Khim itu
bergidik.
“Hamba … hamba khawatir dikuntit musuh, terpaksa … terpaksa menempuh
perjalanan waktu malam,” tutur Kang Khim dengan munduk-munduk. “Apalagi
… apalagi kepandaian hamba teramat rendah sehingga tidak mampu berjalan
cepat.”
Sikap Yan Lam-thian berubah rada tenang, sorot matanya berubah guram
pula, katanya, “Kongcu kalian mengirim berita padaku dan minta kutunggu dia
di sini tanpa menjelaskan sebab musababnya. Tapi kuyakin pasti menyangkut
satu urusan mahapenting dan gawat, sebenarnya apa persoalannya?”
“Entah sebab apa mendadak Kongcu memulangkan semua kawan hamba,
hanya hamba seorang yang disuruh tinggal, kemudian hamba diperintahkan
ke sini menemui Yan-toaya untuk memohon Yan-toaya memapak Kongcu
kami di jalan lama itu, konon ada urusan penting akan dibicarakan
berhadapan nanti. Melihat gelagatnya, agaknya Kongcu kami ingin … ingin
menghindari pencarian musuh dan sebagainya.”
“O, masakah benar begitu?” Yan Lam-thian tampak tergerak perasaannya.
“Mengapa tidak dia katakan padaku sebelumnya? Ai, tindak-tanduk Kang-jite
selalu ceroboh, padahal biarpun musuh tangguh bagaimana pun juga
masakah kami bersaudara perlu takut padanya?!”
“Ucapan Yan-toaya memang tepat,” ujar Kang Khim.
“Sudah berapa lama Kongcu kalian berangkat dari rumah?” tanya Yan Lamthian.
“Jika tiada halangan apa-apa, saat ini seyogianya sudah berada di tengah
perjalanan kemari.”
“Ai, mengapa tidak lebih dini kau datang ke sini” ujar Yan Lam-thian dengan
membanting kaki. “Apabila terjadi ….”
Pada saat itulah tiba-tiba ada seorang berseru, “Yan-tayhiap … Yan-tayhiap
….” tertampaklah beberapa orang berlari datang, seorang paling depan
tampak gesit dan tangkas, itulah dia Sim-congpiauthau yang kecil-kecil cabai
rawit itu.
Yan Lam-thian berkerut kening, katanya dengan tak acuh, “Apakah kau ini
Sim Gin-hong Congpiauthau (pemimpin umum) dari Wi-wan, Tin-wan dan
Leng-wan-piaukiok?”
“Benar, itulah hamba adanya,” jawab Sim Gin-hong sambil memberi hormat.
“Maaf, Yan-tayhiap, tadi para kawan kami ternyata buta semua dan tidak
mengenali Yan-tayhiap ….”
“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa, “Tadi kudengar mereka bicara tentang
penyair Li Thay-pek dan ilmu pedang segala, aku menjadi geli dan dongkol
pula. Karena itu aku sengaja mengakali beberapa peser duit mereka agar
mereka kapok dan kelak tidak sembarangan membual.”
“Ya, ya, mereka itu memang pantas mampus,” berulang-ulang Sim Gin-hong
mengiakan.
Mendadak Yan Lam-thian berhenti tertawa dan bertanya dengan sikap
kereng, “Apakah kedatanganmu ingin menemui aku?”
“Benar, kedatangan Wanpwe (hamba yang lebih muda) khusus ingin
menemui Yan-tayhiap,” jawab Sim Gin-hong.
“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” tanya Yan Lam-thian bengis.
“Sebenarnya Wanpwe sedang menghadapi jalan buntu, syukur mendapat
petunjuk seorang Locianpwe (tokoh angkatan tua), katanya dalam dua hari ini
Yan-tayhiap pasti akan menunggu seseorang di sini, makanya Wanpwe cepat
menyusul ke sini.”
“O, rupanya gara-gara si setan pemabukan itu,” ujar Yan Lam-thian dengan
tersenyum. Waktu ia berpaling, ia menjadi geli ketika dilihatnya Lui-lotoa
berdiri di sana dengan lesu sambil menjinjing sepotong pedang kutung
karatan tadi, dengan tertawa ia lantas menegurnya, “Kukira kau pasti
penasaran atas kejadian tadi, bukan?”
“Sesungguhnya Wanpwe … pedang itu kubeli ….”
Belum habis Lui-lotoa menyatakan rasa penyesalannya, segera Sim Gin-hong
membentaknya, “Lebih baik tutup mulutmu dan jangan bikin malu. Masakah
kau tidak tahu bahwa tanpa memegang pedang juga Yan-tayhiap lebih lihai
daripada menggunakan pedang karatan itu. Biarpun besi tua atau benda apa
pun, asalkan dipegang Yan-tayhiap pasti juga berubah menjadi senjata yang
ampuh dan mahatajam.”
“Haha, sedemikian tinggi kau mengumpak diriku, tentu kau ingin minta tolong
sesuatu padaku,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa.
“Harap Yan-tayhiap maklum,” jawab Sim Gin-hong dengan hormat, “apa pun
juga Yan-tayhiap pasti tahu. Soalnya Wanpwe baru menerima tawaran suatu
partai barang yang sukar dinilai harganya, sebenarnya transaksi ini sangat
dirahasiakan dan akan kami kawal secara diam-diam. Tapi entah mengapa,
tahu-tahu berita ini dapat didengar oleh kawanan Cap-ji-she-shio. Secara
blak-blakan mereka mengirim kartu nama dan menyatakan akan merampas
barang kawalan kami itu. Tentu saja kami menjadi khawatir, sebab kami
cukup tahu diri dan merasa bukan tandingan kawanan bandit Cap-ji-she-shio
itu dan dengan sendirinya pula kami tidak berani melanjutkan pengawalan
tersebut ….”
“Jadi maksudmu hendak minta kubantu Piaukiok (perusahaan pengawalan)
kalian, begitu?” tanya Yan Lam-thian.
“Ah, mana kuberani,” jawab Sin Gin-hong takut-takut “Hanya saja Wanpwe
mendapat tahu bahwa Yan-tayhiap bakal berada di sini, maka sengaja kujanji
bertemu dengan kawanan Cap-ji-she-shio di sekitar sini, asalkan Locianpwe
sudi tampil sejenak dan memberi pesan beberapa patah kata, maka Wanpwe
yakin biarpun Cap-ji-she-shio mempunyai nyali sebesar gajah juga takkan
berani mengusik barang kawalan kami itu.”
“Jika kau tidak mampu mengawal barang orang, mengapa kau terima saja
tawaran orang?” tanya Yan Lam-thian.
“Ya, Wanpwe memang pantas mampus,” jawab Sim Gin-hong dengan
menunduk, “mohon Yan-tayhiap suka ….”
“Kawanan Cap-ji-she-shio sudah lama terkenal jahat, jika jejak mereka tidak
tersembunyi tentu sudah lama kutumpas mereka, sebenarnya urusan ini aku
tidak ingin ikut campur ….“
“Terima kasih lebih dulu,” tukas Sim Gin-hong.
“Jangan terburu berterima kasih dulu,” ujar Yan Lam-thian. “walaupun aku
ingin membantumu, namun saat ini aku sendiri ada urusan penting yang perlu
kuselesaikan dan waktu sudah mendesak.” Habis berkata segera ia hendak
melangkah pergi.
“Mohon Yan-tayhiap tunggu sejenak,” cepat Sim Gin-hong berseru sambil
memberi tanda, segera Ci-loji mengaturkan sebuah peti, ketika peti itu dibuka,
isinya ternyata emas murni yang berkemilauan. Dengan hormat Sim Gin-hong
lantas menambahkan pula, “Sudah lama Yan-tayhiap terkenal bertangan
terbuka, sebab itu kami mengaturkan ….”
“Hahahaha!” Yan Lam-thian terbahak-bahak. Mendadak ia berkata dengan
ketus, “Sim Gin-hong, biarpun sekarang kau menumpuk emas murni setinggi
gunung di depanku juga takkan menghalangi waktu pertemuanku dengan
Kang-jiteku.” Habis ini ia menepuk bahu Kang Khim dan membentak, “Nah,
aku berangkat lebih dulu, kau harus segera menyusul ke sana.”
Lenyap suara ucapannya itu, tahu-tahu orangnya juga sudah melayang jauh
ke sana. Seketika wajah Sim Gin-hong menjadi pucat karena usahanya
gagal.
Ci-loji mengomel sendirian, “Orang ini sungguh aneh, beberapa tahil perak
dia sengaja menipu, tapi ketika disodorkan emas murni satu peti penuh dia
justru menolak …
*****
Cuaca remang-remang. Di tengah cuaca senja sunyi itu, berkelebatnya
bayangan Yan Lam-thian, hampir sukar diikuti oleh pandangan orang awam.
Di jalanan lama yang penuh semak rumput belaka itu sunyi senyap, bulan
sabit sudah menongol di ufuk timur, cahaya remang-remang ini semakin
menambah suramnya suasana yang lelap ini.
Bayangan Yan Lam-thian masih terus meluncur ke depan dan tiada sesuatu
yang dilihatnya, ia bergumam sendiri, “Aneh, Kang-jite sudah dalam
perjalanan, mengapa tak terdengar ….”
Pada saat itulah mendadak dua titik hitam berkelebat melayang ke sana,
remang-remang kelihatan seekor burung walet sedang dikejar seekor alapalap.
Tampaknya burung walet itu sudah kepayahan, terbangnya rendah dan
jelas sukar lolos dari cengkeraman alap-alap itu.
Yan Lam-thian merasa penasaran, bentaknya, “Kurang ajar, kau pun tiada
ubahnya seperti manusia jahat yang suka menindas yang kecil ….” serentak
tubuhnya terus meleset ke depan laksana anak panah cepatnya dan
menyampuk alap-alap ganas itu. Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yan Lamthian
menubruk tempat kosong, sebaliknya lantas terdengar suara mencuit si
burung walet, nyata walet itu telah tercengkeram oleh cakar alap-alap.
“Kurang ajar! Masakah kau mampu lolos dari tanganku lagi!” bentak Yan
Lam-thian dengan gusar sambil menubruk maju pula, sekali hantam dari jauh,
kontan burung alap-alap yang sudah mulai melayang ke udara itu terjungkal
ke bawah oleh angin pukulan yang dahsyat.
Sekali meraup Yan Lam-thian tangkap tubuh alap-alap yang terjungkal ke
bawah itu, ia berhasil menyelamatkan burung walet yang kecil itu dari
cengkeraman elang alap-alap. Namun walet itu kecil lagi lemah dan sudah
terluka parah sehingga tidak sanggup terbang lagi.
“Walet sayang, kau takkan mati, jangan khawatir,” gumam Yan Lam-thian
sambil duduk di tanah rumput, ia memberi obat luka pada burung walet itu.
Obat luka dari pendekar besar itu sudah tentu sangat mujarab. Dengan
perlahan Yan Lam-thian mengelus-elus walet itu, sejenak kemudian barulah
ia lepaskan burung itu dan terbanglah pergi dengan bebas. Sementara itu
burung alap-alap tadi sudah diremas mati oleh Yan Lam-thian.
“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa puas. “Beribu tahil emas murni tak dapat
menunda waktuku, tapi untuk menolong jiwa seekor walet kecil ternyata dapat
menahan perjalananku.”
Setelah tertawa puas, kembali ia melayang ke depan dengan Ginkangnya
yang tinggi.
Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong terdengar berkumandangnya
suara tangisan bayi dari kejauhan.
“He, jangan-jangan Kang-jite sudah mempunyai anak?” gumam Yan Lamthian
dengan girang. Dia melesat terlebih kencang menuju ke arah suara
tangisan bayi itu.
Maka tidak lama kemudian dapatlah dia melihat keadaan yang mengerikan,
mayat yang bergelimpangan serta jenazah Kang Hong yang berlumuran
darah.
Yan Lam-thian menjerit terus menubruk ke sana, ia mendekap mayat Kang
Hong dengan perasaan remuk redam.
*****
Seperginya Yan Lam-thian tadi disusul oleh berangkatnya Kang Khim, Sim
Gin-hong ternyata, masih berdiri mematung di tempatnya.
Dengan rasa khawatir Ci-loji coba bertanya kepada pemimpinnya itu,
“Menurut kartu kawanan Cap-ji-she-shio, bilakah mereka akan menemui
Congpiauthau?”
“Senja hari ini,” jawab Sim Gin-hong.
“Jadi petang nanti?” Ci-loji menegas dengan gentar. “Di … di mana?”
“Di jalan depan sana!”
“Berapa … berapa orang di antara mereka yang akan datang?”
“Yang menandatangani kartu mereka adalah Hek-bian, Su-sin, Hian-ko dan
Ging-khek.”
“Jadi … jadi si ayam, babi, kera dan anjing akan tampil sekaligus?”
“Wah, Congpiauthau, kukira … kukira lebih baik kita pergi saja, kita hanya
beberapa orang ini, mungkin … mungkin ….”
“Hm, jika perlu kalian boleh saja pergi,” dengus Sim Gin-hong.
“Tapi engkau, Congpiauthau ….”
“Pemilik barang telah mempercayakan harta bendanya padaku, mana boleh
aku mengelakkan kewajiban, kalian ….” Sim Gin-hong tidak melanjutkan,
tanpa menoleh ia terus melangkah ke depan sana.
“Congpiauthau ….” seru Ci-loji sambil memburu, tapi baru dua tiga langkah
sudah lantas berhenti.
“Bagaimana? Kau tidak ikut?” tanya Lui-lotoa.
“Lui-lotoa,” jawab Ci-loji dengan suara tertahan. “Biarkan dia berjuang sendiri
sesuai tugasnya, buat apa kita ikut mengantarkan nyawa?”
Lui-lotoa menjadi gusar, dampratnya, “Keparat, binatang kau … dasar
pengecut, tidak nanti aku Lui Siau-hou juga penakut seperti dirimu!”
“Baik, baik aku memang pengecut, silakan engkau menjadi pahlawan,” ujar
Ci-loji sambil menyeringai.
“Keparat, baru sekarang kukenal benar-benar kalian ….” damprat Lui-lotoa
atau Lui Siau-hou, sambil memaki ia pun menyusul ke arah sang
Congpiauthau, Sim Gin-hong.
Sim Gin-hong sedang melangkah ke depan dengan perlahan, menuju ke
ladang belukar yang sunyi di tengah remang maghrib. Langkahnya yang gesit
enteng kini berubah menjadi berat seakan-akan kakinya diganduli benda
beratus-ratus kati.
Ketika mendengar suara tindakan orang dari belakang, tanpa menoleh ia
lantas bertanya, “Apakah ini Lui Siau-hou?”
“Benar, Congpiauthau,” jawab Lui-lotoa.
“Memang sudah kuduga hanya kau seorang saja yang akan menyusul
kemari.”
“Dengan ucapan Congpiauthau ini, biarpun mati aku pun rela. Meski Lui-Siauhou
adalah orang bodoh, tapi sekali-kali bukan manusia pengecut dan
binatang yang tidak tahu budi. Cuma Congpiauthau engkau … engkau sekali
ini ….”
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com