Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.07


Jilid.07
Padahal selain begundalnya serta kedua orang yang sedang sekarat di tanah
itu tiada terlihat bayangan seorang pun. Tapi mengapa goloknya yang
tergembleng dari baja murni itu bisa patah tanpa sebab?
“Apa-apaan ini?” tanya si jengger dengan penasaran.
“Sialan! Mungkin ada setan!” ujar si baju kuning. Cepat ia melompat maju,
golok buntungnya segera membacok si bayi.
Tak terduga kembali terdengar “krek”, golok yang sudah buntung itu patah
menjadi dua pula. Padahal disaksikan oleh beberapa pasang mata, namun
tiada seorang pun mengetahui cara bagaimana golok itu dipatahkan.
Pucat air muka si baju kuning, katanya dengan suara gemetar, “Setan, benarbenar
ada setan!”
Hek-bian-kun berpikir sejenak, tiba-tiba berkata, “Biar kucoba!”
Ia jemput golok yang ditinggalkan Kang Hong tadi dan mendekati kereta,
dengan menyeringai terus membacok, bacokan yang keras dan lebih cepat.
Tapi baru saja goloknya bergerak tahu-tahu pergelangan tangannya tergetar,
meski goloknya tidak patah, tapi tergumpil dan jatuh.
“Memang benar ada serangan gelap orang!” ujar si jengger dengan waswas.
Kini Hek-biang-kun tidak sanggup tertawa lagi, katanya dengan keder, “Kita
tidak dapat melihat senjata rahasianya, bentuknya tentu sangat lembut, orang
ini mampu mematahkan golok dengan sambitan senjata rahasia lembut …
wah, betapa hebat gerak tangannya dan betapa lihai Lwekangnya.”
“Di dunia ini mana ada orang selihai ini?” ujar si baju kuning “Wah, jangan
jangan … jangan-jangan dia ….” tanpa terasa ia bergidik dan tidak sanggup
melanjutkan.
Kang Hong yang sedang sekarat pun melongo kaget, gumamnya, “Ah, dia
(perempuan) sudah datang … pasti dia yang datang ….”
“Dia? Dia siapa?” tanya Hek-biang-kun. “Apakah … apakah Yan Lam-thian?”
“Yan Lam-thian?” tiba-tiba tukas suara seorang. “Hm, Yan Lam-thian terhitung
kutu busuk macam apa?”
Nada suara itu sedemikian merdu, lincah dan kekanak-kanakan pula.
Sungguh mengejutkan di tempat sunyi dan jauh dari penduduk ini mendadak
terdengar suara demikian.
Tanpa menengadah juga Kang Hong dan istrinya tahu siapa yang datang itu.
Seketika air muka mereka berubah pucat. Bahkan Hek-bian-kun dan
begundalnya juga kaget dan cepat menoleh. Ternyata di tengah remangremang
senja sunyi itu entah sejak kapan sudah berdiri di situ sesosok
bayangan tubuh wanita yang ramping, padahal mereka tergolong jagoan
kelas tinggi, namun sama sekali tidak mengetahui bilakah datangnya wanita
itu.
Kalau didengar dari suaranya orang tentu menyangka pembicara ini adalah
anak dara yang cantik lagi kekanak-kanakan. Tapi yang berhadapan
sekarang ternyata adalah seorang wanita yang sedikitnya berusia likuran,
pakai baju bersulam model putri istana, gaun panjang menyentuh tanah,
rambutnya terurai hingga bahu, senyumnya yang manis dengan kerlingan
matanya yang hidup itu penuh mengandung kecerdasan yang sukar
dilukiskan dan juga sifat kekanak-kanakannya yang sepantasnya tidak dimiliki
wanita seusia dia.
Siapa pun juga, asal memandang sekejap saja padanya akan segera
memaklumi dia pasti seorang berwatak yang sangat ruwet sehingga jangan
harap akan dapat menyelami jalan pikirannya. Tapi barang siapa yang telah
memandangnya sekejap, tentu pula akan terpesona pada kecantikannya
yang jarang ada bandingannya serta melahirkan rasa kasihan yang
mengibakan.
Ternyata wanita yang mahacantik itu justru dilahirkan dalam keadaan cacat
badaniah, cacat jasmani, lengan baju dan gaunnya yang panjang itu tidak
dapat menyelubungi cacat pada tangan dan kaki kirinya itu.
Setelah tahu jelas siapa wanita ini, meski tetap mengunjuk rasa jeri dan
hormat, tapi rasa kaget dan gelisah Hek-bian-kun tadi sudah banyak
berkurang, segera ia memberi hormat dan menyapa, “Apakah Ji-kiongcu
(putri kedua) dari Ih-hoa-kiong?”
“O, kau kenal aku?” jawab si cantik berpakaian istana itu.
“Siapa di dunia ini yang tidak kenal akan kebesaran nama Lian-sing Kiongcu,”
ujar Hek-bian-kun dengan menyengir.
“Manis juga mulutmu, pintar mengumpak,” kata si cantik alias Lian-sing
Kiongcu. “Tampaknya kau toh tidak takut padaku.”
Lekas-lekas Hek-bian-kun munduk-munduk dan menjawab, “Ah, hamba …
hamba ….”
Dengan tertawa Lian-sing-Kiongcu berkata, “Sudah sebanyak ini kau berbuat
kejahatan dan ternyata tidak takut padaku, sungguh ini suatu hal aneh.
Apakah kau tidak tahu bahwa segera akan kucabut nyawa kalian?”
Air muka Hek-bian-kun berubah pucat, tapi sedapatnya ia bersikap tenang
dan menanggapi, “Ah, Kiongcu suka bergurau.”
“Bergurau?” Lian-sing Kiongcu terkikik. “Kau telah menganiaya dayangku,
kalau kubiarkan kau mati begitu saja sudah murah bagimu, masak kau
sangka aku bergurau denganmu?”
Tanpa pikir Hek-bian-kun menjawab, “Tapi, tapi ini atas … atas perintah Kiaugoat
Kiongcu ….”
Belum habis ucapannya, “plak-plok”, berturut-turut ia kena ditempeleng
beberapa kali, mirip benar seperti dia menempeleng Kang Hong tadi, tapi
tempelengan sekarang jauh lebih keras, kontan mulutnya penuh darah dan
gigi pun rontok sebagian.
“Hm, masakah nama Ciciku boleh sembarangan kau sebut?” jengek Lian-sing
Kiongcu dengan kereng, dia tetap berdiri di tempatnya tadi seperti tak pernah
bergeser sedikit pun.
Si jengger ayam dan kawan-kawannya pucat dan ketakutan setengah mati.
Dengan suara gemetar si jengger bermaksud memperkuat keterangan
kawannya, ia berkata, “Me … memang betul Kiau ….”
Belum lengkap ia menyebut nama Kiau-goat Kiongcu, tahu-tahu ia pun kena
ditempeleng belasan kali sehingga tubuhnya yang kecil itu sampai mencelat.
“Aneh,” kata Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “tampaknya kalian tidak
percaya jika kuhendak mencabut nyawa kalian? … ah ….” Di tengah keluhan
menyesal itu sekonyong-konyong ia mengitari si baju kuning yang bertubuh
jangkung itu satu kali, orang hanya melihat bayangan berkelebat dan entah
cara bagaimana turun tangannya, tahu-tahu si baju kuning sudah roboh
terkapar tanpa bersuara.
Salah seorang ekor ayam berbaju warna-warni belorok coba menjenguk
kawannya itu, mendadak ia menjerit kaget, “Dia … dia sudah mati!”
“Nah, sekarang kalian mau percaya tidak?” ujar Lian-sing Kiongcu tertawa.
Si belorok tadi menjerit parau, “Engk … engkau kejam benar!”
“Hm, mati seorang saja kenapa mesti kaget dan heran?” ujar Lian-sing
Kiongcu tertawa. “Memangnya orang yang pernah kalian bunuh belum cukup
banyak? Kalau kalian mati sekarang kukira cukup setimpal!”
Rupanya mereka pikir daripada mati konyol akan lebih baik melawan
sebisanya saja. Mendadak sorot mata si jengger ayam menjadi beringas, ia
memberi tanda, bersama tiga pasang cakar ayam serentak menerjang ke
arah Lian-sing Kiongcu.
Terdengarlah suara “trang-tring” diselingi jerit mengerikan berturut-turut, di
tengah-tengah berkelebatnya bayangan sang putri yang lemah gemulai, tiga
orang berbaju belorok sudah roboh dua, sisa seorang lagi cepat melompat
mundur dan tangannya sudah kosong, ia berdiri melongo mematung. Cara
bagaimana lawan membinasakan kawan-kawannya dan cara bagaimana
menghindarkan serangan mereka serta cara bagaimana merampas senjata
mereka, semuanya tak diketahuinya sama sekali, dalam sekejap tadi ia
seperti baru bermimpi buruk saja tanpa menyadari apa yang terjadi.
Ketika Lian-sing Kiongcu mengebaskan lengan bajunya, terdengarlah suara
gemerinting, beberapa celurit bentuk taji tajam ayam itu jatuh berserakan di
tanah, hanya sebilah celurit masih dipegangnya. Setelah dipandangnya
sekejap ia tertawa dan berkata, “Eh, kiranya inilah cakar ayamnya. Entah
bagaimana rasanya?”
“Kletak”, mendadak mulutnya yang mungil itu mengertak celurit itu dan

senjata buatan dari baja itu seketika tergigit patah mentah-mentah.




sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar