Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.06


Jilid.06
Kang Hong menggerung kalap dan menerjang pula, tapi karena cemasnya,
permainan goloknya menjadi kacau, serentak senjata musuh yang beraneka
ragam itu menghujani tubuhnya, pundak, dada, punggung, seketika terluka
dan mengucurkan darah.
“Hati-hati, kakak Hong!” Dengan suara gemetar si perempuan berpesan pula.
“Hehe, kakak Hong-mu segera akan berubah menjadi setan?” ejek Hek-biankun
dengan tertawa.
Dengan berlumuran darah Kang Hong berteriak kalap, “Biarpun menjadi
setan takkan kuampuni kalian !”
Suara teriakan kalap bercampur dengan suara gembira dan jeritan ngeri
diseling pula tangisan bayi. Suasana yang menyayat hati itu sekalipun
manusia berhati baja juga pasti akan luluh.
Darah sudah memenuhi muka dan tubuh Kang Hong, keadaannya sudah
payah. Mendadak perempuan dalam kereta berteriak histeris, “Biar kuadu
jiwa denganmu!” Mendadak ia meninggalkan bayinya terus menubruk ke arah
Hek-bian-kun, sepuluh jarinya terus mencengkeram leher lawan.
Akan tetapi sekali tangkis segera perempuan itu ditolak balik ke dalam kereta.
Dengan terkekeh Hek-bian-kun berkata, “Hehehe, manisku, ke mana
perginya kelihaianmu tadi?… Hehehe, perempuan, perempuan yang harus
dikasihani, sebab apakah kalian harus melahirkan anak ….”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan itu telah
merangkulnya dengan nekat, mulutnya terus menggigit tenggorokan lawan.
Keruan Hek-bian-kun mengerang kesakitan dan darah pun mengucur. Itulah
darah yang jahat, darah berbau busuk, tapi darah yang berbau anyir itu
membuat si perempuan merasa puas, puas karena berhasil membalas sakit
hatinya.
Saking sakitnya Hek-bian-kun terus menonjok dengan kepalan dan kontan
tubuh perempuan itu mencelat, menumbuk kereta dan jatuh terkapar tak
sanggup bangun lagi. Walaupun begitu bagaimana rasa darah musuhnya
sudah berhasil dicicipinya.
“Kakak Hong,” dengan suara lemah ia berseru dengan terputus-putus, “Lekas
larilah … lekas, jangan … jangan menghiraukan kami. Asalkan aku sudah
mati, kedua kakak beradik Kiongcu tentu takkan … takkan membuat susah
padamu ….”
“Tidak, engkau takkan mati, adindaku!” teriak Kang Hong.
Ia berusaha menerjang maju lagi, ia tidak ambil pusing akan beraneka
macam senjata musuh yang menghujani tubuhnya itu. Tubuhnya sudah
terkoyak-koyak, darah daging berhamburan.
Tapi dia masih terus berusaha menerjang maju. Namun sebelum tiba di
depan sang istri ia sudah jatuh terguling.
Perempuan muda itu menjerit dan merangkak ke sini, Kang Hong juga
berusaha merangkak ke sana. Tiada sesuatu yang mereka harapkan lagi
kecuali mati bersama menjadi satu.
Akhirnya tangan mereka saling bergenggam, keduanya tersenyum bahagia.
Akan tetapi mendadak sebelah kaki Hek-bian-kun lantas menginjak dengan
kuat sehingga dua buah tangan terinjak hancur.
“Kau … kau keji amat!” teriak perempuan itu dengan histeris.
“Hehehe, baru sekarang kau tahu kekejianku!” Hek-bian-kun menyeringai.
“Akan kuberikan se … segalanya padamu,” ucap Kang Hong dengan kalap,
“yang kuharap hanya biarkanlah kami mati menjadi satu.”
“Huh, sudah terlambat baru sekarang kau berkata demikian,” ujar Hek-biankun
dengan tertawa. “Hehe, kalian tentunya sangat gembira ketika tadi kalian
menipu dan menempelengku. Sekarang akan kusaksikan kalian mati dengan
perlahan, takkan kubiarkan kalian mati menjadi satu.”
“Sebab … sebab apa?” tanya si perempuan. “Kami tiada … tiada permusuhan
apa pun dengan kalian.”
“Baiklah kukatakan padamu,” tutur Hek-biankun. “Soalnya aku sudah
menyanggupi permintaan seseorang, dia minta aku bertindak jangan sampai
membiarkan kalian mati bersama.”
“Siapa … siapakah dia?” tanya Kang Hong.
“Hehehe, boleh kau renungkan sendiri saja,” ujar Hek-bian-kun dengan
tertawa.
Pada saat itulah si baju kuning, dan si dada ayam, mendadak melompat maju
dengan wajah yang kaku tanpa emosi itu. “Babat rumput harus sampai akarakarnya,
anak haram mereka juga tidak boleh dibiarkan hidup.”
“Ya, benar!” tukas Hek-bian-kun.
Tanpa bicara lagi si baju kuning lantas angkat golok terus membacok jabang
bayi yang tertinggal di dalam kereta.
Kang Hong meraung kalap, tapi istrinya hanya melenggong, bersuara pun
tidak sanggup. Keduanya sama-sama tak bisa berkutik.
Syukurlah pada detik yang menentukan itu, sewaktu golok itu menyambar ke
bawah, tiba-tiba terdengar suara “krek” sekali, tahu-tahu golok itu patah
menjadi dua.
Tidak kepalang kaget si baju kuning, cepat ia melompat mundur dan

membentak, “Sia … siapa?”



sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar