Jilid.04
Sebenarnya sepasang mata
perempuan ini juga tidak begitu jeli, hidungnya
juga tidak terlalu mancung,
mulutnya juga tidak sangat mungil, namun
gabungan dari mata hidung
mulut dengan raut mukanya itu sedemikian
serasinya sehingga setiap
orang yang memandangnya pasti ingin
memandang untuk seterusnya,
terutama sorot matanya yang penuh
mengandung perasaan,
pengertian dan kecerdasan yang sukar diukur.
Di luar dari semua itu,
ternyata perut perempuan itu membuncit besar, kiranya
sedang hamil tua.
Melihat itu, melengak juga
Hek-bian-kun, tapi segera ia tertawa terbahakbahak
dan berkata, “Hahaha! Kiranya
seorang perempuan bunting, berani lagi
mengaku orang Ih-hoa-kiong
….”
Belum habis ucapannya,
sekonyong-konyong perempuan bunting itu
melayang keluar, belum lagi
Hek-bian-kun menyadari apa yang terjadi, tahutahu
ia sudah kena ditempeleng
beberapa kali.
Setelah melayang kembali ke
tempat duduknya, perempuan muda itu
bertanya dengan tersenyum,
“Memangnya kenapa kalau perempuan
bunting?”
“Hm, main sergap, terhitung
apa?” teriak Hek-bian-kun dengan geram dan
penasaran, segera ia
menghantam pula. Meski tubuhnya gemuk seperti gajah
bengkak, tapi pukulannya ini
sungguh cepat, keras lagi ganas.
Namun perempuan muda itu
tetap mengulum senyum, tangannya yang halus
itu menyampuk perlahan, entah
dengan cara bagaimana, tahu-tahu pukulan
Hek-bian-kun itu tertolak
kembali dan “blang”, dengan tepat menghantam
pada pundak sendiri.
Dengan jelas Hek-bian-kun
melihat kepalan sendiri menghantam pundak
sendiri, tapi ia justru tidak
mampu mengerem dan juga tidak dapat
menghindar. Betapa hebat
tenaga Hek-bian-kun dapat dibayangkan ketika
sekali tonjok menghancurkan
pintu kereta tadi, maka pukulan yang mengenai
pundak sendiri ini membuatnya
mengerang kesakitan dan jatuh terkapar.
Kawan-kawannya, yaitu si
jengger dan si ekor ayam sebenarnya juga sudah
bersiap-siap ingin menerjang
maju, tapi mereka jadi melongo menyaksikan
kawan gemuk mereka itu
terjungkal dan karena itu mereka pun tidak berani
bergerak lagi.
“Nah, apakah kalian kenal
gerak tangan yang kugunakan ini?” tanya
perempuan muda itu dengan
tertawa sambil mengerling lawan-lawannya.
Dengan suara gemetar
Hek-bian-kun berseru, “Ih-hoa-ciap-giok (mencangkok
bunga menyambung kemala),
setan malaikat sukar menandinginya ….”
“Jika sudah tahu, tentunya
sekarang kalian percaya aku ini bukan barang
tiruan,” ucap perempuan muda
itu.
“Ya, hamba … hamba pantas mam
… mampus … sungguh pantas mampus”
segera Hek-bian-kun menampar
muka sendiri hingga belasan kali, mukanya
yang hitam mirip moncong babi
seketika bertambah bengkak.
“Ai, betapa pun aku harus
berbuat bajik demi anakku,” kata perempuan muda
itu dengan menghela napas.
“Baiklah, kalian … kalian boleh pergi.”
Tanpa disuruh untuk kedua
kalinya, lari Hek-bian-kun dan begundalnya itu
sekali ini terlebih cepat
daripada tadi, hanya sekejap saja bayangan mereka
pun sudah menghilang. Tapi di
tengah remang-remang cuaca itu bagai setan
iblis saja sesosok bayangan
orang juga berkelebat di kejauhan, mengejar ke
arah rombongan Hek-bian-kun.
Melihat musuh sudah
menghilang, legalah hati Kang Hong, ia berpaling dan
dengan gegetun berkata,
“Untung kau turun tangan dan membuat jera
mereka, kalau tidak ….”
mendadak ia melihat air muka perempuan itu
berubah, seperti menahan rasa
sakit, tubuh gemetar dan dahi penuh keringat
dingin. Cepat ia bertanya
dengan khawatir, “Hei, kenapakah engkau?”
“Pe … perutku sakit, agaknya
jabang bayi dalam perut bergerak, mungkin …
mungkin akan ….”
Kang Hong menjadi kelabakan.
“Wah, bagaimana baiknya ini?” katanya
dengan gelisah.
“Lekas bawa keretamu ke tepi
jalan, lekas … lekas!” desis si perempuan
dengan suara serak.
Dengan tergopoh-gopoh Kang
Hong menghalau keretanya ke tengah semak
rumput di tepi jalan, kuda
meringkik, Kang Hong tiada hentinya mengusap
keringat, akhirnya ia pun
menyusup ke dalam kereta.
Sejenak kemudian, pintu
kereta yang sudah hancur itu tertutup oleh kain baju.
Terdengar suara keluhan
terputus-putus di dalam kereta. “Kakak Hong,
sungguh aku takut … takut
sekali.”
“Tidak perlu takut, tabahkan
hatimu … sebentar lagi semuanya akan beres.”
“Tapi aku … aku takut, kakak
Hong, peganglah … peganglah tanganku,
peganglah yang erat …. “
“Ya, ya … tanganku terasa
lemas juga. Tabahlah, sabar … sabar ….”
Suara keluhan yang menahan
rasa sakit itu berlangsung sekian lama, tibatiba
dari dalam kereta tersiar
suara tangis jabang bayi yang keras lantang.
Selang sejenak pula,
terdengar seruan Kang Hong yang kegirangan, “Hei,
anak kembar … kembar dua ….”
Lewat agak lama, dengan mandi
keringat dan penuh rasa gembira Kang
Hong menerobos keluar kereta.
Tetapi ke mana tatapnya sampai, seketika ia
melengak kaget.
Ternyata rombongan
Hek-bian-kun yang lari sipat kuping tadi kini sudah
berdiri pula di depan kereta,
dengan sorot mata yang dingin mereka
mengawasi Kang Hong tanpa
berkedip.
Sebisanya Kang Hong bersikap
tenang, tapi tidak urung air mukanya berubah
pucat, tanpa terasa ia
berucap, “Ka … kalian kembali lagi?!”
“Hehe, Kang-kongcu terkejut
ya?” si jengger ayam menyeringai ejek.
“Apakah kalian ingin mampus?!”
gertak Kang Hong.
“Hahahaha! Ingin mampus? ….”
Hek-bian-kun terbahak-bahak.
“Memangnya kalian belum kapok
terhadap kelihaian ilmu Siu-giok-kok, Ihhoa-
kiong?” bentak Kang Hong
pula.
“Hehe, orang she Kang, kukira
kau tidak perlu berlagak pilon,” jengek Hekbian-
kun. “Kita tahu sama tahu,
yang dikehendaki kedua Kiongcu dari Ih-hoakiong
saat ini justru adalah jiwa
kalian berdua dan bukanlah kami.”
Keringat meleleh melalui
hidung Kang Hong yang mancung itu terus
merembes ke mulutnya, namun
bibirnya terasa kering, ia menjilat bibir, lalu
berkata dengan tertawa,
“Haha, kukira kalian sudah gila, masakah kedua
Kiongcu Ih-hoa-kiong
menginginkan jiwaku? …. aha, apakah kau tahu siapa
yang
berada di dalam kereta ini?”







0 komentar:
Posting Komentar