Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.04



Jilid.04
Sebenarnya sepasang mata perempuan ini juga tidak begitu jeli, hidungnya
juga tidak terlalu mancung, mulutnya juga tidak sangat mungil, namun
gabungan dari mata hidung mulut dengan raut mukanya itu sedemikian
serasinya sehingga setiap orang yang memandangnya pasti ingin
memandang untuk seterusnya, terutama sorot matanya yang penuh
mengandung perasaan, pengertian dan kecerdasan yang sukar diukur.
Di luar dari semua itu, ternyata perut perempuan itu membuncit besar, kiranya
sedang hamil tua.
Melihat itu, melengak juga Hek-bian-kun, tapi segera ia tertawa terbahakbahak
dan berkata, “Hahaha! Kiranya seorang perempuan bunting, berani lagi
mengaku orang Ih-hoa-kiong ….”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan bunting itu
melayang keluar, belum lagi Hek-bian-kun menyadari apa yang terjadi, tahutahu
ia sudah kena ditempeleng beberapa kali.
Setelah melayang kembali ke tempat duduknya, perempuan muda itu
bertanya dengan tersenyum, “Memangnya kenapa kalau perempuan
bunting?”
“Hm, main sergap, terhitung apa?” teriak Hek-bian-kun dengan geram dan
penasaran, segera ia menghantam pula. Meski tubuhnya gemuk seperti gajah
bengkak, tapi pukulannya ini sungguh cepat, keras lagi ganas.
Namun perempuan muda itu tetap mengulum senyum, tangannya yang halus
itu menyampuk perlahan, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu pukulan
Hek-bian-kun itu tertolak kembali dan “blang”, dengan tepat menghantam
pada pundak sendiri.
Dengan jelas Hek-bian-kun melihat kepalan sendiri menghantam pundak
sendiri, tapi ia justru tidak mampu mengerem dan juga tidak dapat
menghindar. Betapa hebat tenaga Hek-bian-kun dapat dibayangkan ketika
sekali tonjok menghancurkan pintu kereta tadi, maka pukulan yang mengenai
pundak sendiri ini membuatnya mengerang kesakitan dan jatuh terkapar.
Kawan-kawannya, yaitu si jengger dan si ekor ayam sebenarnya juga sudah
bersiap-siap ingin menerjang maju, tapi mereka jadi melongo menyaksikan
kawan gemuk mereka itu terjungkal dan karena itu mereka pun tidak berani
bergerak lagi.
“Nah, apakah kalian kenal gerak tangan yang kugunakan ini?” tanya
perempuan muda itu dengan tertawa sambil mengerling lawan-lawannya.
Dengan suara gemetar Hek-bian-kun berseru, “Ih-hoa-ciap-giok (mencangkok
bunga menyambung kemala), setan malaikat sukar menandinginya ….”
“Jika sudah tahu, tentunya sekarang kalian percaya aku ini bukan barang
tiruan,” ucap perempuan muda itu.
“Ya, hamba … hamba pantas mam … mampus … sungguh pantas mampus”
segera Hek-bian-kun menampar muka sendiri hingga belasan kali, mukanya
yang hitam mirip moncong babi seketika bertambah bengkak.
“Ai, betapa pun aku harus berbuat bajik demi anakku,” kata perempuan muda
itu dengan menghela napas. “Baiklah, kalian … kalian boleh pergi.”
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, lari Hek-bian-kun dan begundalnya itu
sekali ini terlebih cepat daripada tadi, hanya sekejap saja bayangan mereka
pun sudah menghilang. Tapi di tengah remang-remang cuaca itu bagai setan
iblis saja sesosok bayangan orang juga berkelebat di kejauhan, mengejar ke
arah rombongan Hek-bian-kun.
Melihat musuh sudah menghilang, legalah hati Kang Hong, ia berpaling dan
dengan gegetun berkata, “Untung kau turun tangan dan membuat jera
mereka, kalau tidak ….” mendadak ia melihat air muka perempuan itu
berubah, seperti menahan rasa sakit, tubuh gemetar dan dahi penuh keringat
dingin. Cepat ia bertanya dengan khawatir, “Hei, kenapakah engkau?”
“Pe … perutku sakit, agaknya jabang bayi dalam perut bergerak, mungkin …
mungkin akan ….”
Kang Hong menjadi kelabakan. “Wah, bagaimana baiknya ini?” katanya
dengan gelisah.
“Lekas bawa keretamu ke tepi jalan, lekas … lekas!” desis si perempuan
dengan suara serak.
Dengan tergopoh-gopoh Kang Hong menghalau keretanya ke tengah semak
rumput di tepi jalan, kuda meringkik, Kang Hong tiada hentinya mengusap
keringat, akhirnya ia pun menyusup ke dalam kereta.
Sejenak kemudian, pintu kereta yang sudah hancur itu tertutup oleh kain baju.
Terdengar suara keluhan terputus-putus di dalam kereta. “Kakak Hong,
sungguh aku takut … takut sekali.”
“Tidak perlu takut, tabahkan hatimu … sebentar lagi semuanya akan beres.”
“Tapi aku … aku takut, kakak Hong, peganglah … peganglah tanganku,
peganglah yang erat …. “
“Ya, ya … tanganku terasa lemas juga. Tabahlah, sabar … sabar ….”
Suara keluhan yang menahan rasa sakit itu berlangsung sekian lama, tibatiba
dari dalam kereta tersiar suara tangis jabang bayi yang keras lantang.
Selang sejenak pula, terdengar seruan Kang Hong yang kegirangan, “Hei,
anak kembar … kembar dua ….”
Lewat agak lama, dengan mandi keringat dan penuh rasa gembira Kang
Hong menerobos keluar kereta. Tetapi ke mana tatapnya sampai, seketika ia
melengak kaget.
Ternyata rombongan Hek-bian-kun yang lari sipat kuping tadi kini sudah
berdiri pula di depan kereta, dengan sorot mata yang dingin mereka
mengawasi Kang Hong tanpa berkedip.
Sebisanya Kang Hong bersikap tenang, tapi tidak urung air mukanya berubah
pucat, tanpa terasa ia berucap, “Ka … kalian kembali lagi?!”
“Hehe, Kang-kongcu terkejut ya?” si jengger ayam menyeringai ejek.
“Apakah kalian ingin mampus?!” gertak Kang Hong.
“Hahahaha! Ingin mampus? ….” Hek-bian-kun terbahak-bahak.
“Memangnya kalian belum kapok terhadap kelihaian ilmu Siu-giok-kok, Ihhoa-
kiong?” bentak Kang Hong pula.
“Hehe, orang she Kang, kukira kau tidak perlu berlagak pilon,” jengek Hekbian-
kun. “Kita tahu sama tahu, yang dikehendaki kedua Kiongcu dari Ih-hoakiong
saat ini justru adalah jiwa kalian berdua dan bukanlah kami.”
Keringat meleleh melalui hidung Kang Hong yang mancung itu terus
merembes ke mulutnya, namun bibirnya terasa kering, ia menjilat bibir, lalu
berkata dengan tertawa, “Haha, kukira kalian sudah gila, masakah kedua
Kiongcu Ih-hoa-kiong menginginkan jiwaku? …. aha, apakah kau tahu siapa
yang berada di dalam kereta ini?”





sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar