Jilid.08
Melihat perempuan yang
berusia baru likuran ini memiliki kesaktian
sedemikian tinggi, bahkan
setiap anggota tubuhnya seakan-akan memiliki
kungfu yang sukar
dibayangkan, keruan Hek-bian-kun dan Su-sin-khek, si
babi dan si ayam jantan dari
kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu tidak berani
berkutik lagi.
“Ai, cakar ayam ini tidak
enak!” kata Lian-sing Kiongcu sambil menggeleng,
“Brrr”, mendadak ia
menyemprot perlahan celurit baja patah yang tergigit oleh
mulutnya itu, ke mana sinar
perak berkelebat, tahu-tahu si baju belorok yang
masih tersisa itu pun menjerit
ngeri sambil mendekap mukanya dan tergulingguling
di tanah dengan darah
merembes keluar dari sela-sela jarinya, habis
berkelejetan beberapa kali,
lalu tidak bergerak lagi. Tangan yang mendekap
mukanya juga terbuka,
remang-remang kelihatan mukanya beringas dan
berlumuran darah, kiranya
setengah potong celurit tadi telah menghancurkan
tulang kepalanya.
Serentak Hek-bian-kun
berlutut dan menjura, mohonnya dengan suara
gemetar, “Ampun Kiongcu!
Ampun ….”
Tapi Lian-sing Kiongcu tidak
menggubrisnya, sebaliknya ia malah tanya si
baju merah alias jengger
ayam, “Nah, bagaimana aku punya kungfu?”
“Ter … terlalu hebat, selama
… selama hidup hamba tidak pernah me …
menyaksikan kungfu selihai
ini, bahkan … bahkan mimpi pun hamba tak
pernah membayangkan kungfu
setinggi ini,” demikian jawab si jengger
dengan tergegap-gegap.
“Dan kau takut atau tidak?”
tanya sang Putri.
Sungguh mati, selama hidup si
jengger ini tidak pernah ditanyai orang seperti
anak kecil ini. Akan tetapi
sekarang tiada jalan lain baginya kecuali menjawab
dengan munduk-munduk, “Ya,
takut … takut, takut sekali.”
“Kalau takut, kenapa tidak
minta ampun?”
Tanpa disuruh lagi segera si
jengger menyembah dan memohon dengan
setengah menangis, “Ya, ampun
Kiongcu ….”
Lian-sing mengerling hina,
katanya kemudian dengan tertawa, “Jika jiwa
kalian ingin kuampuni,
sederhana juga caranya, asal saja kalian masingmasing
memukul aku satu kali.”
“Mana hamba berani,” cepat si
jengger menjawab.
“Ya, betapa pun hamba tidak
berani,” Hek-bian-kun menambahkan.
“Jadi kalian tidak ingin
hidup?” tanya sang Putri dengan mendelik.
Pertanyaan demikian selama
ini biasanya diajukan oleh Hek-bian-kun dan
Su-sin-khek kepada orang
lain, dan bila perlu tanpa mendapat jawaban
senjata mereka pun lantas
menyambar dan habis perkara. Tapi sekarang
justru pertanyaan ini
diajukan kepada mereka sendiri. Keruan mereka
menyengir serba susah.
Tapi apa daya, mau tak mau
mereka terpaksa menjawab, “Ya, hamba ingin
hidup.”
“Kalau ingin hidup, nah,
lekas pukul seperti kataku tadi!”
Hek-bian-kun saling pandang
sekejap dengan Su-sin-khek, akhirnya mereka
terpaksa melangkah maju.
“Nah, memangnya kenapa mesti
takut, pukul saja sesuka kalian, makin keras
makin baik dan pasti takkan
kubalas,” demikian Lian-sing Kiongcu tertawa.
“Tetapi, kalau pukulan kalian
terlalu ringan … hm, awas!”
Sungguh aneh bin heran, untuk
mengampuni jiwa orang justru orang-orang
itu disuruh memukulnya.
Walaupun ragu-ragu, diam-diam si jengger
membatin apa salahnya jika
dia benar-benar menghantam sekuatnya, kalau
sekali gitik dengan paruh ayamnya
berhasil membinasakan orang, kan untung
malah. Andaikan tidak
berhasil juga tidak menjadi soal, bukankah sang putri
sendiri yang menyuruhnya
menyerang?
Sudah tentu Hek-bian-kun juga
timbul pikiran yang sama, ia pikir betapa pun
kepandaianmu, asal kau tidak
menangkis dan membalas, sekali jotos
tubuhmu pasti dapat kubikin
peyot.
Begitulah dua orang satu
pikiran, serentak mereka mengiakan perintah Liansing
Kiongcu, akan tetapi lagaknya
masih pura-pura sungkan.
“Ayolah, tunggu apalagi?”
omel Lian-sing Kiongcu dengan tertawa.
Mendadak Hek-bian-kun
menubruk maju, kedua kepalan menghantam
sekaligus dengan keras,
ditambah lagi bobot tubuhnya yang beratus-ratus
kati itu, tentu saja daya
pukulannya bukan alang kepalang dahsyatnya. Akan
tetapi di antara pukulan dahsyat
itu justru membawa gerakan yang lincah dan
gesit serta yang sukar
diraba, pada detik terakhir barulah jelas arah yang
menjadi sasarannya, yaitu
hulu hati Lian-sing Kiongcu.
Pukulan ini merupakan
intisari ilmu silat yang diyakinkan Hek-bian-kun, jurus
ini bernama “Sin-tu-hoa-jio”
atau si babi sakti sekuat gajah, dengan jurus
pukulannya ini entah betapa
banyak tokoh kalangan Kangouw telah
dirobohkannya.
Dalam pada itu Su-sin-khek,
si jengger ayam, secepat terbang juga melayang
maju, senjata paruh ayamnya
gemerlap mencocok berbagai Hiat-to di bagian
dada Lian-sing Kiongcu.
Dengan sendirinya serangan si
jengger ini pun merupakan jurus maut yang
jarang digunakannya. Jurus
ini bernama “Sih-keh-thi-sing” atau ayam
berkokok di waktu subuh.
Konon dengan jurus ini saja pernah sekaligus dia
membinasakan delapan piausu
(jago pengawal) dari perusahaan pengawal
“Wi-bu-piaukiok”.
“Eh, boleh juga!” Lian-sing
Kiongcu berseloroh.
Di tengah suara tertawa yang
merdu, sekali telapak tangan kanannya meraih
perlahan bagai kupu-kupu
menyelinap di antara hujan gerimis, lalu sekali lagi
melingkar balik, tahu-tahu si
jengger ayam merasa serangannya yang lihai
kehilangan sasaran secara
membingungkan, tangan sendiri seperti tidak mau
menurut perintah. Maksudnya
ingin menyerang ke kanan, tapi justru
menyambar ke kiri, ingin
dihentikan, justru tetap menyelonong ke depan.
Tanpa ampun lagi,
terdengarlah suara “crat-cret” dua kali disusul pula dengan
dua kali jeritan ngeri.
Lian-sing Kiongcu masih tetap
berdiri di tempatnya dengan tertawa tanpa
bergerak, sebaliknya
Hek-bian-kun sudah terjungkal, sedangkan Su-sin-khek
alias si jengger ayam
mencelat jauh ke semak-semak rumput sana, merintih
sebentar, lalu tak bersuara
lagi.
Pada dada Hek-bian-kun tampak
menancap paruh baja si jengger ayam,
dengan meringis menahan sakit
ia cabut paruh baja itu, darah seketika
menyembur bagai air mancur,
dengan suara gemetar ia berkata, “Kau … kau
….”
“Aku kan tidak melukai
kalian,” ujar Lian-sing Kiongcu sambil tertawa. “Kalian
sendiri yang saling hantam.
Ai, apa sih gunanya?”
Mata Hek-bian-kun melotot
gusar menatap sang putri, bibirnya bergerak
seperti ingin bicara sesuatu,
tapi sepatah kata pun tak sempat terucap dan
untuk selamanya takkan
terucap lagi.
Lian-sing-Kiongcu bergumam
sendiri, “Jika kalian tidak berpikir ingin
membinasakan aku dan cara
menyerang kalian agak ringan, tentu jiwa kalian
takkan melayang, betapa pun
aku sudah memberi kesempatan hidup kepada
kalian bukan? Salah kalian
sendiri!”
Di sebelah sana Kang Hong dan
istrinya sama sekali tidak menghiraukan apa
yang terjadi di sebelah sini.
Mereka sedang meronta ingin masuk ke dalam
kereta untuk memondong jabang
bayi yang sedang menangis itu, tangan
mereka baru saja sempat
meraba gurita si bayi, pada saat itu juga sebuah
tangan mendorong jabang bayi itu
menjauhi tangan Kang Hong berdua.
Tangan yang menyingkirkan
jabang bayi itu tampak putih mulus dengan
lengan baju sutera putih
pula, namun tangan yang mulus itu ternyata lebih
halus daripada kain
suteranya.
“Berikan . . . berikan padaku
….” pinta Kang Hong dengan suara parau.
“Ji-kiongcu, kumohon, sudilah
… sudilah engkau menyerahkan orok itu
kepadaku,” si perempuan yang
baru melahirkan itu pun memohon.
“Goat-loh,” jawab Lian-sing
Kiongcu dengan tertawa, “Bagus sekali kau,
sungguh tidak nyana kau
melahirkan anak bagi Kang Hong.”
Meski bicaranya seraya
tertawa, namun tertawa yang pedih, hampa, penuh
rasa benci dan dendam.
Hoa Goat-loh, perempuan yang
baru melahirkan itu berkata, “Kiongcu, hamba
… hamba bersalah … bersalah
padamu, nam … namun anak ini tidak
berdosa, sudilah engkau
mengampuni mereka.”
Termangu Lian-sing Kiongcu
memandang sepasang anak kembar itu sambil
bergumam, “Ehm, anak yang
montok, sungguh menyenangkan … alangkah
baiknya jika menjadi anakku
….” mendadak matanya menatap Kang Hong,
dengan penuh rasa benci dan
dendam, menyesal dan juga kecewa. Sejenak
kemudian barulah dia berucap
dengan perasaan hampa, “Kang Hong, kenapa
kau lakukan hal ini? Kenapa?”
“Tidak kenapa-apa, sebab aku
cinta padanya,” jawab Kang Hong tegas.
“Kau mencintai dia?” teriak
Lian-sing Kiongcu dengan suara serak. “Kau
mencintai seorang babu? Dalam
hal apa Ciciku tidak melebihi budak ini? Kau
dilukai orang, Ciciku
membawamu ke rumah dan merawatmu, selama
hidupnya tidak pernah berbuat
sebaik itu kepada orang lain, tapi … tapi dia
justru begitu kesengsem
padamu. Sebaliknya … sebaliknya kau malah …
malah minggat bersama
babunya.”
Dengan ketus Kang Hong
menjawab, “Baik, karena kau ingin tahu, biarlah
kujelaskan. Cicimu pada
hakikatnya bukan manusia, dia cuma segumpal api,
sepotong es, sebilah pedang,
bahkan boleh dikatakan setan, malaikat, tapi
sama sekali bukan manusia.
Sedangkan dia ….” sampai di sini ia
mengalihkan pandangnya kepada
Hoa Goat-loh, istrinya, dengan suara
lembut ia menyambung pula,
“Dia … dia adalah manusia, manusia sejati,
manusia suci bersih. Dia
sangat baik padaku, dapat memahami isi hatiku,
menyelami jiwaku. Di dunia
ini hanya dia seorang yang mencintai hatiku,
sukmaku dan bukan cuma
kesengsem pada wajah dan ragaku ini.”
“Plak!” mendadak pipi Kang
Hong ditampar sekali oleh Lian-sing Kiongcu dan
bentaknya, “Ayo katakan …
katakan lagi!”
“Inilah isi hatiku yang harus
kuucapkan, kenapa tidak boleh kukatakan?”
jawab Kang Hong tegas.
“Kau hanya tahu dia sangat
baik padamu, akan tetapi apakah kau tahu
bagaimana … bagaimana diriku
ini padamu?” ucap Lian-sing Kiongcu.
“Sekalipun wajahmu ini buruk,
biarpun wajahmu jelek bagai setan juga
kutetap … tetap ….” sampai di
sini suaranya menjadi lemah dan tidak sanggup
melanjutkan lagi.
“Jadi … jadi Ji-kiongcu,
engkau … engkau juga ….” dengan suara terputusputus
Hoa Goat-loh berkata. Baru
sekarang ia paham isi hati bekas
junjungannya itu.
“Ya, memangnya aku tidak
boleh menaruh hati padanya? Apakah aku tidak
boleh mencintai dia?” seru
Lian-sing Kiongcu penasaran. “Apakah lantaran
badanku cacat, maka aku tidak
… tidak berhak mencintai orang yang
kucintai? …. Orang cacat kan
manusia, juga perempuan?!”
Dalam sekejap itu putri yang
agung itu mendadak berubah sama sekali,
sejenak sebelumnya dia adalah
manusia super yang berkuasa menentukan
mati-hidup seseorang secara
tak terbantahkan. Tapi kini dia tidak lebih hanya
seorang perempuan belaka,
seorang perempuan lemah yang bernasib
malang dan harus dikasihani.
Air mata tampak meleleh di pipinya.
Sukar dipercaya bahwa tokoh
ajaib, manusia super yang hampir menyerupai
dongeng di dunia Kangouw ini
ternyata juga bisa mengucurkan air mata.
Seketika Kang Hong dan Hoa
Goat-loh melenggong memandangi putri yang
agung tapi cacat badan itu.
Selang agak lama, dengan lesu
Hoa Goat-loh berkata, “Ji-kiongcu, toh aku
tak dapat hidup lagi,
selanjutnya … selanjutnya dia (maksudnya Kang Hong)
akan menjadi milikmu, maka
kumohon sukalah engkau menolongnya, kuyakin
hanya engkau saja yang
sanggup menyelamatkan dia.”
Tergetar tubuh Lian-sing
Kiongcu, “selanjutnya dia akan menjadi milikmu”,
kalimat ini seperti anak
panah menancap hulu hatinya.
Tapi mendadak Kang Hong
bergelak tertawa, tertawa yang rawan, tertawa
yang jauh lebih memilukan
daripada tangis siapa pun juga. Sorot matanya
yang sayu menatap Hoa
Goat-loh, katanya dengan pedih, “Menyelamatkan
diriku? …. Di dunia ini siapa
yang mampu menyelamatkan jiwaku? Jika
engkau mati, masakah aku
dapat hidup sendirian? …. O, Goat-loh, masakah
sampai saat ini engkau masih
belum memahami diriku?”
Hoa Goat-loh menahan air
matanya yang hampir bercucuran pula, jawabnya
dengan suara lembut, “Aku
paham, tentu saja kupahami dirimu, tapi kalau
engkau mati, siapalagi yang
akan mengurus anak-anak kita?”
Suaranya kemudian berubah
menjadi rintihan sedih, ia genggam tangan sang
suami dan berkata pula dengan
air mata berlinang. “Inilah dosa perbuatan
kita. Kita tidak berhak
meninggalkan dosa akibat perbuatan kita kepada
keturunan kita, sekalipun kau
… kau pun tidak boleh, tidak berhak
mengelakkan kewajiban dengan
jalan mencari kematian.”
Kang Hong tidak sanggup
tertawa pilu pula, giginya yang tergigit sampai
gemertukan.
“Kutahu, mati memang jauh
lebih mudah dan hidup akan lebih sukar dan
banyak duka derita,” kata Hoa
Goat-loh pula dengan suara gemetar. “Tapi …
tapi kumohon, sudilah …
sudilah engkau bertahan hidup demi anak-anak
kita.”
Air mata membasahi wajah Kang
Hong, seperti orang dungu saja dia
bergumam, “Aku harus hidup? …
Benarkah aku harus bertahan hidup ….”
“Ji-kiongcu,” pinta Hoa
Goat-loh kepada sang putri, “betapa pun engkau harus
menyelamatkan dia. Apabila
engkau memang pernah jatuh cinta padanya,
maka engkau tidak layak
menyaksikan kematiannya di depanmu.”
“Begitukah?” ucap Lian-sing
Kiongcu dengan acuh tak acuh.
“Kuyakin engkau pasti dapat
menyelamatkan dia … pasti dapat,” seru Hoa
Goat-loh dengan parau.
Lian-sing Kiongcu menghela
napas panjang, katanya, “Ya, memang aku
dapat menyelamatkan jiwanya
….”
Belum habis ucapannya, entah
dari mana datangnya, tiba-tiba berkumandang
suara seorang, “Kau keliru,
tidak mungkin kau dapat menghidupkan dia, di
dunia ini tiada seorang pun
mampu menyelamatkan dia.”
Suara orang ini sedemikian
ringan mengambang tak menentu, nadanya
dingin, tanpa emosi dan
mengederkan orang, tapi juga begitu halus, lembut
menggetarkan sukma. Rasanya
tiada seorang pun yang sanggup melukiskan
nada suara yang menarik dan
menyeramkan ini, tiada seorang pun di dunia
ini yang dapat melupakan nada
suara ini bilamana sudah mendengarnya.
Jagat raya ini serasa membeku
seketika oleh karena nada suara tadi yang
penuh mengandung hawa nafsu
membunuh itu, senja yang semakin remang
itu seketika pun bertambah
suram.
Tubuh Kang Hong gemetar
laksana daun tertiup angin. Wajah Lian-sing
Kiongcu seketika pun pucat
bagai mayat. Tanpa menoleh pun mereka tahu
siapa gerangan yang datang.
Begitulah sesosok bayangan
putih tahu-tahu melayang tiba, entah melayang
dari mana dan datang sejak
kapan, tahu-tahu sudah berdiri di depan mereka.
Baju pendatang itu putih
laksana salju, rambut terurai dengan gaya indah
seperti bidadari yang baru
turun dari kayangan, betapa cantik wajahnya
sungguh sukar untuk
dilukiskan, sebab tiada seorang pun yang berani
menengadah untuk
memandangnya. Pada tubuhnya seakan-akan
berpembawaan semacam daya
pengaruh yang tak dapat dilawan sehingga
orang pun takut memandangnya.
Kepala Lian-sing Kiongcu juga
tertunduk, sambil menggigit bibir ia menyapa,
“Cici, engkau … engkau juga
datang.”
“Ya, aku pun datang, kau
tidak menyangka bukan?” jawab sang kakak, Kiaugoat
Kiongcu, putri agung utama
dari Ih-hoa-kiong yang termasyhur dan
disegani itu.
“Bilakah Cici datang kemari?”
jawab Lian-sing Kiongcu pula, kepalanya
semakin menunduk.
“Kedatanganku tidak terlalu
dini, hanya, hanya sempat mengikuti percakapan
orang banyak yang agaknya
tidak suka didengar olehku,” ujar Kiau-goat
Kiongcu.
Terkilas pikiran dalam benak
Kang Hong, dengan suara gemas ia berteriak,
“Jadi … jadi sejak tadi kau
sudah datang. Kalau begitu si babi dan si ayam
dari Cap-ji-she-shio yang
tadi sudah kabur lalu datang kembali lagi itu janganjangan
adalah perintahmu? Jadi semua
rahasia itu telah kau katakan kepada
mereka?”
“Baru sekarang hal ini
terpikir olehmu, bukankah sudah terlambat?” ujar Kiaugoat
Kiongcu.
Mata Kang Hong mendelik,
dengan beringas ia berteriak, “Mengapa …
mengapa kau berbuat demikian?
Bertindak sekeji ini?”
“Terhadap orang yang berhati
keji, hatiku pasti sepuluh kali lebih keji
daripadanya,” jawab
Kiau-goat.
“Toa-kiongcu,” jerit Hoa
Goat-loh dengan menahan derita, “semuanya adalah
salahku, jangan … jangan kau
salahkan dia.”
Mendadak nada ucapan
Kiau-goat Kiongcu berubah setajam sembilu,
katanya sekata demi sekata,
“Kau masih berani bicara demikian padaku?”
Hoa Goat-loh ngesot di tanah,
katanya dengan terputus-putus, “Hamb …
hamba ….”
“Baiklah, kau sudah bertemu
denganku, kini … kini bolehlah kau mangkat!”
ucap Kiau-goat dengan
tenang-tenang. “Mangkat” jelas berarti vonis
kematian.
Betapa takutnya Hoa Goat-loh
dapat digambarkan bahwa menangis saja dia
tidak berani, dia hanya
memejamkan mata dan menjawab lemah, “Terima
kasih Kiongcu.”
“Dia menghendaki kematianmu,
mengapa kau malah berterima kasih
padanya?” teriak Kang Hong
dengan kalap.
Tersungging senyuman pilu
pada ujung mulut Hoa Goat-loh, jawabnya
perlahan, “Biarlah kumati
lebih dulu sehingga takkan menyaksikan cara
bagaimana kematianmu dengan
anak-anak kita, dengan demikian dapatlah
mengurangi sedikit siksa
deritaku. Dan ini adalah … adalah kemurahan hati
Kiongcu, kan pantas jika aku
berterima kasih kepada beliau.”
Ia membuka matanya, memandang
Kang Hong sekejap, lalu memandang
pula kedua orok, walau hanya
pandangan sekilas saja, namun betapa
mendalam kasih sayang seorang
ibu kepada anaknya dalam pandangan
sekilas itu sungguh tak
terlukiskan.
Hati Kang Hong serasa remuk
redam, teriaknya, “Goat-loh, kau tidak boleh
mati … tidak boleh mati ….”
Seri 1: Jilid 1-B. Pendekar
Binal
“Kakak Hong, biarlah aku
mangkat lebih dulu, akan … akan kutunggu engkau
di sana ….” lalu terpejamlah
matanya dan tidak melek lagi untuk selamanya.
“Tunggu, Goat-loh!” jerit
Kang Hong histeris, entah dari mana timbulnya
tenaga, mendadak ia menubruk
ke atas tubuh sang istri. Tapi baru saja
tubuhnya bergerak, kontan ia
dihantam roboh lagi oleh angin pukulan yang
keras.
“Kukira kau perlu berbaring
dengan tenang,” ujar Kiau-goat.
“Selama hidupku tak pernah
kumohon sesuatu kepada siapa pun,” kata Kang
Hong dengan suara gemetar,
“Tapi sekarang … kumohon . . . kumohon
engkau sukalah berbuat bajik.
Apa pun tidak kuinginkan, yang kuharap hanya
dapat mati bersama dengan
Goat-loh.”
“Hm, jangan kau harap dapat
menyentuh seujung jarinya lagi,” jawab Kiaugoat
ketus.
Kang Hong menatapnya dengan
sorot mata membara, kalau saja sinar
matanya dapat membunuh orang,
sejak tadi tentu orang itu sudah
dibunuhnya. Umpama api
amarahnya juga dapat berkobar, tentu sejak tadi
putri itu pun sudah
dibakarnya hidup-hidup.
Akan tetapi Kiau-goat Kiongcu
masih tetap berdiri tenang saja di situ dengan
senyum mengejek. Mendadak
Kang Hong mengakak tawa seperti orang gila,
tertawa histeris, tertawanya
orang putus asa dan penuh benci, penuh
dendam.
“Hm, kau malah tertawa? Apa
yang kau tertawakan?” tanya Kiau-goat
Kiongcu mendongkol.
“Hahahaha!” Kalian anggap
diri kalian manusia super, manusia yang lain
daripada yang lain? Kalian
mengira dengan segala kemampuan kalian dapat
menguasai segala kehendakmu.
Akan tetapi, hahaha, akan tetapi, bila aku
sudah mati, aku akan
berkumpul bersama Goat-loh, untuk ini dapatkah kalian
merintangi kami?”
Di tengah gelak tertawa kalap
itu, mendadak Kang Hong terkapar, suara
tertawanya mulai lemah dan
akhirnya berhenti untuk selamanya.
Lian-sing Kiongcu menjerit perlahan
dan memburu maju, dilihatnya golok
kutung tadi telah menancap ke
dalam hulu hatinya, tamatlah riwayat sang
lelaki mahacakap itu.
Bulan sabit sudah menongol di
cakrawala dengan cahayanya yang setengah
remang. Lian-sing Kiongcu
berlutut mematung, hanya angin meniup
mengembus rambutnya yang
halus itu, lama dan lama sekali barulah ia
bergumam, “Dia … dia sudah
mati … akhirnya cita-citanya terkabul juga, tapi
… tapi bagaimana dengan
engkau? ….” Mendadak ia bangkit dan
menghadapi sang kakak, yaitu
Kiau-goat Kiongcu dan berteriak, “Ya,
bagaimana dengan kita?”
“Tutup mulutmu!” jawab
Kiau-goat Kiongcu tak acuh.
“Aku justru ingin bicara!”
seru Lian-sing Kiongcu “Apa yang telah kau peroleh
dengan tindakanmu ini? …
engkau hanya membuat mereka semakin cintamencintai,
membuat mereka semakin benci
padamu!”
“Plak”, belum habis ucapannya
pipinya telah ditampar sekali oleh sang kakak.
Lian-sing Kiongcu tergetar
mundur dua tindak. “Kau … kau ….” Ia tergegap
sambil meraba pipinya.
“Kau hanya tahu mereka benci
padaku, tapi apakah kau pun tahu betapa
benciku padanya? Kubenci dia
hingga darah menetes dari tubuhku ….”
Mendadak ia menyingsing
lengan bajunya dan berteriak pula, “Lihatlah ini!”
Di bawah sinar bulan yang
remang, lengannya yang putih mulus itu ternyata
penuh bintik-bintik merah.
Lian-sing Kiongcu melengak, tanyanya, “Ini … ini …
sebab apa ini?”
Inilah bekas tusukan jarum
yang kulakukan sendiri,” teriak Kiau-goat Kiongcu
dengan penuh emosi. “Sejak
mereka kabur, aku menjadi benci, aku dendam
dan menyakiti diriku sendiri
dengan tusukan jarum, setiap hari aku menyiksa
diriku sendiri untuk
mengurangi rasa derita batin. Semuanya ini apakah kau
tidak tahu … apakah kau tidak
tahu? ….” Sampai akhirnya suaranya menjadi
gemetar dan setengah
terguguk.
Melihat lengan kakaknya yang
penuh bintik merah berdarah itu, semula Liansing
Kiongcu melenggong, tapi
mendadak ia menubruk ke dalam pelukan
Kiau-goat Kiongcu dengan air
mata bercucuran, katanya dengan suara
tersedu, “O, tak kuduga bahwa
… bahwa Cici juga menahan penderitaan
batin sehebat ini.”
Sambil merangkul pundak
adiknya, Kiau-goat menengadah dan berucap
dengan rasa hampa, “Ya,
betapa pun aku juga manusia, juga perempuan,
aku pun berperasaan seperti
perempuan lain, aku pun mendambakan cinta,
tapi aku pun bisa iri,
cemburu, dendam dan benci ….”
Cahaya sang dewi malam yang
lembut menyinari rangkulan dua bayangan
tubuh menggiurkan. Kini
mereka bukan lagi kedua putri agung dari Ih-hoakiong
yang disegani dan dihormati
melainkan dua gadis biasa yang bernasib
malang seperti orang kebanyakan
yang harus dikasihani.
“O, Cici, baru sekarang …
baru sekarang kutahu engkau ….” Lian-sing
Kiongcu bergumam pula. Tapi
Kiau-goat lantas mendorongnya dan
membentak, “Diam!”
Setelah tenangkan diri,
Lian-sing Kiongcu berkata pula dengan rasa pedih,
“Cici, sudah lebih dua puluh
tahun baru sekarang engkau merangkul diriku,
biarpun Cici tetap benci
padaku, namun … namun hatiku sudah puas.”
Kiau-goat tidak memandangnya
lagi barang sekejap, dengusnya, “Lekas
turun
tangan!”
.jpg)






0 komentar:
Posting Komentar