Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.08


Jilid.08
Melihat perempuan yang berusia baru likuran ini memiliki kesaktian
sedemikian tinggi, bahkan setiap anggota tubuhnya seakan-akan memiliki
kungfu yang sukar dibayangkan, keruan Hek-bian-kun dan Su-sin-khek, si
babi dan si ayam jantan dari kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu tidak berani
berkutik lagi.
“Ai, cakar ayam ini tidak enak!” kata Lian-sing Kiongcu sambil menggeleng,
“Brrr”, mendadak ia menyemprot perlahan celurit baja patah yang tergigit oleh
mulutnya itu, ke mana sinar perak berkelebat, tahu-tahu si baju belorok yang
masih tersisa itu pun menjerit ngeri sambil mendekap mukanya dan tergulingguling
di tanah dengan darah merembes keluar dari sela-sela jarinya, habis
berkelejetan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Tangan yang mendekap
mukanya juga terbuka, remang-remang kelihatan mukanya beringas dan
berlumuran darah, kiranya setengah potong celurit tadi telah menghancurkan
tulang kepalanya.
Serentak Hek-bian-kun berlutut dan menjura, mohonnya dengan suara
gemetar, “Ampun Kiongcu! Ampun ….”
Tapi Lian-sing Kiongcu tidak menggubrisnya, sebaliknya ia malah tanya si
baju merah alias jengger ayam, “Nah, bagaimana aku punya kungfu?”
“Ter … terlalu hebat, selama … selama hidup hamba tidak pernah me …
menyaksikan kungfu selihai ini, bahkan … bahkan mimpi pun hamba tak
pernah membayangkan kungfu setinggi ini,” demikian jawab si jengger
dengan tergegap-gegap.
“Dan kau takut atau tidak?” tanya sang Putri.
Sungguh mati, selama hidup si jengger ini tidak pernah ditanyai orang seperti
anak kecil ini. Akan tetapi sekarang tiada jalan lain baginya kecuali menjawab
dengan munduk-munduk, “Ya, takut … takut, takut sekali.”
“Kalau takut, kenapa tidak minta ampun?”
Tanpa disuruh lagi segera si jengger menyembah dan memohon dengan
setengah menangis, “Ya, ampun Kiongcu ….”
Lian-sing mengerling hina, katanya kemudian dengan tertawa, “Jika jiwa
kalian ingin kuampuni, sederhana juga caranya, asal saja kalian masingmasing
memukul aku satu kali.”
“Mana hamba berani,” cepat si jengger menjawab.
“Ya, betapa pun hamba tidak berani,” Hek-bian-kun menambahkan.
“Jadi kalian tidak ingin hidup?” tanya sang Putri dengan mendelik.
Pertanyaan demikian selama ini biasanya diajukan oleh Hek-bian-kun dan
Su-sin-khek kepada orang lain, dan bila perlu tanpa mendapat jawaban
senjata mereka pun lantas menyambar dan habis perkara. Tapi sekarang
justru pertanyaan ini diajukan kepada mereka sendiri. Keruan mereka
menyengir serba susah.
Tapi apa daya, mau tak mau mereka terpaksa menjawab, “Ya, hamba ingin
hidup.”
“Kalau ingin hidup, nah, lekas pukul seperti kataku tadi!”
Hek-bian-kun saling pandang sekejap dengan Su-sin-khek, akhirnya mereka
terpaksa melangkah maju.
“Nah, memangnya kenapa mesti takut, pukul saja sesuka kalian, makin keras
makin baik dan pasti takkan kubalas,” demikian Lian-sing Kiongcu tertawa.
“Tetapi, kalau pukulan kalian terlalu ringan … hm, awas!”
Sungguh aneh bin heran, untuk mengampuni jiwa orang justru orang-orang
itu disuruh memukulnya. Walaupun ragu-ragu, diam-diam si jengger
membatin apa salahnya jika dia benar-benar menghantam sekuatnya, kalau
sekali gitik dengan paruh ayamnya berhasil membinasakan orang, kan untung
malah. Andaikan tidak berhasil juga tidak menjadi soal, bukankah sang putri
sendiri yang menyuruhnya menyerang?
Sudah tentu Hek-bian-kun juga timbul pikiran yang sama, ia pikir betapa pun
kepandaianmu, asal kau tidak menangkis dan membalas, sekali jotos
tubuhmu pasti dapat kubikin peyot.
Begitulah dua orang satu pikiran, serentak mereka mengiakan perintah Liansing
Kiongcu, akan tetapi lagaknya masih pura-pura sungkan.
“Ayolah, tunggu apalagi?” omel Lian-sing Kiongcu dengan tertawa.
Mendadak Hek-bian-kun menubruk maju, kedua kepalan menghantam
sekaligus dengan keras, ditambah lagi bobot tubuhnya yang beratus-ratus
kati itu, tentu saja daya pukulannya bukan alang kepalang dahsyatnya. Akan
tetapi di antara pukulan dahsyat itu justru membawa gerakan yang lincah dan
gesit serta yang sukar diraba, pada detik terakhir barulah jelas arah yang
menjadi sasarannya, yaitu hulu hati Lian-sing Kiongcu.
Pukulan ini merupakan intisari ilmu silat yang diyakinkan Hek-bian-kun, jurus
ini bernama “Sin-tu-hoa-jio” atau si babi sakti sekuat gajah, dengan jurus
pukulannya ini entah betapa banyak tokoh kalangan Kangouw telah
dirobohkannya.
Dalam pada itu Su-sin-khek, si jengger ayam, secepat terbang juga melayang
maju, senjata paruh ayamnya gemerlap mencocok berbagai Hiat-to di bagian
dada Lian-sing Kiongcu.
Dengan sendirinya serangan si jengger ini pun merupakan jurus maut yang
jarang digunakannya. Jurus ini bernama “Sih-keh-thi-sing” atau ayam
berkokok di waktu subuh. Konon dengan jurus ini saja pernah sekaligus dia
membinasakan delapan piausu (jago pengawal) dari perusahaan pengawal
“Wi-bu-piaukiok”.
“Eh, boleh juga!” Lian-sing Kiongcu berseloroh.
Di tengah suara tertawa yang merdu, sekali telapak tangan kanannya meraih
perlahan bagai kupu-kupu menyelinap di antara hujan gerimis, lalu sekali lagi
melingkar balik, tahu-tahu si jengger ayam merasa serangannya yang lihai
kehilangan sasaran secara membingungkan, tangan sendiri seperti tidak mau
menurut perintah. Maksudnya ingin menyerang ke kanan, tapi justru
menyambar ke kiri, ingin dihentikan, justru tetap menyelonong ke depan.
Tanpa ampun lagi, terdengarlah suara “crat-cret” dua kali disusul pula dengan
dua kali jeritan ngeri.
Lian-sing Kiongcu masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa tanpa
bergerak, sebaliknya Hek-bian-kun sudah terjungkal, sedangkan Su-sin-khek
alias si jengger ayam mencelat jauh ke semak-semak rumput sana, merintih
sebentar, lalu tak bersuara lagi.
Pada dada Hek-bian-kun tampak menancap paruh baja si jengger ayam,
dengan meringis menahan sakit ia cabut paruh baja itu, darah seketika
menyembur bagai air mancur, dengan suara gemetar ia berkata, “Kau … kau
….”
“Aku kan tidak melukai kalian,” ujar Lian-sing Kiongcu sambil tertawa. “Kalian
sendiri yang saling hantam. Ai, apa sih gunanya?”
Mata Hek-bian-kun melotot gusar menatap sang putri, bibirnya bergerak
seperti ingin bicara sesuatu, tapi sepatah kata pun tak sempat terucap dan
untuk selamanya takkan terucap lagi.
Lian-sing-Kiongcu bergumam sendiri, “Jika kalian tidak berpikir ingin
membinasakan aku dan cara menyerang kalian agak ringan, tentu jiwa kalian
takkan melayang, betapa pun aku sudah memberi kesempatan hidup kepada
kalian bukan? Salah kalian sendiri!”
Di sebelah sana Kang Hong dan istrinya sama sekali tidak menghiraukan apa
yang terjadi di sebelah sini. Mereka sedang meronta ingin masuk ke dalam
kereta untuk memondong jabang bayi yang sedang menangis itu, tangan
mereka baru saja sempat meraba gurita si bayi, pada saat itu juga sebuah
tangan mendorong jabang bayi itu menjauhi tangan Kang Hong berdua.
Tangan yang menyingkirkan jabang bayi itu tampak putih mulus dengan
lengan baju sutera putih pula, namun tangan yang mulus itu ternyata lebih
halus daripada kain suteranya.
“Berikan . . . berikan padaku ….” pinta Kang Hong dengan suara parau.
“Ji-kiongcu, kumohon, sudilah … sudilah engkau menyerahkan orok itu
kepadaku,” si perempuan yang baru melahirkan itu pun memohon.
“Goat-loh,” jawab Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “Bagus sekali kau,
sungguh tidak nyana kau melahirkan anak bagi Kang Hong.”
Meski bicaranya seraya tertawa, namun tertawa yang pedih, hampa, penuh
rasa benci dan dendam.
Hoa Goat-loh, perempuan yang baru melahirkan itu berkata, “Kiongcu, hamba
… hamba bersalah … bersalah padamu, nam … namun anak ini tidak
berdosa, sudilah engkau mengampuni mereka.”
Termangu Lian-sing Kiongcu memandang sepasang anak kembar itu sambil
bergumam, “Ehm, anak yang montok, sungguh menyenangkan … alangkah
baiknya jika menjadi anakku ….” mendadak matanya menatap Kang Hong,
dengan penuh rasa benci dan dendam, menyesal dan juga kecewa. Sejenak
kemudian barulah dia berucap dengan perasaan hampa, “Kang Hong, kenapa
kau lakukan hal ini? Kenapa?”
“Tidak kenapa-apa, sebab aku cinta padanya,” jawab Kang Hong tegas.
“Kau mencintai dia?” teriak Lian-sing Kiongcu dengan suara serak. “Kau
mencintai seorang babu? Dalam hal apa Ciciku tidak melebihi budak ini? Kau
dilukai orang, Ciciku membawamu ke rumah dan merawatmu, selama
hidupnya tidak pernah berbuat sebaik itu kepada orang lain, tapi … tapi dia
justru begitu kesengsem padamu. Sebaliknya … sebaliknya kau malah …
malah minggat bersama babunya.”
Dengan ketus Kang Hong menjawab, “Baik, karena kau ingin tahu, biarlah
kujelaskan. Cicimu pada hakikatnya bukan manusia, dia cuma segumpal api,
sepotong es, sebilah pedang, bahkan boleh dikatakan setan, malaikat, tapi
sama sekali bukan manusia. Sedangkan dia ….” sampai di sini ia
mengalihkan pandangnya kepada Hoa Goat-loh, istrinya, dengan suara
lembut ia menyambung pula, “Dia … dia adalah manusia, manusia sejati,
manusia suci bersih. Dia sangat baik padaku, dapat memahami isi hatiku,
menyelami jiwaku. Di dunia ini hanya dia seorang yang mencintai hatiku,
sukmaku dan bukan cuma kesengsem pada wajah dan ragaku ini.”
“Plak!” mendadak pipi Kang Hong ditampar sekali oleh Lian-sing Kiongcu dan
bentaknya, “Ayo katakan … katakan lagi!”
“Inilah isi hatiku yang harus kuucapkan, kenapa tidak boleh kukatakan?”
jawab Kang Hong tegas.
“Kau hanya tahu dia sangat baik padamu, akan tetapi apakah kau tahu
bagaimana … bagaimana diriku ini padamu?” ucap Lian-sing Kiongcu.
“Sekalipun wajahmu ini buruk, biarpun wajahmu jelek bagai setan juga
kutetap … tetap ….” sampai di sini suaranya menjadi lemah dan tidak sanggup
melanjutkan lagi.
“Jadi … jadi Ji-kiongcu, engkau … engkau juga ….” dengan suara terputusputus
Hoa Goat-loh berkata. Baru sekarang ia paham isi hati bekas
junjungannya itu.
“Ya, memangnya aku tidak boleh menaruh hati padanya? Apakah aku tidak
boleh mencintai dia?” seru Lian-sing Kiongcu penasaran. “Apakah lantaran
badanku cacat, maka aku tidak … tidak berhak mencintai orang yang
kucintai? …. Orang cacat kan manusia, juga perempuan?!”
Dalam sekejap itu putri yang agung itu mendadak berubah sama sekali,
sejenak sebelumnya dia adalah manusia super yang berkuasa menentukan
mati-hidup seseorang secara tak terbantahkan. Tapi kini dia tidak lebih hanya
seorang perempuan belaka, seorang perempuan lemah yang bernasib
malang dan harus dikasihani. Air mata tampak meleleh di pipinya.
Sukar dipercaya bahwa tokoh ajaib, manusia super yang hampir menyerupai
dongeng di dunia Kangouw ini ternyata juga bisa mengucurkan air mata.
Seketika Kang Hong dan Hoa Goat-loh melenggong memandangi putri yang
agung tapi cacat badan itu.
Selang agak lama, dengan lesu Hoa Goat-loh berkata, “Ji-kiongcu, toh aku
tak dapat hidup lagi, selanjutnya … selanjutnya dia (maksudnya Kang Hong)
akan menjadi milikmu, maka kumohon sukalah engkau menolongnya, kuyakin
hanya engkau saja yang sanggup menyelamatkan dia.”
Tergetar tubuh Lian-sing Kiongcu, “selanjutnya dia akan menjadi milikmu”,
kalimat ini seperti anak panah menancap hulu hatinya.
Tapi mendadak Kang Hong bergelak tertawa, tertawa yang rawan, tertawa
yang jauh lebih memilukan daripada tangis siapa pun juga. Sorot matanya
yang sayu menatap Hoa Goat-loh, katanya dengan pedih, “Menyelamatkan
diriku? …. Di dunia ini siapa yang mampu menyelamatkan jiwaku? Jika
engkau mati, masakah aku dapat hidup sendirian? …. O, Goat-loh, masakah
sampai saat ini engkau masih belum memahami diriku?”
Hoa Goat-loh menahan air matanya yang hampir bercucuran pula, jawabnya
dengan suara lembut, “Aku paham, tentu saja kupahami dirimu, tapi kalau
engkau mati, siapalagi yang akan mengurus anak-anak kita?”
Suaranya kemudian berubah menjadi rintihan sedih, ia genggam tangan sang
suami dan berkata pula dengan air mata berlinang. “Inilah dosa perbuatan
kita. Kita tidak berhak meninggalkan dosa akibat perbuatan kita kepada
keturunan kita, sekalipun kau … kau pun tidak boleh, tidak berhak
mengelakkan kewajiban dengan jalan mencari kematian.”
Kang Hong tidak sanggup tertawa pilu pula, giginya yang tergigit sampai
gemertukan.
“Kutahu, mati memang jauh lebih mudah dan hidup akan lebih sukar dan
banyak duka derita,” kata Hoa Goat-loh pula dengan suara gemetar. “Tapi …
tapi kumohon, sudilah … sudilah engkau bertahan hidup demi anak-anak
kita.”
Air mata membasahi wajah Kang Hong, seperti orang dungu saja dia
bergumam, “Aku harus hidup? … Benarkah aku harus bertahan hidup ….”
“Ji-kiongcu,” pinta Hoa Goat-loh kepada sang putri, “betapa pun engkau harus
menyelamatkan dia. Apabila engkau memang pernah jatuh cinta padanya,
maka engkau tidak layak menyaksikan kematiannya di depanmu.”
“Begitukah?” ucap Lian-sing Kiongcu dengan acuh tak acuh.
“Kuyakin engkau pasti dapat menyelamatkan dia … pasti dapat,” seru Hoa
Goat-loh dengan parau.
Lian-sing Kiongcu menghela napas panjang, katanya, “Ya, memang aku
dapat menyelamatkan jiwanya ….”
Belum habis ucapannya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba berkumandang
suara seorang, “Kau keliru, tidak mungkin kau dapat menghidupkan dia, di
dunia ini tiada seorang pun mampu menyelamatkan dia.”
Suara orang ini sedemikian ringan mengambang tak menentu, nadanya
dingin, tanpa emosi dan mengederkan orang, tapi juga begitu halus, lembut
menggetarkan sukma. Rasanya tiada seorang pun yang sanggup melukiskan
nada suara yang menarik dan menyeramkan ini, tiada seorang pun di dunia
ini yang dapat melupakan nada suara ini bilamana sudah mendengarnya.
Jagat raya ini serasa membeku seketika oleh karena nada suara tadi yang
penuh mengandung hawa nafsu membunuh itu, senja yang semakin remang
itu seketika pun bertambah suram.
Tubuh Kang Hong gemetar laksana daun tertiup angin. Wajah Lian-sing
Kiongcu seketika pun pucat bagai mayat. Tanpa menoleh pun mereka tahu
siapa gerangan yang datang.
Begitulah sesosok bayangan putih tahu-tahu melayang tiba, entah melayang
dari mana dan datang sejak kapan, tahu-tahu sudah berdiri di depan mereka.
Baju pendatang itu putih laksana salju, rambut terurai dengan gaya indah
seperti bidadari yang baru turun dari kayangan, betapa cantik wajahnya
sungguh sukar untuk dilukiskan, sebab tiada seorang pun yang berani
menengadah untuk memandangnya. Pada tubuhnya seakan-akan
berpembawaan semacam daya pengaruh yang tak dapat dilawan sehingga
orang pun takut memandangnya.
Kepala Lian-sing Kiongcu juga tertunduk, sambil menggigit bibir ia menyapa,
“Cici, engkau … engkau juga datang.”
“Ya, aku pun datang, kau tidak menyangka bukan?” jawab sang kakak, Kiaugoat
Kiongcu, putri agung utama dari Ih-hoa-kiong yang termasyhur dan
disegani itu.
“Bilakah Cici datang kemari?” jawab Lian-sing Kiongcu pula, kepalanya
semakin menunduk.
“Kedatanganku tidak terlalu dini, hanya, hanya sempat mengikuti percakapan
orang banyak yang agaknya tidak suka didengar olehku,” ujar Kiau-goat
Kiongcu.
Terkilas pikiran dalam benak Kang Hong, dengan suara gemas ia berteriak,
“Jadi … jadi sejak tadi kau sudah datang. Kalau begitu si babi dan si ayam
dari Cap-ji-she-shio yang tadi sudah kabur lalu datang kembali lagi itu janganjangan
adalah perintahmu? Jadi semua rahasia itu telah kau katakan kepada
mereka?”
“Baru sekarang hal ini terpikir olehmu, bukankah sudah terlambat?” ujar Kiaugoat
Kiongcu.
Mata Kang Hong mendelik, dengan beringas ia berteriak, “Mengapa …
mengapa kau berbuat demikian? Bertindak sekeji ini?”
“Terhadap orang yang berhati keji, hatiku pasti sepuluh kali lebih keji
daripadanya,” jawab Kiau-goat.
“Toa-kiongcu,” jerit Hoa Goat-loh dengan menahan derita, “semuanya adalah
salahku, jangan … jangan kau salahkan dia.”
Mendadak nada ucapan Kiau-goat Kiongcu berubah setajam sembilu,
katanya sekata demi sekata, “Kau masih berani bicara demikian padaku?”
Hoa Goat-loh ngesot di tanah, katanya dengan terputus-putus, “Hamb …
hamba ….”
“Baiklah, kau sudah bertemu denganku, kini … kini bolehlah kau mangkat!”
ucap Kiau-goat dengan tenang-tenang. “Mangkat” jelas berarti vonis
kematian.
Betapa takutnya Hoa Goat-loh dapat digambarkan bahwa menangis saja dia
tidak berani, dia hanya memejamkan mata dan menjawab lemah, “Terima
kasih Kiongcu.”
“Dia menghendaki kematianmu, mengapa kau malah berterima kasih
padanya?” teriak Kang Hong dengan kalap.
Tersungging senyuman pilu pada ujung mulut Hoa Goat-loh, jawabnya
perlahan, “Biarlah kumati lebih dulu sehingga takkan menyaksikan cara
bagaimana kematianmu dengan anak-anak kita, dengan demikian dapatlah
mengurangi sedikit siksa deritaku. Dan ini adalah … adalah kemurahan hati
Kiongcu, kan pantas jika aku berterima kasih kepada beliau.”
Ia membuka matanya, memandang Kang Hong sekejap, lalu memandang
pula kedua orok, walau hanya pandangan sekilas saja, namun betapa
mendalam kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dalam pandangan
sekilas itu sungguh tak terlukiskan.
Hati Kang Hong serasa remuk redam, teriaknya, “Goat-loh, kau tidak boleh
mati … tidak boleh mati ….”
Seri 1: Jilid 1-B. Pendekar Binal
“Kakak Hong, biarlah aku mangkat lebih dulu, akan … akan kutunggu engkau
di sana ….” lalu terpejamlah matanya dan tidak melek lagi untuk selamanya.
“Tunggu, Goat-loh!” jerit Kang Hong histeris, entah dari mana timbulnya
tenaga, mendadak ia menubruk ke atas tubuh sang istri. Tapi baru saja
tubuhnya bergerak, kontan ia dihantam roboh lagi oleh angin pukulan yang
keras.
“Kukira kau perlu berbaring dengan tenang,” ujar Kiau-goat.
“Selama hidupku tak pernah kumohon sesuatu kepada siapa pun,” kata Kang
Hong dengan suara gemetar, “Tapi sekarang … kumohon . . . kumohon
engkau sukalah berbuat bajik. Apa pun tidak kuinginkan, yang kuharap hanya
dapat mati bersama dengan Goat-loh.”
“Hm, jangan kau harap dapat menyentuh seujung jarinya lagi,” jawab Kiaugoat
ketus.
Kang Hong menatapnya dengan sorot mata membara, kalau saja sinar
matanya dapat membunuh orang, sejak tadi tentu orang itu sudah
dibunuhnya. Umpama api amarahnya juga dapat berkobar, tentu sejak tadi
putri itu pun sudah dibakarnya hidup-hidup.
Akan tetapi Kiau-goat Kiongcu masih tetap berdiri tenang saja di situ dengan
senyum mengejek. Mendadak Kang Hong mengakak tawa seperti orang gila,
tertawa histeris, tertawanya orang putus asa dan penuh benci, penuh
dendam.
“Hm, kau malah tertawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya Kiau-goat
Kiongcu mendongkol.
“Hahahaha!” Kalian anggap diri kalian manusia super, manusia yang lain
daripada yang lain? Kalian mengira dengan segala kemampuan kalian dapat
menguasai segala kehendakmu. Akan tetapi, hahaha, akan tetapi, bila aku
sudah mati, aku akan berkumpul bersama Goat-loh, untuk ini dapatkah kalian
merintangi kami?”
Di tengah gelak tertawa kalap itu, mendadak Kang Hong terkapar, suara
tertawanya mulai lemah dan akhirnya berhenti untuk selamanya.
Lian-sing Kiongcu menjerit perlahan dan memburu maju, dilihatnya golok
kutung tadi telah menancap ke dalam hulu hatinya, tamatlah riwayat sang
lelaki mahacakap itu.
Bulan sabit sudah menongol di cakrawala dengan cahayanya yang setengah
remang. Lian-sing Kiongcu berlutut mematung, hanya angin meniup
mengembus rambutnya yang halus itu, lama dan lama sekali barulah ia
bergumam, “Dia … dia sudah mati … akhirnya cita-citanya terkabul juga, tapi
… tapi bagaimana dengan engkau? ….” Mendadak ia bangkit dan
menghadapi sang kakak, yaitu Kiau-goat Kiongcu dan berteriak, “Ya,
bagaimana dengan kita?”
“Tutup mulutmu!” jawab Kiau-goat Kiongcu tak acuh.
“Aku justru ingin bicara!” seru Lian-sing Kiongcu “Apa yang telah kau peroleh
dengan tindakanmu ini? … engkau hanya membuat mereka semakin cintamencintai,
membuat mereka semakin benci padamu!”
“Plak”, belum habis ucapannya pipinya telah ditampar sekali oleh sang kakak.
Lian-sing Kiongcu tergetar mundur dua tindak. “Kau … kau ….” Ia tergegap
sambil meraba pipinya.
“Kau hanya tahu mereka benci padaku, tapi apakah kau pun tahu betapa
benciku padanya? Kubenci dia hingga darah menetes dari tubuhku ….”
Mendadak ia menyingsing lengan bajunya dan berteriak pula, “Lihatlah ini!”
Di bawah sinar bulan yang remang, lengannya yang putih mulus itu ternyata
penuh bintik-bintik merah. Lian-sing Kiongcu melengak, tanyanya, “Ini … ini …
sebab apa ini?”
Inilah bekas tusukan jarum yang kulakukan sendiri,” teriak Kiau-goat Kiongcu
dengan penuh emosi. “Sejak mereka kabur, aku menjadi benci, aku dendam
dan menyakiti diriku sendiri dengan tusukan jarum, setiap hari aku menyiksa
diriku sendiri untuk mengurangi rasa derita batin. Semuanya ini apakah kau
tidak tahu … apakah kau tidak tahu? ….” Sampai akhirnya suaranya menjadi
gemetar dan setengah terguguk.
Melihat lengan kakaknya yang penuh bintik merah berdarah itu, semula Liansing
Kiongcu melenggong, tapi mendadak ia menubruk ke dalam pelukan
Kiau-goat Kiongcu dengan air mata bercucuran, katanya dengan suara
tersedu, “O, tak kuduga bahwa … bahwa Cici juga menahan penderitaan
batin sehebat ini.”
Sambil merangkul pundak adiknya, Kiau-goat menengadah dan berucap
dengan rasa hampa, “Ya, betapa pun aku juga manusia, juga perempuan,
aku pun berperasaan seperti perempuan lain, aku pun mendambakan cinta,
tapi aku pun bisa iri, cemburu, dendam dan benci ….”
Cahaya sang dewi malam yang lembut menyinari rangkulan dua bayangan
tubuh menggiurkan. Kini mereka bukan lagi kedua putri agung dari Ih-hoakiong
yang disegani dan dihormati melainkan dua gadis biasa yang bernasib
malang seperti orang kebanyakan yang harus dikasihani.
“O, Cici, baru sekarang … baru sekarang kutahu engkau ….” Lian-sing
Kiongcu bergumam pula. Tapi Kiau-goat lantas mendorongnya dan
membentak, “Diam!”
Setelah tenangkan diri, Lian-sing Kiongcu berkata pula dengan rasa pedih,
“Cici, sudah lebih dua puluh tahun baru sekarang engkau merangkul diriku,
biarpun Cici tetap benci padaku, namun … namun hatiku sudah puas.”
Kiau-goat tidak memandangnya lagi barang sekejap, dengusnya, “Lekas
turun tangan!”



sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar