Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.02


Jilid 02
Air muka Kang Hong berubah pula, katanya, “Tampaknya mereka sudah datang!”
“Hahahaha! Memang benar, kami sudah datang!” mendadak terdengar orang bergelak tertawa di balik kereta sana. Suara tertawa itu pun seperti ayam berkotek, tajam, bising, menusuk telinga.
Selama hidup Kang Hong belum pernah mendengar suara tertawa yang begitu aneh. Dengan terkejut ia berpaling dan membentak tertahan, “Siapa itu?”
Begitu lenyap suara tertawa bagai ayam berkotek itu, dari belakang kereta lantas muncul enam-tujuh orang. Orang pertama bertubuh kurus kering, tingginya lebih lima kaki, bajunya berwarna merah membara sehingga tampak sangat mencolok, tidak serasi dan agak gaib. Orang kedua bertubuh jangkung, tingginya lebih dua meter, baju kuning dan kopiah kuning, muka penuh benjolan daging lebih dan tanpa emosi.
Menyusul adalah empat orang dengan dandanan yang lebih aneh, pakaian mereka terbuat dari potongan-potongan kain yang berwarna-warni sehingga mirip baju pengemis kaya di panggung sandiwara. Wajah dan perawakan keempat orang ini tidak sama, tapi tampak bengis dan tangkas, gerak-gerik pun seragam mirip orang berbaris.
Rada jauh di belakang sana mengikut pula seorang gemuk, begitu gemuk sehingga kulit daging bagian pipi dan perut seakan-akan kedodoran bergelantungan, berat badan keenam orang di depannya digabung seluruhnya mungkin juga tidak lebih berat daripada bobot si gemuk. Saking gemuknya sehingga jalannya kepayahan, kakinya seperti tidak sanggup menahan tubuh sendiri yang gede dan tambun itu, setiap langkah membuatnya terengah-engah.
“Wah, panasnya, bisa mampus aku!” demikian tiada hentinya si gemuk mengeluh dengan megap-megap dan bermandi keringat. Kang Hong melompat turun dari keretanya, sebisanya ia bersikap tenang dan menegur, “Apakah yang datang ini Su-sin-khek (si tamu penjaga subuh) dan Hek-bian-kun (tuan muka hitam) dari Cap-ji-she-shio adanya?”
Si baju merah tadi terkekeh-kekeh, jawabnya, “Tajam juga pandangan Kangkongcu. Cuma kami ini sesungguhnya hanya seekor ayam dan seekor babi saja, sebutan Su-sin-khek dan Hek-bian-kun yang sedap ini adalah hadiah teman-teman Kangouw, kami sendiri mana berani menerimanya.” Dengan sorot mata tajam Kang Hong berkata, “O, tentunya saudara ini ialah ….”
“Yang merah adalah jengger, yang kuning adalah dada dan yang belorok adalah ekor,” potong si baju merah dengan tertawa. “Mengenai kawan paling belakang itu, silakan kau menilai sendiri. Bentuknya mirip apa, maka itulah dia.”
“Entah ada petunjuk apakah dari kalian?” tanya Kang Hong.
“Konon Kang-kongcu mendapatkan pacar baru, kami bersaudara jadi ingin tahu macam apakah si dara cantik yang dapat memikat hati pangeran kita
mahacakap ini,” jawab si baju merah alias jengger jago. “Selain itu kami bersaudara juga ingin memohon sesuatu benda padamu.”
“Benda apakah yang kalian kehendaki?” tanya Kang Hong. Si jengger ayam bergelak tertawa, jawabnya, “Benda yang dapat menarik perhatian saudara gemuk kami sehingga dia memburu ke sini tanpa menghiraukan panas terik matahari, kukira pastilah bukan benda sembarang benda.”
Tepat pada saat itu si gemuk tadi alias Hek-bian-kun sudah mendekat dengan
napas terengah-engah dan menyambung dengan cengar-cengir, “Benar,
kalau bukan benda bagus, kan lebih enak kucari angin dan tidur di rumah
saja.”
Diam-diam hati Kang Hong tergetar, tapi sikapnya tetap tenang, katanya dengan suara berat, “Cuma sayang perjalananku ini tergesa-gesa sehingga tidak membawa suatu benda berharga apa pun yang dapat menarik minat para ahli seperti kalian ini.”
“Hehehe!” si jengger terkekeh-kekeh. “Kabarnya mendadak Kang-kongcu telah menjual seluruh harta benda dan meringkaskannya menjadi sekantong mutiara mestika dan batu manikam … hehe, rasanya Kang-kongcu juga tahu kami Cap-ji-she-shio biasanya tidak pernah pulang dengan tangan hampa, maka demi persahabatan, sudilah Kang-kongcu menghadiahkan kami sekantong ratna mutu manikam itu.”
“Haha, bagus, bagus!” Kang Hong juga tertawa. “Ternyata kalian tahu sejelas itu. Ya, aku pun tahu Cap-ji-she-shio biasanya tidak suka sembarangan turun tangan, dan sekali turun tangan tidak pernah pulang dengan tangan hampa, akan tetapi ….”
“Akan tetapi apa?” tukas si jengger merah. “Kau menolak?”
“Hehe, aku sih tidak menolak, hanya ….” belum habis Kang Hong menjengek, tahu-tahu bayangan berkelebat, ia sudah menubruk maju. Jengger ayam itu pun tidak kalah gesitnya, dalam sekejap itu tangannya sudah memegang semacam senjata berbentuk aneh, mirip paruh ayam dan serupa ganco. Secepat kilat ia menyerang, hanya sekejap saja ia melancarkan tujuh-delapan kali serangan dengan gaya yang aneh seperti ayam jantan mematuk dan menyerang dengan jalu atau taji, semuanya mengincar Hiat-to (titik urat darah) mematikan di tubuh Kang Hong.

Rada repot juga Kang Hong, mendadak ia loncat ke atas sehingga serangan maut itu dapat dielakkan. Tapi pada saat itu empat pasang “taji” ayam sudah menanti pula di bawah. Nyata, sekali jengger ayam bergerak, serentak keempat orang berbaju warnawarni yang merupakan ekor ayam juga menubruk maju, empat pasang taji ayam juga merupakan senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw, sekali paruh ayam mematuk, serentak taji ayam juga menyerang, kerja sama mereka sangat rapat sehingga mirip seorang dengan bertangan banyak. Memangnya Kang Hong sudah kewalahan, apalagi menghadapi serangan yang aneh ini, belum lagi si baju kuning yang merupakan dada mentok ayam itu masih mengawasi di samping dan sedang menunggu peluang untuk ikut menyerang.






sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar