jilid.03
“Hehehe!” Hek-bian-kun, si
babi hitam, terkekeh-kekeh. “Ayolah saudarasaudara,
tambah gas sedikit, supaya
lebih kencang. Kita bukan perempuan,
tidak perlu mendambakan kasih
sayang anak cakap ini, Eh, permisi sebentar
saudara-saudara, biar
kutengok dulu si cantik di dalam kereta itu.”
“Berhenti!” bentak Kang Hong
dengan murka. Maksudnya ingin mencegah,
akan tetapi tak berdaya sebab
ia direpotkan oleh berbagai macam senjata
aneh lawan-lawannya.
Sementara itu Hek-bian-kun
telah melangkah ke sana dengan gedebakgedebuk
dan segera hendak menarik
pintu kereta. Pada saat itulah
mendadak jendela kereta
terbuka sedikit dan terjulurlah sebuah tangan yang
putih halus, di antara jari
jemari yang putih mulus tanpa cacat itu terjepit
setangkai bunga Bwe (sakura).
Bukan bunga Bwe sembarang
bunga Bwe tapi bunga Bwe hitam.
Sungguh aneh bin ajaib ada
bunga Bwe mekar di musim panas, apalagi
bunga Bwe warna hitam.
Tangan yang putih, bunga Bwe
yang hitam, sungguh perbedaan yang
mencolok dan keindahan yang
gaib dan sukar dilukiskan.
Berbareng dengan terulurnya
tangan dengan bunga Bwe hitam itu, terdengar
pula ucapan dengan nada yang
manis, “Coba kalian lihat, apakah ini?”
Serentak muka Hek-bian-kun
berkerut-kerut mengejang, tangannya yang
hendak menarik daun pintu
kereta itu pun mendadak tak bergerak lagi.
Senjata paruh ayam dan taji
ayam juga berhenti di tengah udara. Keenam
bandit yang terkenal ganas
itu mendadak seperti kena sihir, semuanya
melongo kaku tak berani
bergerak.
“Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong!”
hanya kedua kalimat ini tercetus dari mulut Hekbian-
kun dengan tergegap-gegap.
“Eh, tajam juga pandanganmu,”
ujar orang di dalam kereta.
“Cayhe … hamba ….” gigi
Hek-bian-kun gemertuk sehingga tak sanggup
melanjutkan ucapannya.
“Kalian ingin mampus atau
tidak?” tanya orang di dalam kereta dengan suara
halus.
Dengan gemetar Hek-bian-kun
menjawab, “Hamba … hamba tidak ….”
“Kalau tidak ingin mampus,
kenapa tidak lekas pergi!”
Baru habis ucapan ini, tanpa
pamit lagi si merah, si kuning, si belorok dan si
hitam, semuanya kabur secepat
terbang. Langkah Hek-bian-kun sekarang
tidak lamban lagi, napasnya
juga tidak kempas-kempis, meski gemuk luar
biasa tubuhnya, tapi
kecepatan langkahnya kini melebihi siapa pun. Kalau
tidak menyaksikan sendiri
tentu tiada yang percaya orang segemuk itu
mempunyai gerak langkah sedemikian
cepat dan gesit.
Kang Hong lantas mendekati
jendela kereta dan bertanya dengan nada
khawatir, “Engkau tidak …
tidak apa-apa bukan?”
“Ah tidak, aku hanya memberi
salam saja kepada mereka,” ujar perempuan di
dalam kereta dengan tertawa.
Kang Hong menghela napas
lega, katanya pula, “Sungguh tak terduga
engkau telah membawa
setangkai Hek-giok-bwe-hoa (bunga Bwe kemala
hitam) dari istana sana,
tidak nyana bandit yang jahat seperti Cap-ji-she-shio
juga begitu takut pada
mereka.”
“Ya, dari itu dapatlah kau bayangkan
betapa lihainya mereka,” kata orang
dalam kereta “Maka lekas kita
berangkat saja, kalau ….”
Tiba-tiba terdengar angin
berkesiur, orang-orang yang kabur tadi kini sudah
datang kembali, bahkan
datangnya terlebih cepat daripada perginya tadi.
“Hehehe, hampir saja kami
tertipu,” demikianlah Hek-bian-kun terkekehkekeh.
“Apakah kalian tidak takut
mati?” gertak Kang Hong, tapi dalam hati,
sebenarnya sangat khawatir.
“Hehehe, jika yang berada di
dalam kereta benar-benar orang dari Ih-hoakiong,
mustahil tadi kami dapat
kabur dengan hidup!” kata Hek-bian-kun,
“Memangnya pernah kau dengar
bahwa Ih-hoa-kiongcu suka mengampuni
jiwa orang?”
Tiba-tiba orang di dalam
kereta menukas, “Sudah kuampuni kalian, mengapa
kalian malah ….”
“Barang tiruan, ayolah keluar
sini!” bentak Hek-bian-kun, mendadak ia
melompat maju, sekali hantam,
pintu kereta ditonjoknya hingga ambrol.
Yang duduk dalam kereta
memang seorang perempuan, perempuan muda
dengan rambut kusut dan wajah
pucat seperti orang sakit, walaupun demikian
sama sekali tidak mengurangi
cantiknya yang mempesona.







0 komentar:
Posting Komentar