Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.03




jilid.03
“Hehehe!” Hek-bian-kun, si babi hitam, terkekeh-kekeh. “Ayolah saudarasaudara,
tambah gas sedikit, supaya lebih kencang. Kita bukan perempuan,
tidak perlu mendambakan kasih sayang anak cakap ini, Eh, permisi sebentar
saudara-saudara, biar kutengok dulu si cantik di dalam kereta itu.”
“Berhenti!” bentak Kang Hong dengan murka. Maksudnya ingin mencegah,
akan tetapi tak berdaya sebab ia direpotkan oleh berbagai macam senjata
aneh lawan-lawannya.
Sementara itu Hek-bian-kun telah melangkah ke sana dengan gedebakgedebuk
dan segera hendak menarik pintu kereta. Pada saat itulah
mendadak jendela kereta terbuka sedikit dan terjulurlah sebuah tangan yang
putih halus, di antara jari jemari yang putih mulus tanpa cacat itu terjepit
setangkai bunga Bwe (sakura).
Bukan bunga Bwe sembarang bunga Bwe tapi bunga Bwe hitam.
Sungguh aneh bin ajaib ada bunga Bwe mekar di musim panas, apalagi
bunga Bwe warna hitam.
Tangan yang putih, bunga Bwe yang hitam, sungguh perbedaan yang
mencolok dan keindahan yang gaib dan sukar dilukiskan.
Berbareng dengan terulurnya tangan dengan bunga Bwe hitam itu, terdengar
pula ucapan dengan nada yang manis, “Coba kalian lihat, apakah ini?”
Serentak muka Hek-bian-kun berkerut-kerut mengejang, tangannya yang
hendak menarik daun pintu kereta itu pun mendadak tak bergerak lagi.
Senjata paruh ayam dan taji ayam juga berhenti di tengah udara. Keenam
bandit yang terkenal ganas itu mendadak seperti kena sihir, semuanya
melongo kaku tak berani bergerak.
“Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong!” hanya kedua kalimat ini tercetus dari mulut Hekbian-
kun dengan tergegap-gegap.
“Eh, tajam juga pandanganmu,” ujar orang di dalam kereta.
“Cayhe … hamba ….” gigi Hek-bian-kun gemertuk sehingga tak sanggup
melanjutkan ucapannya.
“Kalian ingin mampus atau tidak?” tanya orang di dalam kereta dengan suara
halus.
Dengan gemetar Hek-bian-kun menjawab, “Hamba … hamba tidak ….”
“Kalau tidak ingin mampus, kenapa tidak lekas pergi!”
Baru habis ucapan ini, tanpa pamit lagi si merah, si kuning, si belorok dan si
hitam, semuanya kabur secepat terbang. Langkah Hek-bian-kun sekarang
tidak lamban lagi, napasnya juga tidak kempas-kempis, meski gemuk luar
biasa tubuhnya, tapi kecepatan langkahnya kini melebihi siapa pun. Kalau
tidak menyaksikan sendiri tentu tiada yang percaya orang segemuk itu
mempunyai gerak langkah sedemikian cepat dan gesit.
Kang Hong lantas mendekati jendela kereta dan bertanya dengan nada
khawatir, “Engkau tidak … tidak apa-apa bukan?”
“Ah tidak, aku hanya memberi salam saja kepada mereka,” ujar perempuan di
dalam kereta dengan tertawa.
Kang Hong menghela napas lega, katanya pula, “Sungguh tak terduga
engkau telah membawa setangkai Hek-giok-bwe-hoa (bunga Bwe kemala
hitam) dari istana sana, tidak nyana bandit yang jahat seperti Cap-ji-she-shio
juga begitu takut pada mereka.”
“Ya, dari itu dapatlah kau bayangkan betapa lihainya mereka,” kata orang
dalam kereta “Maka lekas kita berangkat saja, kalau ….”
Tiba-tiba terdengar angin berkesiur, orang-orang yang kabur tadi kini sudah
datang kembali, bahkan datangnya terlebih cepat daripada perginya tadi.
“Hehehe, hampir saja kami tertipu,” demikianlah Hek-bian-kun terkekehkekeh.
“Apakah kalian tidak takut mati?” gertak Kang Hong, tapi dalam hati,
sebenarnya sangat khawatir.
“Hehehe, jika yang berada di dalam kereta benar-benar orang dari Ih-hoakiong,
mustahil tadi kami dapat kabur dengan hidup!” kata Hek-bian-kun,
“Memangnya pernah kau dengar bahwa Ih-hoa-kiongcu suka mengampuni
jiwa orang?”
Tiba-tiba orang di dalam kereta menukas, “Sudah kuampuni kalian, mengapa
kalian malah ….”
“Barang tiruan, ayolah keluar sini!” bentak Hek-bian-kun, mendadak ia
melompat maju, sekali hantam, pintu kereta ditonjoknya hingga ambrol.
Yang duduk dalam kereta memang seorang perempuan, perempuan muda
dengan rambut kusut dan wajah pucat seperti orang sakit, walaupun demikian

sama sekali tidak mengurangi cantiknya yang mempesona.




sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar