Jilid.05
“Huh, siapa yang berada di
dalam kereta? Memangnya kau sangka aku tidak
tahu? Dia tidak lebih adalah
budak pelarian dari Ih-hoa-kiong, memangnya
kau ingin menggertak kami?”
demikian jengek si jengger ayam.
Tergetar hati Kang Hong,
walaupun ia berusaha tetap tertawa, namun lebih
tepat dikatakan menyengir.
Hek-bian-kun terkekeh-kekeh,
katanya, “Kang-kongcu terkejut lagi bukan?
Mungkin kau ingin tanya dari
mana kami tahu urusan ini? Hehe, inilah rahasia
besar, betapa pun kau tak
dapat menerka dan juga tidak pernah
membayangkannya.”
Ya, memang betul inilah rahasia,
rahasia besar. Bahwasanya Kang Hong
sengaja kabur meninggalkan
rumahnya justru disebabkan ingin menghindari
pengejaran kedua Kiongcu dari
Ih-hoa-kiong.
Rahasia ini boleh dikatakan
tidak diketahui oleh siapa pun kecuali dia sendiri
dan istrinya, tapi sekarang
orang-orang dari Cap-ji-she-shio ini justru
mengetahui juga. Dari manakah
mereka mendapat tahu?
Sungguh Kang Hong tidak habis
mengerti, tapi ia pun tidak mau
memikirkannya lagi, wanita
yang baru melahirkan itu sedang merintih, si
jabang bayi sedang menangis,
tapi di sekitar kereta ini berjajar kawanan
bandit yang sudah biasa
membunuh orang tanpa berkedip.
Secepat kilat Kang Hong
menerjang maju, namun sinar golok lantas
berkelebat, ia sudah diadang
oleh si baju kuning, si dada ayam.
Sepasang golok menyerupai
sayap ayam tipis laksana kertas, tapi buatan dari
baja murni, tajamnya tidak
kepalang, dalam sekejap saja tubuh Kang Hong
sudah terkurung di tengah
cahaya golok.
Kang Hong tidak gentar,
sebaliknya malah menerjang, ia menyelinap kian
kemari di tengah jaringan
sinar golok lawan, secepat kilat ia samber
pergelangan tangan si baju
kuning, sekali tarik dan puntir, sebuah golok
musuh sudah dirampasnya.
Menyusul sebelah kakinya menendang perut si
baju kuning, sedangkan golok
rampasan menebas ke belakang untuk
menangkis serangan si jengger
ayam, menyusul mana tubuhnya menerobos
ke sana di bawah cakar ayam,
sekaligus goloknya terus membacok Hek-biankun.
Beberapa gerak serangan itu
dilakukannya dengan cepat, ganas, tepat dan
berbahaya pula,
senjata-senjata musuh hampir semuanya menyerempet
lewat bajunya.
Meski Hek-bian-kun sempat
mengelakkan bacokan Kang Hong, tidak urung ia
pun kaget hingga berkeringat
dingin, cepat ia balas menyerang sambil
memperingatkan
kawan-kawannya, “Awas, bocah ini sudah nekat!”
Apabila seseorang sudah
nekat, sepuluh orang pun repot menghadapinya.
Hal ini cukup diketahui
kawanan bandit itu. Maka mereka tidak berani
menghadapi Kang Hong secara
berhadapan, mereka terus menggeser kian
kemari untuk mengulur waktu.
Serangan Kang Hong semakin
kalap, tapi selalu mengenai tempat kosong.
Hek-bian-kun terus menerus
tertawa mengejek. Si baju kuning meski sudah
kehilangan sebuah goloknya,
tapi golok yang masih ada itu terkadang juga
melancarkan serangan maut.
Empat pasang taji ayam juga bekerja sama
dengan rapat, serangannya
gencar sukar diduga dan membuat Kang Hong
mati kutu. Belum lagi si baju
merah, si jengger ayam, ia menyelinap kian
kemari dan mematuk dengan
paruh baja yang lihai.
Rambut Kang Hong sudah
semrawut, suaranya serak, demi membela jiwa
kekasihnya, si mahacakap ini
kini tampaknya sudah menyerupai binatang
gila. Percuma dia bertempur
mati-matian, singa yang sudah masuk
perangkap, sekalipun mengadu
jiwa juga sudah tiada gunanya.
Senja semakin remang, suasana
semakin tegang. Pertarungan sengit ini
sungguh menggetar sukma, juga
mengerikan.
Kang Hong sudah mandi darah
bercampur keringat, imbalannya adalah
tertawa ejek yang menggila
dari pihak musuh.
“Kakak Hong, hati-hatilah ….”
demikian terdengar rintihan dari dalam kereta.
“Asalkan engkau sabar, mereka
pasti bukan tandinganmu!”
Mendadak Hek-bian-kun
melompat ke sana, sekaligus ia tarik tirai kereta.
Untuk sejenak ia melengak,
tapi segera ia tertawa menyeringai, “Aha, besar
juga rezeki anak keparat ini.
Ternyata melahirkan kembar dua!”
“Minggir, bangsat!” teriak
Kang Hong dengan suara parau.
Dengan kalap ia menerjang
maju, tapi sekali sampuk ia tertolak mundur.
Dengan nekat ia menubruk maju
pula, kembali didesak mundur dan begitulah
hingga terjadi beberapa kali
dan tetap tidak berhasil tercapai maksudnya.
Mata Kang Hong sudah merah
beringas.
Dalam pada itu sebelah kaki
Hek-bian-kun sudah naik ke undakan kereta
sambil cengar-cengir.
“Bangsat!” teriak si wanita
dengan suara serak sambil merangkul kencang
kedua anak bayinya. “Kau …
kau berani ….”
“Hehehe!” Hek-bian-kun
terkekeh-kekeh. “Manisku, jangan khawatir, takkan
kuganggu kau. Hehe, nanti
kalau kau sudah sehat, malahan aku ingin … ingin
… hahaha ….”
“Bangsat,” teriak Kang Hong
murka. “Jika kau berani menyentuhnya ….”
Mendadak Hek-bian-kun mencolek
pipi perempuan cantik yang baru
melahirkan itu dan mendengus,
“Hm, ini, sudah kusentuh dia, kau mau apa?”







0 komentar:
Posting Komentar