Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.05



Jilid.05
“Huh, siapa yang berada di dalam kereta? Memangnya kau sangka aku tidak
tahu? Dia tidak lebih adalah budak pelarian dari Ih-hoa-kiong, memangnya
kau ingin menggertak kami?” demikian jengek si jengger ayam.
Tergetar hati Kang Hong, walaupun ia berusaha tetap tertawa, namun lebih
tepat dikatakan menyengir.
Hek-bian-kun terkekeh-kekeh, katanya, “Kang-kongcu terkejut lagi bukan?
Mungkin kau ingin tanya dari mana kami tahu urusan ini? Hehe, inilah rahasia
besar, betapa pun kau tak dapat menerka dan juga tidak pernah
membayangkannya.”
Ya, memang betul inilah rahasia, rahasia besar. Bahwasanya Kang Hong
sengaja kabur meninggalkan rumahnya justru disebabkan ingin menghindari
pengejaran kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong.
Rahasia ini boleh dikatakan tidak diketahui oleh siapa pun kecuali dia sendiri
dan istrinya, tapi sekarang orang-orang dari Cap-ji-she-shio ini justru
mengetahui juga. Dari manakah mereka mendapat tahu?
Sungguh Kang Hong tidak habis mengerti, tapi ia pun tidak mau
memikirkannya lagi, wanita yang baru melahirkan itu sedang merintih, si
jabang bayi sedang menangis, tapi di sekitar kereta ini berjajar kawanan
bandit yang sudah biasa membunuh orang tanpa berkedip.
Secepat kilat Kang Hong menerjang maju, namun sinar golok lantas
berkelebat, ia sudah diadang oleh si baju kuning, si dada ayam.
Sepasang golok menyerupai sayap ayam tipis laksana kertas, tapi buatan dari
baja murni, tajamnya tidak kepalang, dalam sekejap saja tubuh Kang Hong
sudah terkurung di tengah cahaya golok.
Kang Hong tidak gentar, sebaliknya malah menerjang, ia menyelinap kian
kemari di tengah jaringan sinar golok lawan, secepat kilat ia samber
pergelangan tangan si baju kuning, sekali tarik dan puntir, sebuah golok
musuh sudah dirampasnya. Menyusul sebelah kakinya menendang perut si
baju kuning, sedangkan golok rampasan menebas ke belakang untuk
menangkis serangan si jengger ayam, menyusul mana tubuhnya menerobos
ke sana di bawah cakar ayam, sekaligus goloknya terus membacok Hek-biankun.
Beberapa gerak serangan itu dilakukannya dengan cepat, ganas, tepat dan
berbahaya pula, senjata-senjata musuh hampir semuanya menyerempet
lewat bajunya.
Meski Hek-bian-kun sempat mengelakkan bacokan Kang Hong, tidak urung ia
pun kaget hingga berkeringat dingin, cepat ia balas menyerang sambil
memperingatkan kawan-kawannya, “Awas, bocah ini sudah nekat!”
Apabila seseorang sudah nekat, sepuluh orang pun repot menghadapinya.
Hal ini cukup diketahui kawanan bandit itu. Maka mereka tidak berani
menghadapi Kang Hong secara berhadapan, mereka terus menggeser kian
kemari untuk mengulur waktu.
Serangan Kang Hong semakin kalap, tapi selalu mengenai tempat kosong.
Hek-bian-kun terus menerus tertawa mengejek. Si baju kuning meski sudah
kehilangan sebuah goloknya, tapi golok yang masih ada itu terkadang juga
melancarkan serangan maut. Empat pasang taji ayam juga bekerja sama
dengan rapat, serangannya gencar sukar diduga dan membuat Kang Hong
mati kutu. Belum lagi si baju merah, si jengger ayam, ia menyelinap kian
kemari dan mematuk dengan paruh baja yang lihai.
Rambut Kang Hong sudah semrawut, suaranya serak, demi membela jiwa
kekasihnya, si mahacakap ini kini tampaknya sudah menyerupai binatang
gila. Percuma dia bertempur mati-matian, singa yang sudah masuk
perangkap, sekalipun mengadu jiwa juga sudah tiada gunanya.
Senja semakin remang, suasana semakin tegang. Pertarungan sengit ini
sungguh menggetar sukma, juga mengerikan.
Kang Hong sudah mandi darah bercampur keringat, imbalannya adalah
tertawa ejek yang menggila dari pihak musuh.
“Kakak Hong, hati-hatilah ….” demikian terdengar rintihan dari dalam kereta.
“Asalkan engkau sabar, mereka pasti bukan tandinganmu!”
Mendadak Hek-bian-kun melompat ke sana, sekaligus ia tarik tirai kereta.
Untuk sejenak ia melengak, tapi segera ia tertawa menyeringai, “Aha, besar
juga rezeki anak keparat ini. Ternyata melahirkan kembar dua!”
“Minggir, bangsat!” teriak Kang Hong dengan suara parau.
Dengan kalap ia menerjang maju, tapi sekali sampuk ia tertolak mundur.
Dengan nekat ia menubruk maju pula, kembali didesak mundur dan begitulah
hingga terjadi beberapa kali dan tetap tidak berhasil tercapai maksudnya.
Mata Kang Hong sudah merah beringas.
Dalam pada itu sebelah kaki Hek-bian-kun sudah naik ke undakan kereta
sambil cengar-cengir.
“Bangsat!” teriak si wanita dengan suara serak sambil merangkul kencang
kedua anak bayinya. “Kau … kau berani ….”
“Hehehe!” Hek-bian-kun terkekeh-kekeh. “Manisku, jangan khawatir, takkan
kuganggu kau. Hehe, nanti kalau kau sudah sehat, malahan aku ingin … ingin
… hahaha ….”
“Bangsat,” teriak Kang Hong murka. “Jika kau berani menyentuhnya ….”
Mendadak Hek-bian-kun mencolek pipi perempuan cantik yang baru

melahirkan itu dan mendengus, “Hm, ini, sudah kusentuh dia, kau mau apa?”



sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar