Jilid.09
“Turun … turun tangan?
Terhadap … terhadap siapa?”
“Siapalagi? Kedua orok itu!”
kata Kiau-goat dengan nada kaku dingin.
“Kedua anak itu?” Lian-sing
menegas dengan tergegap. “Tapi mereka baru …
baru saja dilahirkan, masakah
Cici ….”
“Pokoknya anak mereka tak
boleh ditinggalkan!” ujar Kiau-goat. “Jika anak
mereka tidak mati, asal
teringat olehku mereka ini adalah anak Kang Hong
dan budak hina itu, tentu aku
akan menderita, aku akan menderita selama
hidup. Nah, lekas turun
tangan!”
“Aku … aku tidak tega, Cici,
tidak tega turun tangan!”
“Baiklah, biar aku sendiri
yang melakukannya!” dengan gesit Kiau-goat jemput
golok di tanah, sekali sinar
golok berkelebat, secepat kilat lantas menyambar
ke arah kedua jabang bayi
yang tidur nyenyak di dalam kereta.
Mendadak Lian-sing Kiongcu
merangkul tangan sang kakak sekuatnya
sehingga ujung golok cuma
sempat menggores sejalur luka pada wajah salah
satu anak itu. Seketika orok
itu terjaga bangun dan menangis.
“Kau berani merintangi aku?”
bentak Kiau-goat gusar.
“Cici, kupikir … kupikir ….”
suara Lian-sing setengah meratap.
“Lepaskan tanganmu! Kau
berani merintangi aku? Memangnya kau sendiri
ingin mampus?”
“Maksudku bukan merintangi
tindakanmu, Cici,” tiba-tiba nada Lian-sing
berubah. “Justru mendadak aku
mendapatkan suatu gagasan bagus yang
jauh lebih bagus daripada
kita membunuh kedua anak ini.”
Kiau-goat merandek ragu,
akhirnya ia bertanya, “Apa gagasanmu?”
“Bukankah merasuk tulang
benci Cici terhadap budak hina itu? Juga benci
Cici kepada bocah she Kang
itu kukira tidaklah berkurang. Nah, apa
faedahnya jika kita membunuh
kedua anak yang tidak tahu apa-apa ini? Pada
hakikatnya sekarang pun
mereka tidak kenal apa artinya menderita.”
“Habis bagaimana jika kita
tidak membunuh mereka?”
“Agar benar-benar dapat
melampiaskan dendam kita, kedua anak ini harus
dibuat menderita dan sengsara
selama hidup, dengan demikian, walaupun
bocah she Kang dan budak hina
itu sudah mampus juga takkan tenteram di
akhirat.”
Sorot mata Kiau-goat menatap
dingin kepada adiknya, “Mengapa sikapmu
berubah terhadap mereka?”
“Tidak, aku tidak berubah,
benciku kepada mereka pun merasuk tulang,
bahkan … bahkan jauh lebih
mendalam daripada Cici.”
“Baik, coba jelaskan cara
bagaimana membuat kedua anak ini sengsara dan
menderita selama hidup?”
“Sesudah kawanan ayam dan
babi dari Cap-ji-she-shio tadi mampus semua,
kini di dunia ini tiada
seorang lagi yang mengetahui bahwa Kang Hong dan si
budak hina itu mempunyai anak
kembar, bukan?”
Seketika Kiau-goat belum
dapat meraba jalan pikiran adiknya itu, ia hanya
mengangguk dan membenarkan.
“Nah, dengan sendirinya kedua
bayi ini juga tidak tahu apa-apa, bukan?”
“Hm, tidak perlu bicara
bertele-tele,” jengek Kiau-goat Kiongcu.
“Tapi masih ada seorang Yan
Lam-thian yang mengaku sebagai jago pedang
nomor satu di jagat ini, dia
adalah sahabat karib Kang Hong, ia sudah berjanji
akan memapak Kang Hong di
jalan ini, kalau tidak, tentu Kang Hong takkan
mengambil jalan sepi ini ….”
“Tampaknya luas juga sumber
beritamu!”
“Tapi yang penting kedatangan
Yan Lam-thian ke sini ternyata terlambat.”
“Memangnya bagaimana kalau
dia terlambat?” jengek Kiau-goat.
“Jika begitu, akhirnya dia
kan pasti akan datang ke sini, bukan?”
Kiau-goat menjadi gusar,
teriaknya, “Mengapa bicaramu selalu putar kayun
dan bertele-tele, kau kenal
watakku tidak?”
“Sabar sejenak, Cici,” ujar
Lian-sing dengan tersenyum. “Sekarang kalau kita
membawa pergi salah satu anak
kembar ini dan tinggalkan satu di sini, bila
Yan Lam-thian datang, tentu
dia akan membawa pergi anak yang kita
tinggalkan ini dan merawat
serta membesarkannya, malahan bukan mustahil
akan mengajarkan anak itu
dengan segenap ilmu silatnya demi untuk
menuntut balas sakit hati
atas kematian ayah-bunda anak itu, betul tidak?”
“Ehm, anggap saja betul,”
dengus Kiau-goat.
“Nah, kalau kita meninggalkan
suatu bekas pukulan di tubuh Kang Hong,
tentu mereka akan kenal bahwa
apa yang terjadi ini adalah perbuatan Ih-hoakiongcu
dan kelak setelah anak itu
dewasa, pasti juga Ih-hoa-kiongcu yang
akan menjadi sasarannya untuk
menuntut balas, bukan?”
“Ya, betul juga,” jawab
Kiau-goat Kiongcu. Sorot matanya gemerlap,
tampaknya hatinya mulai
goyang.
“Sementara itu anak yang kita
bawa tentu juga sudah besar, dan sebagai ahli
waris Ih-hoa-kiong, tentunya
ia pun menguasai segenap ilmu silat ajaran kita.
Sebagai lelaki satu-satunya
di Ih-hoa-kiong, apabila kita kedatangan musuh,
dengan sendirinya dia akan
tampil ke muka untuk menghadapi segala
tantangan. Sudah tentu dia
takkan mengetahui bahwa musuh yang datang
adalah saudara sekandungnya,
bahkan saudara kembarnya, di dunia ini juga
tiada orang lain yang tahu
hubungan sedarah sedaging mereka dan dengan
demikian ….”
“Mereka akan berubah menjadi
musuh dan akan duel satu sama yang lain,
begitu bukan maksudmu?” sela
Kiau-goat Kiongcu.
“Tepat,” seru
Lian-sing-Kiongcu dengan tertawa. “Tatkala mana si adik
bertekad membunuh kakak dan
sang kakak juga berkeras ingin
membinasakan si adik. Mereka
adalah saudara kembar, kepintaran dan
kecerdasan mereka tentu
seimbang, dengan begitu cara mereka mengadu
akal dan tenaga tentu akan
berlangsung dengan sangat dahsyat dan entah
akan berlangsung berapa lama
baru dapat membinasakan pihak lawan.”
“Ehm, rasanya menarik juga
peristiwa demikian,” ujar Kiau-goat dengan
tersenyum.
“Tentu saja sangat menarik,
bukankah jauh lebih menyenangkan daripada
kita membunuh mereka
sekarang?”
“Benar, kita tidak perlu urus
siapa di antara mereka yang akan terbunuh,
cukup bagi kita untuk
memberitahukan rahasia pribadi mereka ini kepada
yang hidup itu, tatkala mana,
hehe, air mukanya tentu sangat lucu dan
menarik sekali, akan tetapi,
kalau … kalau ada orang memberitahukan lebih
dulu rahasia ini kepada
mereka, maka apa yang bakal terjadi tentunya takkan
menarik lagi.”
“Di dunia ini pada hakikatnya
tiada orang lain lagi yang tahu persoalan ini
selain Cici ….”
“Dan kau !” sambung Kiau-goat
dengan dingin.
“Aku? Ya, hanya Cici dan aku.
Tapi usul ini datangnya dariku, masakah akan
kukatakan kepada orang lain?
Apalagi Cici kan kenal watakku, kejadian yang
bakal sangat menarik masakah
takkan kuikuti dengan seksama?”
Kiau-goat termenung sejenak,
katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya,
benar juga. Di dunia ini
mungkin hanya kau yang mempunyai jalan pikiran
seaneh ini. Dengan gagasanmu
ini, kukira kau pun takkan membocorkan
rahasia ini kepada siapa
pun.”
“Gagasan ini selain aneh juga
pasti sangat berguna,” ujar Lian-sing Kiongcu
dengan tertawa. “Yang paling
lucu adalah mereka sebenarnya saudara
kembar, tapi kini satu sudah
terluka mukanya, kalau sudah besar kelak
bentuk wajahnya pasti akan
berbeda. Tatkala mana di dunia ini siapa yang
menyangka bahwa kedua musuh
yang tak terleraikan ini sebenarnya adalah
sekandung, bahkan saudara
kembar.”
Sementara itu anak yang
terluka tadi sudah berhenti menangis, agaknya orok
itu pun ketakutan dan ngeri
oleh muslihat keji yang timbul dari dendam
kesumat dua orang perempuan
cantik ini. Kedua matanya yang kecil itu
terbelalak cemas seakan-akan
sudah dapat membayangkan macam-macam
siksa derita yang akan
dialaminya pada masa mendatang nanti.
Kiau-goat memandang kedua
orok itu sambil bergumam, “Belasan tahun lagi,
ya mungkin harus dua puluh
tahun lagi, kita harus menunggu … menunggu
sekian lamanya ….”
“Walaupun cukup lama harus
kita tunggu, tapi untuk balas dendam selain
cara ini kiranya tiada jalan
lain lagi. Asalkan kita berhasil melampiaskan sakit
hati, apalah artinya belasan
atau dua puluh tahun?”
Kiau-goat Kiongcu menghela
napas panjang penuh menyesal, katanya, “Ya,
kecuali dendam kesumat yang
merasuk tulang ini, di dunia ini rasanya tiada
persoalan lain yang dapat
membuatku menunggu sekian lamanya.”
*****
Sebuah jalan batu yang
tersapu bersih dengan beberapa rumah yang resik
dan sederhana, wajah penghuni
rumah-rumah itu pada umumnya tampak
ramah dan baik-baik. Inilah
sebuah kota kecil, sangat kecil.
Sinar sang surya memancari
jalan satu-satunya di kota kecil ini, sebuah panji
kain hijau lusuh tampak
terpancang pada satu-satunya kedai arak dengan
tulisan “Thay-pek-ki” atau
kedai Li Thay-pek (penyair termasyhur pada jaman
Tang dan terkenal gemar minum
arak).
Sudah biasa kedai kecil ini
sepi melulu, si pelayan malahan sedang
mengantuk dengan mendekap di
atas meja. Memang ada juga tamunya, di
meja sebelah sana duduk
sendirian seorang tamu.
Tapi si pelayan malas
melayani tamu demikian ini. Sudah beberapa hari tamu
ini selalu datang minum arak,
tapi selain minta satu poci arak murahan,
nyamikan atau makanan kecil
saja tidak mau keluarkan sepeser lebih, apalagi
daharan yang lezat-lezat.
Maklumlah, tamu ini
sesungguhnya terlalu miskin, begitu miskin sehingga
sepatu rumput butut yang
dipakainya itu sudah hampir bolong seluruhnya.
Namun dia sama sekali tidak merasa
rendah harga diri, dia duduk bersandar
dinding sambil berlipat kaki
dan menikmati araknya, tubuhnya yang kekar itu
laksana harimau kumbang yang
kemalas-malasan.
Poci arak di depannya
sementara itu sudah kosong, tampaknya orang itu pun
sudah mabuk, cahaya matahari
yang menyorot dari luar jendela itu menyinari
wajahnya yang kelihatan
kepucat-pucatan dengan jenggot yang pendek,
kedua alisnya yang tebal
dengan tulang pipinya yang menonjol itu tampak
menambah angkernya. Dengan
sebelah telapak tangannya yang kurus tapi
lebar itu dia menutupi
mukanya, tangan yang lain memegang sebatang
pedang karatan, akhirnya dia
mendengkur, tertidur.
Waktu itu baru lewat lohor,
kota kecil yang sunyi itu tiba-tiba menjadi riuh oleh
berdetaknya kaki kuda lari,
beberapa penunggang kuda tampak datang dan
berhenti di depan kedai arak
itu. Beberapa lelaki kekar dengan baju sutera
serentak melompat turun dan
masuk kedai arak itu sehingga kedai sekecil itu
seketika seakan-akan menjadi
penuh sesak.
Pinggang laki-laki paling
depan bergantung pedang, sikapnya berseri-seri
seperti orang baru mendapat
rezeki sehingga lubang-lubang pada mukanya
yang burik pun seakan-akan
bercahaya. Begitu dia melangkah masuk kedai,
serentak dia bergelak tertawa
dan berolok-olok, “Hahaha, kedai butut begini
juga pakai nama Thay-pek-ki.”
Lelaki di belakangnya bermuka
bulat dengan perut buncit, juga membawa
pedang, potongannya lebih
mirip saudagar dari pada jago silat. Dengan
tertawa ia menanggapi ucapan
kawannya tadi, “Lui-lotoa, engkau salah.
Meski syair Li Thay-pek
bernilai tinggi, tapi dia tetap rudin dan cocok
bertempat tinggal di kedai
buruk begini.” Lalu ia berteriak-teriak memanggil
pelayan, “Hai, pelayan,
bawakan arak dan daharan paling lezat, cepat!”
Setelah menenggak arak,
senda-gurau beberapa orang itu semakin riuh
seakan-akan anggap dunia ini
mereka punya dan menyepelekan orang lain.
Keruan lelaki kekar yang
mengantuk di pojok sana berkerut kening,
mendadak ia duduk menegak
sambil mengulet kemalas-malasan dan
bergumam, “Wah, bau busuk,
dari mana datangnya bau busuk ini ….”
sekonyong-konyong ia pun
menggebrak meja dan berteriak, “Pelayan,
tambahkan araknya!”
Suaranya yang menggelegar itu
membikin beberapa orang yang baru datang
itu berjingkat kaget. Orang
yang dipanggil Lui-lotoa tadi tampak aseran dan
berdiri hendak mencari
perkara, tapi seorang kawannya yang kurus kecil
cepat mencegahnya dan
membisikkannya, “Sabar dulu, Congpiauthau sudah
hampir tiba, buat apa kita
mencari gara-gara.”
Lui-lotoa mendengus dan duduk
kembali, setelah menenggak araknya, lalu
berkata pula, “He, Sun-losam,
apakah betul tempat ini yang dimaksud oleh
Congpiauthau, kau tidak salah
dengar?”
“Tanggung tidak salah, “jawab
Sun-losam, si kurus kecil tadi. “Kan Ci-jiko
sendiri juga dengar.”
Si lelaki muka bulat menukas,
“Ya, benar, memang tempat ini yang
dimaksudkan. Konon beliau
ingin menemui seorang ksatria besar, maka kita
disuruh membawa kadonya
menunggu di sini.”
“Apakah kau tahu siapa yang
hendak ditemui Congpiauthau kita?” tanya Luilotoa.
“Sudah tentu kutahu, “ujar
orang yang disebut Ci-jiko tadi, lalu dengan suara
tertahan ia menyebut nama
seseorang.
“Hah! Jadi dia yang
dimaksudkan? Masakah beliau sudi datang ke tempat
kecil ini?”
“Jika beliau tidak sudi
datang, buat apa Congpiauthau datang ke sini.”
Sikap beberapa orang itu lantas
prihatin demi mengetahui siapa yang hendak
ditemui pemimpin mereka,
walaupun masih tetap berkelakar, tapi suaranya
tidak berani lagi keras. Lalu
mereka pun bicara mengenai ksatria besar yang
dimaksudkan itu, konon pedang
sakti ksatria besar itu dapat memotong besi
seperti merajang sayur, di
malam hari bercahaya seperti sinar lampu.
“Memang, kalau saja tiada
pedang sehebat itu mana mungkin hanya sekejap
saja kepala kawanan Setan
Im-san itu terpenggal seluruhnya?”
“Ya, bukan saja ilmu
pedangnya maha sakti, bahkan Ginkangnya juga
mahahebat. Nah, bayangkan,
betapa tingginya tembok benteng kota Pakkhia,
dengan sekali loncat beliau
sanggup melintasinya.”
“Masakah benar?” si Lui-lotoa
melelet-lelet lidah.
“Mengapa tidak benar?” ujar
Ci-loji. “Konon petangnya dia habis minum di
kota Pakkhia, tapi sebelum
fajar dia sudah berada di Im-san, kawanan Setan
Im-san baru melihat
berkelebatnya sinar pedang dan kepala mereka pun
terpenggal satu per satu ….
He, konon sinar pedangnya terlihat hingga
ratusan li jauhnya, sungguh
luar biasa!”
Lelaki miskin yang duduk di
pojok sana juga sedang menggosok-gosok
pedangnya yang karatan itu,
lalu menenggak araknya, mendadak ia bergelak
tertawa dan berseru, “Hahaha!
Di dunia ini mana ada orang macam begitu!
Mana ada lagi pedang begitu?”
Kembali si Lui-lotoa naik
pitam, ia menggebrak meja dan berteriak, “Siapa itu
yang bicara? Lekas kemari
jika ingin kutonjok kepalamu?”
Lelaki rudin itu seperti
tidak memperhatikan ancaman Lui-lotoa, ia masih
menggosok pedangnya yang
karatan dan menenggak araknya seakan-akan
ucapan tadi bukan keluar dari
mulutnya.
Lui-lotoa tidak tahan lagi,
segera ia hendak memburu ke sana, tapi lagi-lagi ia
dicegah Ci-loji. Ia mengedipi
Lui-lotoa agar duduk kembali, lalu ia sendiri
mendekati lelaki rudin itu
dan menyapa, “He, kawan, tampaknya kau pun
berlatih pedang, makanya
merasa penasaran ketika mendengar kelihaian
ilmu pedang orang lain. Tapi
apakah engkau tahu siapakah gerangan tokoh
yang kami bicarakan itu?”
Dengan kemalas-malasan lelaki
rudin itu menengadah, tanyanya sambil
menyeringai, “Siapa?”
“Yan Lam-thian, Yan-tayhiap!
Si Pedang Sakti,” jawab Ci-loji.
“Haha, jika kawan benar-benar
berlatih pedang, tentu kau akan tunduk
mendengar nama ini.”
Tak terduga lelaki rudin itu
hanya berkedip-kedip saja seperti orang tidak tahu
apa-apa, tanyanya dengan
menyengir, “Yan Lam-thian?”
“Hahahaha!” Ci-loji tertawa
terpingkal-pingkal. “Nama Yan-tayhiap saja tak
pernah kau dengar, masakan
kau mengaku mahir ilmu pedang?”
“Jika demikian, agaknya kau
kenal orang she Yan itu?” tanya si lelaki miskin
dengan tertawa.
Ci-loji berbalik melengak,
tertawanya pun berhenti, jawabnya, “Ini, hehe, ini …
hahaha ….”
“Bagaimana macamnya orang she
Yan itu?” tanya pula lelaki itu dengan
tertawa, “dan bagaimana
dengan pedangnya itu ….”
Agaknya Lui-lotoa tidak tahan
lagi, ia memburu maju dan menggebrak meja
sambil berteriak, “Biarpun
kami tidak kenal dia, tapi kami yakin dia pasti lebih
gagah dan tampan daripada
macammu ini. Apalagi pedangnya, tentu beribu
kali lebih bagus daripada
pedang rongsokan milikmu ini.”
“Hahaha!” lelaki itu tertawa,
“tampaknya kau ini orang cerdik pandai,
mengapa pandanganmu begini
picik. Biarpun diriku tidak cakap, namun
pedangku ini justru ….”
“Hah, memangnya pedangmu ini
juga pedang sakti?” sela Lui-lotoa sambil
mengakak geli.
“Pedangku ini justru senjata
mahatajam, sanggup memotong besi seperti
merajang sayur.”
Belum habis lelaki itu
bicara, serentak orang banyak sudah tertawa gemuruh,
malahan Lui-lotoa sampai
terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang
mules, katanya, “Jika
pedangmu ini betul dapat memotong besi seperti
merajang sayur, maka kami
akan traktir kau makan minum sepuasmu,
bahkan ….”
“Baik,” tiba-tiba lelaki
rudin itu berdiri, “Coba lolos pedangmu!”
Selagi duduk tidaklah menarik
perhatian, begitu lelaki itu berdiri,
perawakannya yang tinggi
besar sungguh mengejutkan. Tubuh Lui-lotoa
sudah terhitung tegap, badan
Ci-loji juga terhitung gemuk, tapi kalau
dibandingkan perawakan orang
yang kekar itu rasanya menjadi tak berarti
sama sekali.
Dalam pada itu diam-diam
kedai arak itu kedatangan seorang pemuda
berwajah pucat berbaju hijau
dan berkopiah, sambil bersandar di depan meja
kasir, ia mengikuti apa yang
terjadi dengan tertawa.
Sementara itu Lui-lotoa telah
melolos pedangnya, katanya sambil
membusungkan dada, “Baik, ayo
boleh kita coba!”
“Nah, silakan kau bacok
sekuatnya,” kata lelaki miskin itu.
“Baik, awas ya, kalau terluka
jangan salahkan aku!” ujar Lui-lotoa sambil
menyeringai. Sekali angkat,
kontan pedangnya yang terbuat dari baja itu terus
menabas dari atas ke bawah.
Tapi lelaki rudin itu
tenang-tenang saja, tangan kiri memegang cawan arak
dan tangan kanan angkat
pedang karatannya menangkis ke atas. Terdengar
“trang” sekali, Lui-lotoa
tergetar mundur dan pedang sendiri tahu-tahu patah
menjadi dua.
Seketika semua orang
melenggong kaget dan hampir-hampir tidak percaya
pada matanya sendiri.
“Hahahaha! Apa abamu
sekarang?” Lelaki rudin itu terbahak-bahak sambil
mengelus, pedangnya yang
karatan itu.
Tentu saja Lui-lotoa
ternganga, katanya dengan tergegap, “Hebat, sungguh …
sungguh pedang hebat!”
“Tapi sayang pedang sehebat
ini berada di tangan orang rudin macam diriku
ini,” ujar lelaki miskin itu
dengan gegetun.
Mendadak sorot mata Lui-lotoa
menjadi terang, katanya, “He, apakah sahabat
mau menjual pedangmu ini?”
“Sebenarnya juga ada maksudku
untuk menjualnya, namun belum
mendapatkan pembelinya.”
“Eh, bagaimana kalau … kalau
dijual padaku saja?” tanya Lui-lotoa dengan
bersemangat.
Lelaki itu mengamat-amati
sejenak orang she Lui itu, lalu menjawab,
“Tampaknya kalian ini juga
orang gagah dan cocok memiliki pedangku ini.
Cuma … cuma pandanganmu
kurang tajam, belum lagi tentang harganya,
kira-kira kau berani bayar
berapa?”
“Ah, ini mudah … mudah
dirundingkan ….” Lui-lotoa kegirangan dan segera
mengumpulkan kawan-kawannya
untuk berunding, mereka berempat tampak
merogoh saku dan coba
menghitung-hitung bekal masing-masing.
Lelaki miskin tadi tetap
duduk di tempatnya dan minum arak tanpa ambil
pusing akan tingkah laku
Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.
Selang sejenak barulah
Lui-lotoa mendekati lelaki itu dan berkata dengan
ragu-ragu, “Sobat, bagai …
bagaimana kalau lima ratus tahil ….”
“Berapa?!” orang itu menegas
dengan setengah mendelik.
Lekas-lekas Lui-lotoa
berganti haluan, jawabnya, “O, bagaimana kalau …
kalau seribu tahil perak.
Bicara terus terang, kami berempat sudah … sudah
menguras seluruh isi saku
kami dan cuma dapat terkumpul sekian.”
Lelaki itu tampak termenung
sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya
pedangku ini adalah pusaka
yang sukar dinilai. Cuma kata peribahasa, bedak
halus dihadiahkan kepada si
cantik dan pedang kudu diberikan kepada
ksatria …. Baiklah, jadi,
seribu tahil perak kujual padamu.”
Khawatir orang menarik
kembali keputusannya, cepat Lui-lotoa
mengumpulkan seluruh isi saku
teman-temannya, lalu disodorkan ke depan
lelaki rudin itu sambil
berkata, “Ini, seribu tahil kontan, silakan hitung.”
Tanpa hitung-hitung lelaki
itu terus mengemasi seribu tahil perak itu dengan
sebuah kantong butut, katanya
dengan tertawa, “Sudahlah, tak perlu dihitung,
kupercaya penuh padamu. Nah,
inilah pedangnya, silakan diterima. Senjata
mestika hanya cocok bagi
pemiliknya yang bijaksana, selanjutnya kau harus
hati-hati menggunakannya,
kalau tidak senjata mestika juga akan berubah
menjadi besi tua yang tak
berguna ….”
.jpg)






0 komentar:
Posting Komentar