Jumat, 28 November 2014

Pendekar Binal - Eps.09




Jilid.09
“Turun … turun tangan? Terhadap … terhadap siapa?”
“Siapalagi? Kedua orok itu!” kata Kiau-goat dengan nada kaku dingin.
“Kedua anak itu?” Lian-sing menegas dengan tergegap. “Tapi mereka baru …
baru saja dilahirkan, masakah Cici ….”
“Pokoknya anak mereka tak boleh ditinggalkan!” ujar Kiau-goat. “Jika anak
mereka tidak mati, asal teringat olehku mereka ini adalah anak Kang Hong
dan budak hina itu, tentu aku akan menderita, aku akan menderita selama
hidup. Nah, lekas turun tangan!”
“Aku … aku tidak tega, Cici, tidak tega turun tangan!”
“Baiklah, biar aku sendiri yang melakukannya!” dengan gesit Kiau-goat jemput
golok di tanah, sekali sinar golok berkelebat, secepat kilat lantas menyambar
ke arah kedua jabang bayi yang tidur nyenyak di dalam kereta.
Mendadak Lian-sing Kiongcu merangkul tangan sang kakak sekuatnya
sehingga ujung golok cuma sempat menggores sejalur luka pada wajah salah
satu anak itu. Seketika orok itu terjaga bangun dan menangis.
“Kau berani merintangi aku?” bentak Kiau-goat gusar.
“Cici, kupikir … kupikir ….” suara Lian-sing setengah meratap.
“Lepaskan tanganmu! Kau berani merintangi aku? Memangnya kau sendiri
ingin mampus?”
“Maksudku bukan merintangi tindakanmu, Cici,” tiba-tiba nada Lian-sing
berubah. “Justru mendadak aku mendapatkan suatu gagasan bagus yang
jauh lebih bagus daripada kita membunuh kedua anak ini.”
Kiau-goat merandek ragu, akhirnya ia bertanya, “Apa gagasanmu?”
“Bukankah merasuk tulang benci Cici terhadap budak hina itu? Juga benci
Cici kepada bocah she Kang itu kukira tidaklah berkurang. Nah, apa
faedahnya jika kita membunuh kedua anak yang tidak tahu apa-apa ini? Pada
hakikatnya sekarang pun mereka tidak kenal apa artinya menderita.”
“Habis bagaimana jika kita tidak membunuh mereka?”
“Agar benar-benar dapat melampiaskan dendam kita, kedua anak ini harus
dibuat menderita dan sengsara selama hidup, dengan demikian, walaupun
bocah she Kang dan budak hina itu sudah mampus juga takkan tenteram di
akhirat.”
Sorot mata Kiau-goat menatap dingin kepada adiknya, “Mengapa sikapmu
berubah terhadap mereka?”
“Tidak, aku tidak berubah, benciku kepada mereka pun merasuk tulang,
bahkan … bahkan jauh lebih mendalam daripada Cici.”
“Baik, coba jelaskan cara bagaimana membuat kedua anak ini sengsara dan
menderita selama hidup?”
“Sesudah kawanan ayam dan babi dari Cap-ji-she-shio tadi mampus semua,
kini di dunia ini tiada seorang lagi yang mengetahui bahwa Kang Hong dan si
budak hina itu mempunyai anak kembar, bukan?”
Seketika Kiau-goat belum dapat meraba jalan pikiran adiknya itu, ia hanya
mengangguk dan membenarkan.
“Nah, dengan sendirinya kedua bayi ini juga tidak tahu apa-apa, bukan?”
“Hm, tidak perlu bicara bertele-tele,” jengek Kiau-goat Kiongcu.
“Tapi masih ada seorang Yan Lam-thian yang mengaku sebagai jago pedang
nomor satu di jagat ini, dia adalah sahabat karib Kang Hong, ia sudah berjanji
akan memapak Kang Hong di jalan ini, kalau tidak, tentu Kang Hong takkan
mengambil jalan sepi ini ….”
“Tampaknya luas juga sumber beritamu!”
“Tapi yang penting kedatangan Yan Lam-thian ke sini ternyata terlambat.”
“Memangnya bagaimana kalau dia terlambat?” jengek Kiau-goat.
“Jika begitu, akhirnya dia kan pasti akan datang ke sini, bukan?”
Kiau-goat menjadi gusar, teriaknya, “Mengapa bicaramu selalu putar kayun
dan bertele-tele, kau kenal watakku tidak?”
“Sabar sejenak, Cici,” ujar Lian-sing dengan tersenyum. “Sekarang kalau kita
membawa pergi salah satu anak kembar ini dan tinggalkan satu di sini, bila
Yan Lam-thian datang, tentu dia akan membawa pergi anak yang kita
tinggalkan ini dan merawat serta membesarkannya, malahan bukan mustahil
akan mengajarkan anak itu dengan segenap ilmu silatnya demi untuk
menuntut balas sakit hati atas kematian ayah-bunda anak itu, betul tidak?”
“Ehm, anggap saja betul,” dengus Kiau-goat.
“Nah, kalau kita meninggalkan suatu bekas pukulan di tubuh Kang Hong,
tentu mereka akan kenal bahwa apa yang terjadi ini adalah perbuatan Ih-hoakiongcu
dan kelak setelah anak itu dewasa, pasti juga Ih-hoa-kiongcu yang
akan menjadi sasarannya untuk menuntut balas, bukan?”
“Ya, betul juga,” jawab Kiau-goat Kiongcu. Sorot matanya gemerlap,
tampaknya hatinya mulai goyang.
“Sementara itu anak yang kita bawa tentu juga sudah besar, dan sebagai ahli
waris Ih-hoa-kiong, tentunya ia pun menguasai segenap ilmu silat ajaran kita.
Sebagai lelaki satu-satunya di Ih-hoa-kiong, apabila kita kedatangan musuh,
dengan sendirinya dia akan tampil ke muka untuk menghadapi segala
tantangan. Sudah tentu dia takkan mengetahui bahwa musuh yang datang
adalah saudara sekandungnya, bahkan saudara kembarnya, di dunia ini juga
tiada orang lain yang tahu hubungan sedarah sedaging mereka dan dengan
demikian ….”
“Mereka akan berubah menjadi musuh dan akan duel satu sama yang lain,
begitu bukan maksudmu?” sela Kiau-goat Kiongcu.
“Tepat,” seru Lian-sing-Kiongcu dengan tertawa. “Tatkala mana si adik
bertekad membunuh kakak dan sang kakak juga berkeras ingin
membinasakan si adik. Mereka adalah saudara kembar, kepintaran dan
kecerdasan mereka tentu seimbang, dengan begitu cara mereka mengadu
akal dan tenaga tentu akan berlangsung dengan sangat dahsyat dan entah
akan berlangsung berapa lama baru dapat membinasakan pihak lawan.”
“Ehm, rasanya menarik juga peristiwa demikian,” ujar Kiau-goat dengan
tersenyum.
“Tentu saja sangat menarik, bukankah jauh lebih menyenangkan daripada
kita membunuh mereka sekarang?”
“Benar, kita tidak perlu urus siapa di antara mereka yang akan terbunuh,
cukup bagi kita untuk memberitahukan rahasia pribadi mereka ini kepada
yang hidup itu, tatkala mana, hehe, air mukanya tentu sangat lucu dan
menarik sekali, akan tetapi, kalau … kalau ada orang memberitahukan lebih
dulu rahasia ini kepada mereka, maka apa yang bakal terjadi tentunya takkan
menarik lagi.”
“Di dunia ini pada hakikatnya tiada orang lain lagi yang tahu persoalan ini
selain Cici ….”
“Dan kau !” sambung Kiau-goat dengan dingin.
“Aku? Ya, hanya Cici dan aku. Tapi usul ini datangnya dariku, masakah akan
kukatakan kepada orang lain? Apalagi Cici kan kenal watakku, kejadian yang
bakal sangat menarik masakah takkan kuikuti dengan seksama?”
Kiau-goat termenung sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya,
benar juga. Di dunia ini mungkin hanya kau yang mempunyai jalan pikiran
seaneh ini. Dengan gagasanmu ini, kukira kau pun takkan membocorkan
rahasia ini kepada siapa pun.”
“Gagasan ini selain aneh juga pasti sangat berguna,” ujar Lian-sing Kiongcu
dengan tertawa. “Yang paling lucu adalah mereka sebenarnya saudara
kembar, tapi kini satu sudah terluka mukanya, kalau sudah besar kelak
bentuk wajahnya pasti akan berbeda. Tatkala mana di dunia ini siapa yang
menyangka bahwa kedua musuh yang tak terleraikan ini sebenarnya adalah
sekandung, bahkan saudara kembar.”
Sementara itu anak yang terluka tadi sudah berhenti menangis, agaknya orok
itu pun ketakutan dan ngeri oleh muslihat keji yang timbul dari dendam
kesumat dua orang perempuan cantik ini. Kedua matanya yang kecil itu
terbelalak cemas seakan-akan sudah dapat membayangkan macam-macam
siksa derita yang akan dialaminya pada masa mendatang nanti.
Kiau-goat memandang kedua orok itu sambil bergumam, “Belasan tahun lagi,
ya mungkin harus dua puluh tahun lagi, kita harus menunggu … menunggu
sekian lamanya ….”
“Walaupun cukup lama harus kita tunggu, tapi untuk balas dendam selain
cara ini kiranya tiada jalan lain lagi. Asalkan kita berhasil melampiaskan sakit
hati, apalah artinya belasan atau dua puluh tahun?”
Kiau-goat Kiongcu menghela napas panjang penuh menyesal, katanya, “Ya,
kecuali dendam kesumat yang merasuk tulang ini, di dunia ini rasanya tiada
persoalan lain yang dapat membuatku menunggu sekian lamanya.”
*****
Sebuah jalan batu yang tersapu bersih dengan beberapa rumah yang resik
dan sederhana, wajah penghuni rumah-rumah itu pada umumnya tampak
ramah dan baik-baik. Inilah sebuah kota kecil, sangat kecil.
Sinar sang surya memancari jalan satu-satunya di kota kecil ini, sebuah panji
kain hijau lusuh tampak terpancang pada satu-satunya kedai arak dengan
tulisan “Thay-pek-ki” atau kedai Li Thay-pek (penyair termasyhur pada jaman
Tang dan terkenal gemar minum arak).
Sudah biasa kedai kecil ini sepi melulu, si pelayan malahan sedang
mengantuk dengan mendekap di atas meja. Memang ada juga tamunya, di
meja sebelah sana duduk sendirian seorang tamu.
Tapi si pelayan malas melayani tamu demikian ini. Sudah beberapa hari tamu
ini selalu datang minum arak, tapi selain minta satu poci arak murahan,
nyamikan atau makanan kecil saja tidak mau keluarkan sepeser lebih, apalagi
daharan yang lezat-lezat.
Maklumlah, tamu ini sesungguhnya terlalu miskin, begitu miskin sehingga
sepatu rumput butut yang dipakainya itu sudah hampir bolong seluruhnya.
Namun dia sama sekali tidak merasa rendah harga diri, dia duduk bersandar
dinding sambil berlipat kaki dan menikmati araknya, tubuhnya yang kekar itu
laksana harimau kumbang yang kemalas-malasan.
Poci arak di depannya sementara itu sudah kosong, tampaknya orang itu pun
sudah mabuk, cahaya matahari yang menyorot dari luar jendela itu menyinari
wajahnya yang kelihatan kepucat-pucatan dengan jenggot yang pendek,
kedua alisnya yang tebal dengan tulang pipinya yang menonjol itu tampak
menambah angkernya. Dengan sebelah telapak tangannya yang kurus tapi
lebar itu dia menutupi mukanya, tangan yang lain memegang sebatang
pedang karatan, akhirnya dia mendengkur, tertidur.
Waktu itu baru lewat lohor, kota kecil yang sunyi itu tiba-tiba menjadi riuh oleh
berdetaknya kaki kuda lari, beberapa penunggang kuda tampak datang dan
berhenti di depan kedai arak itu. Beberapa lelaki kekar dengan baju sutera
serentak melompat turun dan masuk kedai arak itu sehingga kedai sekecil itu
seketika seakan-akan menjadi penuh sesak.
Pinggang laki-laki paling depan bergantung pedang, sikapnya berseri-seri
seperti orang baru mendapat rezeki sehingga lubang-lubang pada mukanya
yang burik pun seakan-akan bercahaya. Begitu dia melangkah masuk kedai,
serentak dia bergelak tertawa dan berolok-olok, “Hahaha, kedai butut begini
juga pakai nama Thay-pek-ki.”
Lelaki di belakangnya bermuka bulat dengan perut buncit, juga membawa
pedang, potongannya lebih mirip saudagar dari pada jago silat. Dengan
tertawa ia menanggapi ucapan kawannya tadi, “Lui-lotoa, engkau salah.
Meski syair Li Thay-pek bernilai tinggi, tapi dia tetap rudin dan cocok
bertempat tinggal di kedai buruk begini.” Lalu ia berteriak-teriak memanggil
pelayan, “Hai, pelayan, bawakan arak dan daharan paling lezat, cepat!”
Setelah menenggak arak, senda-gurau beberapa orang itu semakin riuh
seakan-akan anggap dunia ini mereka punya dan menyepelekan orang lain.
Keruan lelaki kekar yang mengantuk di pojok sana berkerut kening,
mendadak ia duduk menegak sambil mengulet kemalas-malasan dan
bergumam, “Wah, bau busuk, dari mana datangnya bau busuk ini ….”
sekonyong-konyong ia pun menggebrak meja dan berteriak, “Pelayan,
tambahkan araknya!”
Suaranya yang menggelegar itu membikin beberapa orang yang baru datang
itu berjingkat kaget. Orang yang dipanggil Lui-lotoa tadi tampak aseran dan
berdiri hendak mencari perkara, tapi seorang kawannya yang kurus kecil
cepat mencegahnya dan membisikkannya, “Sabar dulu, Congpiauthau sudah
hampir tiba, buat apa kita mencari gara-gara.”
Lui-lotoa mendengus dan duduk kembali, setelah menenggak araknya, lalu
berkata pula, “He, Sun-losam, apakah betul tempat ini yang dimaksud oleh
Congpiauthau, kau tidak salah dengar?”
“Tanggung tidak salah, “jawab Sun-losam, si kurus kecil tadi. “Kan Ci-jiko
sendiri juga dengar.”
Si lelaki muka bulat menukas, “Ya, benar, memang tempat ini yang
dimaksudkan. Konon beliau ingin menemui seorang ksatria besar, maka kita
disuruh membawa kadonya menunggu di sini.”
“Apakah kau tahu siapa yang hendak ditemui Congpiauthau kita?” tanya Luilotoa.
“Sudah tentu kutahu, “ujar orang yang disebut Ci-jiko tadi, lalu dengan suara
tertahan ia menyebut nama seseorang.
“Hah! Jadi dia yang dimaksudkan? Masakah beliau sudi datang ke tempat
kecil ini?”
“Jika beliau tidak sudi datang, buat apa Congpiauthau datang ke sini.”
Sikap beberapa orang itu lantas prihatin demi mengetahui siapa yang hendak
ditemui pemimpin mereka, walaupun masih tetap berkelakar, tapi suaranya
tidak berani lagi keras. Lalu mereka pun bicara mengenai ksatria besar yang
dimaksudkan itu, konon pedang sakti ksatria besar itu dapat memotong besi
seperti merajang sayur, di malam hari bercahaya seperti sinar lampu.
“Memang, kalau saja tiada pedang sehebat itu mana mungkin hanya sekejap
saja kepala kawanan Setan Im-san itu terpenggal seluruhnya?”
“Ya, bukan saja ilmu pedangnya maha sakti, bahkan Ginkangnya juga
mahahebat. Nah, bayangkan, betapa tingginya tembok benteng kota Pakkhia,
dengan sekali loncat beliau sanggup melintasinya.”
“Masakah benar?” si Lui-lotoa melelet-lelet lidah.
“Mengapa tidak benar?” ujar Ci-loji. “Konon petangnya dia habis minum di
kota Pakkhia, tapi sebelum fajar dia sudah berada di Im-san, kawanan Setan
Im-san baru melihat berkelebatnya sinar pedang dan kepala mereka pun
terpenggal satu per satu …. He, konon sinar pedangnya terlihat hingga
ratusan li jauhnya, sungguh luar biasa!”
Lelaki miskin yang duduk di pojok sana juga sedang menggosok-gosok
pedangnya yang karatan itu, lalu menenggak araknya, mendadak ia bergelak
tertawa dan berseru, “Hahaha! Di dunia ini mana ada orang macam begitu!
Mana ada lagi pedang begitu?”
Kembali si Lui-lotoa naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak, “Siapa itu
yang bicara? Lekas kemari jika ingin kutonjok kepalamu?”
Lelaki rudin itu seperti tidak memperhatikan ancaman Lui-lotoa, ia masih
menggosok pedangnya yang karatan dan menenggak araknya seakan-akan
ucapan tadi bukan keluar dari mulutnya.
Lui-lotoa tidak tahan lagi, segera ia hendak memburu ke sana, tapi lagi-lagi ia
dicegah Ci-loji. Ia mengedipi Lui-lotoa agar duduk kembali, lalu ia sendiri
mendekati lelaki rudin itu dan menyapa, “He, kawan, tampaknya kau pun
berlatih pedang, makanya merasa penasaran ketika mendengar kelihaian
ilmu pedang orang lain. Tapi apakah engkau tahu siapakah gerangan tokoh
yang kami bicarakan itu?”
Dengan kemalas-malasan lelaki rudin itu menengadah, tanyanya sambil
menyeringai, “Siapa?”
“Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Si Pedang Sakti,” jawab Ci-loji.
“Haha, jika kawan benar-benar berlatih pedang, tentu kau akan tunduk
mendengar nama ini.”
Tak terduga lelaki rudin itu hanya berkedip-kedip saja seperti orang tidak tahu
apa-apa, tanyanya dengan menyengir, “Yan Lam-thian?”
“Hahahaha!” Ci-loji tertawa terpingkal-pingkal. “Nama Yan-tayhiap saja tak
pernah kau dengar, masakan kau mengaku mahir ilmu pedang?”
“Jika demikian, agaknya kau kenal orang she Yan itu?” tanya si lelaki miskin
dengan tertawa.
Ci-loji berbalik melengak, tertawanya pun berhenti, jawabnya, “Ini, hehe, ini …
hahaha ….”
“Bagaimana macamnya orang she Yan itu?” tanya pula lelaki itu dengan
tertawa, “dan bagaimana dengan pedangnya itu ….”
Agaknya Lui-lotoa tidak tahan lagi, ia memburu maju dan menggebrak meja
sambil berteriak, “Biarpun kami tidak kenal dia, tapi kami yakin dia pasti lebih
gagah dan tampan daripada macammu ini. Apalagi pedangnya, tentu beribu
kali lebih bagus daripada pedang rongsokan milikmu ini.”
“Hahaha!” lelaki itu tertawa, “tampaknya kau ini orang cerdik pandai,
mengapa pandanganmu begini picik. Biarpun diriku tidak cakap, namun
pedangku ini justru ….”
“Hah, memangnya pedangmu ini juga pedang sakti?” sela Lui-lotoa sambil
mengakak geli.
“Pedangku ini justru senjata mahatajam, sanggup memotong besi seperti
merajang sayur.”
Belum habis lelaki itu bicara, serentak orang banyak sudah tertawa gemuruh,
malahan Lui-lotoa sampai terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang
mules, katanya, “Jika pedangmu ini betul dapat memotong besi seperti
merajang sayur, maka kami akan traktir kau makan minum sepuasmu,
bahkan ….”
“Baik,” tiba-tiba lelaki rudin itu berdiri, “Coba lolos pedangmu!”
Selagi duduk tidaklah menarik perhatian, begitu lelaki itu berdiri,
perawakannya yang tinggi besar sungguh mengejutkan. Tubuh Lui-lotoa
sudah terhitung tegap, badan Ci-loji juga terhitung gemuk, tapi kalau
dibandingkan perawakan orang yang kekar itu rasanya menjadi tak berarti
sama sekali.
Dalam pada itu diam-diam kedai arak itu kedatangan seorang pemuda
berwajah pucat berbaju hijau dan berkopiah, sambil bersandar di depan meja
kasir, ia mengikuti apa yang terjadi dengan tertawa.
Sementara itu Lui-lotoa telah melolos pedangnya, katanya sambil
membusungkan dada, “Baik, ayo boleh kita coba!”
“Nah, silakan kau bacok sekuatnya,” kata lelaki miskin itu.
“Baik, awas ya, kalau terluka jangan salahkan aku!” ujar Lui-lotoa sambil
menyeringai. Sekali angkat, kontan pedangnya yang terbuat dari baja itu terus
menabas dari atas ke bawah.
Tapi lelaki rudin itu tenang-tenang saja, tangan kiri memegang cawan arak
dan tangan kanan angkat pedang karatannya menangkis ke atas. Terdengar
“trang” sekali, Lui-lotoa tergetar mundur dan pedang sendiri tahu-tahu patah
menjadi dua.
Seketika semua orang melenggong kaget dan hampir-hampir tidak percaya
pada matanya sendiri.
“Hahahaha! Apa abamu sekarang?” Lelaki rudin itu terbahak-bahak sambil
mengelus, pedangnya yang karatan itu.
Tentu saja Lui-lotoa ternganga, katanya dengan tergegap, “Hebat, sungguh …
sungguh pedang hebat!”
“Tapi sayang pedang sehebat ini berada di tangan orang rudin macam diriku
ini,” ujar lelaki miskin itu dengan gegetun.
Mendadak sorot mata Lui-lotoa menjadi terang, katanya, “He, apakah sahabat
mau menjual pedangmu ini?”
“Sebenarnya juga ada maksudku untuk menjualnya, namun belum
mendapatkan pembelinya.”
“Eh, bagaimana kalau … kalau dijual padaku saja?” tanya Lui-lotoa dengan
bersemangat.
Lelaki itu mengamat-amati sejenak orang she Lui itu, lalu menjawab,
“Tampaknya kalian ini juga orang gagah dan cocok memiliki pedangku ini.
Cuma … cuma pandanganmu kurang tajam, belum lagi tentang harganya,
kira-kira kau berani bayar berapa?”
“Ah, ini mudah … mudah dirundingkan ….” Lui-lotoa kegirangan dan segera
mengumpulkan kawan-kawannya untuk berunding, mereka berempat tampak
merogoh saku dan coba menghitung-hitung bekal masing-masing.
Lelaki miskin tadi tetap duduk di tempatnya dan minum arak tanpa ambil
pusing akan tingkah laku Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.
Selang sejenak barulah Lui-lotoa mendekati lelaki itu dan berkata dengan
ragu-ragu, “Sobat, bagai … bagaimana kalau lima ratus tahil ….”
“Berapa?!” orang itu menegas dengan setengah mendelik.
Lekas-lekas Lui-lotoa berganti haluan, jawabnya, “O, bagaimana kalau …
kalau seribu tahil perak. Bicara terus terang, kami berempat sudah … sudah
menguras seluruh isi saku kami dan cuma dapat terkumpul sekian.”
Lelaki itu tampak termenung sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya
pedangku ini adalah pusaka yang sukar dinilai. Cuma kata peribahasa, bedak
halus dihadiahkan kepada si cantik dan pedang kudu diberikan kepada
ksatria …. Baiklah, jadi, seribu tahil perak kujual padamu.”
Khawatir orang menarik kembali keputusannya, cepat Lui-lotoa
mengumpulkan seluruh isi saku teman-temannya, lalu disodorkan ke depan
lelaki rudin itu sambil berkata, “Ini, seribu tahil kontan, silakan hitung.”
Tanpa hitung-hitung lelaki itu terus mengemasi seribu tahil perak itu dengan
sebuah kantong butut, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, tak perlu dihitung,
kupercaya penuh padamu. Nah, inilah pedangnya, silakan diterima. Senjata
mestika hanya cocok bagi pemiliknya yang bijaksana, selanjutnya kau harus
hati-hati menggunakannya, kalau tidak senjata mestika juga akan berubah

menjadi besi tua yang tak berguna ….”



sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

0 komentar:

Posting Komentar